close

HOME // JQH // Opini

Nabi Ibrohim Persasat Bapak Kulo

   Pada: Juli 28, 2020
Dr. H. M. Fatih Masrur, M.Fil.I (Dewan Pakar LPTNU Kab. Mojokerto Masa Khidmat 2018-2023. Katib Majelis Ilmi JQHNU Kab. Mojokerto Masa Khidmat 2020-2025. Kabid. SDM JHQ Kab-Kota Mojokerto Masa Khidmat 2016-2021. Pengasuh PPTQ An-Nawawiy, Mengelo Utara, Sooko Mojokerto)

 

إِنَّ أَوۡلَى ٱلنَّاسِ بِإِبۡرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِيُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۗ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٨

Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad SAW.), beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah pelindung orang-orang mukmin.” (QS. Ali ’Imron: 68)

Judul di atas adalah salah satu penggalan kalimat dalam talqin mayyit. Ungkapan tersebut menunjukkan kedekatan kita dengan Abul Anbiya’, Ibrahim alaihis salam. Dalam surat al-Hajj ayat 78, ditemui ungkapan: Millata Abiikum Ibrohim… yang menegaskan keberadaan Nabi Ibrahim sebagai bapak kita. Tentu yang dimaksud bukanlah bapak secara biologis, tetapi bapak secara spititual (rohani). Kanjeng Nabi Muhammad SAW. adalah laksana bapak bagi orang-orang beriman, sebagaimana isteri-isteri beliau merupakan ummahatul mukminin. Syeikh Mutawalli menyebut dengan istilah Ubuwwatu ’Amalin wa Ittibaa’in. Nabi SAW. adalah anak keturunan Ibrahim, sedangkan Nabi adalah laksana bapak bagi umatnya, sehingga Nabi Ibrahim merupakan bapak bagi umat Nabi SAW.  Dalam Tafsir al-Khozin diterangkan, jika khitab Millata Abiikum Ibrohim… ditujukan kepada orang-orang muslim, maka Nabi Ibrahim adalah bapak bagi seluruh orang muslim. Maknanya, kita wajib memuliakan dan menjaga hak-haknya sebagaimana kita wajib memuliakan seorang bapak.

Sosok Ibrahim memang begitu akrab melekat dalam keseharian kita. Nama Ibahim disebut 67 kali dalam Kitab Suci al-Qur’an, dan nama tersebut juga biasa kita sebut saat membaca tahiyyat akhir dalam shalat. Maqam Ibrahim, Hijir Ismail, sa’i antara bukit Shofa dan Marwa, melontar Jumroh, air Zam-zam, renovasi Pondasi Ka’bah, penyembelihan binatang Qurban, khitan, panggilan menunaikan haji, dan semisalnya merupakan ajaran dan syiar agama kita yang berkait erat dengan sejarah perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Kedekatan kita, umat Nabi SAW., dengan Nabi Ibrahim juga tampak dalam perintah Allah kepada Nabi SAW. agar mengikuti millah Ibrahim (QS. An-Nahl: 123), dan statemen Nabi SAW., “Aku adalah ijabah do’a kakekku Ibrahim..” (HR. al-Bazzar/4199). Dalam riwayat tentang kisah Isra’ Mi’raj, diterangkan bahwa di antara sekian banyak Nabi yang dijumpai oleh Kanjeng Nabi SAW., hanya Nabi Ibahim yang membacakan salam untuk umat Muhammad SAW. (HR. Tirmidzi/3462). Dari sini, maka ketika tahiyyat akhir dalam shalat, kita menyebut nama (mendoakan) Nabi Ibrahim, tidak Nabi-nabi yang lain. Secara garis nasab, Nabi kita adalah keturunan Ibrahim dari jalur Ismail ’alaihimas salam. Nabi SAW. bersabda, “Aku adalah putra dua orang yang disembelih”. Pertama, Sayyid Abdullah, ayah Nabi SAW. Kedua, Nabi Ismail alaihis salam. Dalam suatu riwayat, Nabi SAW. bersabda, “Aku berjumpa dengan Ibrahim, dan aku adalah anak keturunannya yang paling mirip dengannya” (HR. Muslim/168).

Dalam sebuah komunitas, umumnya seseorang dikenal menonjol hanya dalam aspek tertentu saja. Misalnya, Si Ahsin dikenal sebagai seorang yang santun. Ali Audah orang yang cerdas. Zidni orang yang ahli diplomasi. Hasbi orang yang kuat beribadah. Ella orang yang sangat dermawan. Emma orang yang teguh pendirian. Mufa orang yang sangat patuh. Zuhan orang yang sangat tegas. Isno orang yang sangat sabar, dan seterusnya. Hampir tidak ada orang yang dikenal menyandang berbagai kelebihan menonjol dalam dirinya, kecuali orang-orang tertentu saja. Pilihan Allah. Salah satunya adalah Ibrahim alaihis salam. Beliau disebut oleh al-Qur’an sebagai ummah (QS. An-Nahl: 120)

Menurut Prof. Quraish Shihab, kata ummah terambil dari kata amma – ya’ummu yang berarti menuju, menumpu dan meneladani. Dari akar kata ini lahir kata Umm yang berarti ibu dan Imam yang bermakna pemimpin, karena seorang ibu dan pemimpin menjadi tumpuan, harapan dan teladan. Dalam diri Nabi Ibrahim terhimpun sekian banyak sifat terpuji yang tidak dapat terhimpun kecuali melalui sekian banyak orang atau ummat. Syeikh Mutawalli Sya’rawi menyatakan, Nabi Ibrahim menempati kedudukan umat yang sempurna. Allah menganugerahkan berbagai sifat kesempurnaan manusia (kamaalaat basyariyyah) dalam diri setiap Rasul, sedangkan kepada manusia biasa Allah membagi-baginya dan tidak menghimpunnya pada satu orang. Misalnya sifat keberanian dianugerahkan kepada Si Fulan, sifat santun dan penyabar dianugerahkan kepada yang lain, sifat dermawan kepada orang lain lagi, kepada yang lainnya diberikan kecerdasan, dan seterusnya.

Dalam al-Qur’an, Allah SWT. mengapresiasi Nabi Ibrahim dengan segenap gelar dan pujian, antara lain sebagai kekasih Allah (an-Nisa’: 125), pemimpin (al-Baqarah: 124), Penyantun, lembut hati, banyak kembali kepada Allah (Hud: 75), teladan, patuh kepada Allah, hanif, orang yang bersyukur (an-Nahl: 120-121), orang yang sangat membenarkan (Maryam: 41), salah satu ulul azmi (al-Ahzab: 7), memiliki kekuatan dan ilmu yang tinggi (shad: 45), selalu memenuhi janji (an-Najm: 37). Nabi Ibrahim juga bergelar Bapaknya para Nabi (Abul Anbiya’) karena dari anak keturunannya terlahir ribuan Nabi, termasuk junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Beliau juga bergelar Bapaknya para Tamu (Abu adh-Dhuyuf) karena beliau sangat senang menerima dan memuliakan tamu, dan lain-lain.

Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub disebut Allah SWT. sebagai Ulil Aidiy wal Abshaar. Dalam tafsir ath-Thabari dijelaskan, Ulil Aidiy wal Abshaar artinya memiliki kekuatan dalam ibadah, ketaatan, keteguhan melaksanakan perintah Allah, ketajaman mata hati, kedalaman ilmu agama, dan kecerdasan dalam beragama dan melihat kebenaran. Menurut ar-Razi, tangan (al-Aidiy) adalah alat yang paling banyak dipakai bekerja/beramal, sedangkan penglihatan (al-Abshaar) adalah alat yang paling kuat untuk memperoleh pengetahuan. Jiwa berpikir manusia (an-nafs an-nathiqah al-insaniyah) memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan beramal (quwwah ‘aamilah) dan kekuatan mengetahui (quwwah ‘aalimah). Yang pertama membuahkan ketaatan kepada Allah SWT, sedang yang kedua membuahkan ma’rifatullah. Menurut ar-Razi, ungkapan Ulil Aidiy wal Abshaar mengisyaratkan kedua keadaan tersebut.

Penegasan Allah dalam surat Ali ’Imran ayat 68 di muka, bahwa orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi Muhammad SAW. beserta orang-orang yang beriman, sepatutnya disikapi secara tepat dengan meniru akhlak dan tuntunan yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim. Secara eksplisit Allah juga mewahyukan kepada Kanjeng Nabi SAW. untuk mengikuti dasar-dasar dan prinsip-prinsip millah Ibrahim. Di antaranya adalah komitmen menjaga tauhid, kesantunan dalam berdakwah, moderasi dan kemudahan dalam beragama, totalitas dalam menjalankan perintah Allah, memiliki kepedulian dan kepekaan sosial kepada sesama, berkontribusi untuk memajukan dan mensejahterakan bangsa, membina keluarga di atas rel agama, dan lain-lain. Semangat dan prinsip ajaran Nabi Ibrahim sama dengan agama dan ajaran yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Sebuah agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

Karakter agama yang demikian itu memungkinkan pemeluknya untuk berinteraksi dengan siapapun dalam berbagai percaturan dan level pergaulan untuk mewujudkan misi rahmatan lil ’alamin. Condong kepada kebenaran, tegas dan toleran, memuliakan manusia sebagai manusia, mengutamakan kemudahan, tidak mempersulit, dan mengedepankan prinsip ihsan. Mari kita respon titipan salam Nabi Ibrahim kepada kita (umat Nabi SAW.) dengan menebarkan salam, kedamaian, harmoni, dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip yang telah beliau teladankan. Semoga ungkapan “NABI IBRAHIM PERSASAT BAPAK KULO” menjadi inspiring and motivational words bagi kita untuk senantiasa membumikan prinsip dan teladan kehidupan beliau di bumi Allah ini  

Demikian, Wallohu A’lam, semoga bermanfaat.

Salam Sukses Bersama Al-Qur’an.

 

Daftar Bacaan :

Abu Ja’far ath-Thobari, Jaami’ul Bayan ’an Ta’wili Aayil Qur’an

Imam Fakhruddin ar-Rozi, Tafsir Mafatihul Ghaib

Imam al-Khozin, Lubabut Ta’wil fi Ma’aanit Tanzil

Syeikh Mutawalli asy-Sya’rowi, Tafsir wa Khwathir al-Imam al-Mutawalli asy-Sya’rowi

Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah

 

 

 

 

 

 

 


Sudah dibaca : 214 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.