close

HOME // JQH // Opini

Shalat Memang Berat, Tetapi Penuh Rahmat

   Pada: Juli 10, 2020

Kewajiban shalat diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi SAW. tanpa perantara Jibril, di tempat paling tinggi yang bisa dicapai oleh manusia dan pada waktu yang sangat mulia (Lailatal Mi’roj). Dalam logika sederhana kita, seorang pimpinan biasa menyuruh kurir/utusan untuk menyampaikan suatu tugas kepada bawahannya. Tetapi, untuk suatu perintah atau tugas besar yang sangat penting, pimpinan memilih bertemu sendiri dan menyampaikan langsung tugas/perintah tersebut. Semula, Allah mewajibkan 50 shalat sehari semalam, tetapi setelah “negosiasi” oleh Nabi SAW, shalat hanya diwajibkan 5 kali tetapi dengan pahala yang sama bahkan lebih.

Kewajiban shalat bersifat harian, sementara ibadah wajib lainnya bersifat tahunan seperti puasa ramadhan dan zakat, bahkan ada yang hanya satu kali seumur hidup, yaitu haji. Dalam ibadah shalat, terjadi proses munajat, dialog langsung penuh keintiman antara hamba dengan Tuhannya. Secara tersirat, Allah sebenarnya menghendaki kita sering “menghadap dan menjalin kedekatan” dengan-Nya. Maka, selagi hayat dikandung badan dan akal manusia berfungsi, kewajiban shalat tidak gugur dalam situasi dan kondisi apapun.

Dalam al-Qur’an, kata shalat diulang lebih dari 80 kali. Sekitar 48 kali di antaranya dirangkai dengan asal kata “iqoomatush sholaah” baik dalam bentuk fi’il madhi, mudhari’, amar maupun mashdar. Hampir seluruh mufassir menjelaskan, makna “iqoomatush sholaah” bukanlah sekedar mengerjakan shalat.

Syeikh ‘Ali Ash-Shobuni dalam Shofwatut Tafaasiir menjelaskan bahwa makna kalimat “wa yuqiimuunash sholaah” adalah menunaikan shalat dengan menyempurnakan syarat-syarat, rukun-rukun, khusyu’, dan adab-adabnya. Beliau lalu mengutip statemen Ibnu ‘Abbas, bahwa makna “iqoomatush sholaah” adalah menyempurnakan ruku’, sujud, bacaan al-Qur’an, dan khusyu’.

Imam Nawawiy al-Banteni dalam Marooh Labiid menafsirkannya dengan menyempurnakan shalat lima waktu beserta syarat-syarat, rukun-rukun, dan haiat-haiatnya. Syeikh Wahbah az-Zuhailiy dalam Tafsir al-Muniir menyatakan: menunaikan shalat dengan menyempurnakan syarat-syarat, rukun-rukun, adab-adab dan khusyu’nya. Shalat tanpa disertai kekhusyuan dan renungan atas bacaan-bacaan dalam shalat serta rasa takut kepada Allah laksana tubuh tanpa ruh. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim mengutip pendapat Imam Qotadah, bahwa makna “iqoomatush sholaah” adalah mengerjakan shalat dengan menjaga waktu-waktunya, wudhunya, ruku’ dan sujudnya. Sedangkan dalam Tafsir Jalalain diuraikan sebagai menjalankan shalat dengan memenuhi hak-haknya.

Berdasarkan uraian di atas, nyata bahwa shalat bukanlah perkara ringan yang bersifat rutinitas semata. Mungkin, inilah rahasia mengapa Nabi SAW. memerintahkan para orang tua supaya menyuruh anak-anaknya shalat sejak usia 7 tahun padahal pada usia tersebut anak belum wajib shalat, bahkan boleh memukulnya karena meninggalkan shalat ketika umur 10 tahun. Bisa jadi, hal tersebut diharapkan menjadi semacam lahan exercise bagi anak agar mereka terbiasa menjalankannya secara kontinyu dan benar saat telah menjadi mukallaf. Dalam surat al-Baqoroh ayat 45, Allah telah menegaskan bahwa shalat itu memang berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (al-Khoosyi’uun). Menurut Syeikh Mutawalli asy-Sya’rowi, al-Khoosyi’ adalah orang yang patuh-tunduk kepada Allah, menjauhi perkara-perkara haram, dan bersabar atas segala ketentuan, karena sadar bahwa segala perkara berada dalam kekuasaan Allah semata, dan meyakini bahwa kelak ia akan bertemu dan kembali kepada-Nya.

Meskipun berat, pensyariatan kewajiban shalat 5 waktu tidaklah lepas dari rahmat kasih sayang Allah kepada manusia. Dari 24 jam sehari semalam, Allah hanya mewajibkan kita mengerjakan 17 rokaat, yang jika diakumulasikan waktunya tidak menghabiskan 1 jam, sebuah durasi waktu yang bagi sebagian kita lebih pendek dari saat kita nongkrong di warung kopi atau bersantai dan bercengkrama dengan teman dan kerabat.

Secara umum, waktu-waktu shalat juga tidak menghalangi kita berkarya dan beraktifitas dalam segala bidang. Shubuh adalah saat kita belum memulai aktivitas sesudah istirahat malam. Dzuhur adalah saat di mana kita rehat dan jeda dari pekerjaan. Ashar dan maghrib adalah waktu saat kita hendak dan telah usai bekerja. Dan Isya’ adalah waktu yang panjang. Itulah kewajiban shalat. Berat memang, namun Allah sedikitkan jumahnya, bilangan rakaatnya, dan durasi waktunya, tetapi Dia besarkan pahala dan keutamaannya.

Dalam hadits riwayat Abu Dawud, Turmudzi, Hakim, Daruquthni, Baihaqi dan lain-lain dikemukakan beberapa riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dan Jabir bin Abdullah, bahwa malaikat Jibril mengimami Nabi SAW. shalat lima waktu di Baitullah selama dua hari dalam rangka menunjukkan kepada Nabi SAW. batas-batas waktu masing-masing shalat lima waktu, baik permulaan waktu maupun akhirnya. Demikian pula ketika seorang shahabat bertanya kepada Nabi SAW. tentang waktu shalat. Beliau bersabda, “Shalatlah bersama kami dua hari ini…,” beliau ajarkan kepadanya seperti cara Jibril mengajarkan kepada beliau, sebagaimana diriwayatkan oleh Buraidah dalam hadits riwayat Muslim.

Shalat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang mukmin (QS. An-Nisa’ : 103). Shalat pada waktunya, lebih-lebih di awal waktu, menggambarkan respon kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Sebaliknya, shalat di akhir waktu atau bahkan meninggalkannya adalah bentuk pengabaian atas Sang Pemberi Perintah. Dari sini maka Nabi SAW. bersabda, salah satu amal yang paling utama adalah shalat pada waktunya. Seyogyanya, hal demikian itu mampu menanamkan nilai-nilai dalam diri seorang mukmin tentang pentingnya menghargai waktu, kedisiplinan, dan taat peraturan. Dalam berbagai ibadah dan perintah agama, terkandung banyak sekali hikmah dan nilai-nilai yang sepatutnya diambil oleh pelakunya, sehingga setiap ibadah yang dikerjakan memberi efek atau atsar yang positif dan konstruktif dalam kehidupan sehari-hari. Tak terkecuali bahkan lebih-lebih ibadah shalat yang disabdakan oleh Nabi SAW. sebagai tiang agama.

Menurut Syeikh Ibrahim al-Baijuri, kebanyakan ulama berpendapat bahwa ketentuan waktu shalat lima waktu bersifat ta’abbudi, artinya harus diikuti tanpa perlu mempertanyakan alasan di balik penetapan syara’ tersebut. Namun, sebagian ulama, lanjut beliau, berpendapat bahwa waktu-waktu shalat itu menggambar fase-fase pertumbuhan dan perkembangan manusia, sejak janin hingga masuk liang lahat. Terbitnya fajar adalah persiapan dan pengantar terbitnya matahari. Ia merupakan simbol pertumbuhan janin dan persiapan kelahirannya, sementara terbitnya matahari laksana kelahirannya, shalat shubuh diwajibkan pada waktu tersebut untuk mengingatkan manusia atas fase itu.

Meningginya matahari laksana fase pertumbuhan manusia. Saat matahari istiwa’ adalah fase remaja, dan tergelincirnya matahari adalah fase dewasa. Shalat dzuhur diwajibkan di waktu ini untuk mengingatkan fase tersebut. Fase tua laksana matahari yang hampir terbenam, dan terbenamnya matahari menjadi simbol kematian manusia. Pada kedua waktu itulah kita diwajibkan shalat ashar dan maghrib. Dan, hilangnya mega merah dari cakrawala langit menandai rusak dan hilangnya jasad manusia dalam perut bumi. Pada waktu tersebut Allah mewajibkan kita shalat Isya’ untuk mengingatkan adanya fase tersebut.

Selain hikmah yang diuraikan di atas, sebenarnya masih banyak hikmah-hikmah lain yang telah digali dan dikemukakan oleh para ulama. Apapun itu, yang jelas shalat memang memiliki keterkaitan erat dengan fase-fase kehidupan manusia. Dari lahir hingga meninggal dunia. Ketika terlahir di dunia ini, adzan yang merupakan panggilan shalat itu dikumandangkan di telinga kanan kita dan iqamah di telinga kiri kita. Begitu pula, saat meninggal dunia, adzan pun dikumandangkan. Ini mengandung isyarat penting, bahwa shalat yang disimbolkan oleh kumandang adzan tersebut merupakan bekal dan modal untuk meraih sukses dan bahagia, di dunia dan akhirat.

Robbij’alnii Muqiimash Sholaati wa min Dzurriyyati……

Semoga bermanfaat, Wallohu A’lam bish Showaab.

 

Penulis : Dr. H. M. Fatih Masrur, M.Fil.I

(Dewan Pakar LPTNU Kab. Mojokerto Masa Khidmat 2018-2023. Katib Majelis Ilmi JQHNU Kab. Mojokerto Masa Khidmat 2020-2025. Kabid. SDM JHQ Kab-Kota Mojokerto Masa Khidmat 2016-2021. Pengasuh PPTQ An-Nawawiy, Mengelo Utara, Sooko Mojokerto)

 

Daftar Bacaan :

Imam Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim

Syeikh Mutawalli asy-Sya’rowi, Tafsir wa Khwathir al-Imam al-Mutawalli asy-Sya’rowiy

Syekh Nawawiy al-Banteni, Maroh Labiid li Kasyfi Ma’na al-Qur’an al-Majid

Syeikh ‘Ali Ash-Shobuni, Shofwatut Tafaasiir

Syekh Wahbah az-Zuhailiy, Tafsir al-Munir

Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir al-Jalalain

Syeikh Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah asy-Syeikh Ibrahim al-Baijuri ‘ala Syarh al-‘Allamah Ibnul Qosim al-Ghozzi ‘ala Matni asy-Syeikh Abi Syuja’

 

 

 

 

 

 

 

 


Sudah dibaca : 236 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.