close

HOME // Sejarah

Gus Fudin, “Gus Dur”-nya Mojogeneng

   Pada: Juni 30, 2020
Gus Fudin, Gus Toni dan Gus Sobiri
Gus Fudin, Gus Toni dan Gus Sobiri

Gus Fudin, yang memiliki nama panjang Saifudin Yahdi, adalah salah satu putra dari 12 anak KH. Yahdi Mathlab, pendiri PP. Bidayatul Hidayah Mojogeneng. Diantara saudara-saudaranya, ia memiliki perbedaan yang mencolok. Sejak kecil ia ditakdirkan Allah tidak bisa melihat (tuna netra). Cerita dari Gus Toni, Gus Fudin waktu kecil mata sebelahnya ada yang bisa melihat walau remang remang. Sedang sebelahnya lagi, tidak bisa melihat sama sekali. Hingga pada suatu saat, ketika hujan turun dengan sangat deras disertai angin kencang, Gus Fudin yang sedang berlari-lari, tiba-tiba tubuhnya menabrak sebuah pohon besar berduri dan mengenai matanya  akibatnya kedua matanya tidak bisa melihat sama sekali.

Gus Fudin lahir pada tanggal 14 Agustus 1967. Ia lahir bersamaan dengan tumbuh berkembangnya Pesantren Bidayatul Hidayah, asuhan ayahnya, KH. Yahdi Mathlab. Pesantren Bidayatul Hidayah ini, setelah kejadian G 30 S PKI, menjadi jujugan para santri untuk belajar ilmu agama. Pada tahun 1966-1969, jumlah santri sudah mencapai 750 orang.

Dasar-dasar ilmu agama, ia peroleh dari KH. Yahdi Mathlab sendiri. Juga dari para santri senior yang menjadi ustad di pesantren Bidayatul Hidayah. Pernah mengenyam pendidikan Formal di Madrasah Ibtidaiyah di Lingkungan Mojogeneng sendiri. Hanya saja, ia hanya sampai dikelas dua. Setelah itu, KH. Yahdi Mathlab memutuskan untuk mengirim Gus Fudin “Nyantri” di PP. Tebuireng, Jombang. Dari tahun 1978 hingga 1984. Pada waktu itu pengasuhnya adalah KH. M. Yusuf Hasyim.

Hanya saja ada pengakuan menarik dari Gus Fatoni, bahwa Gus Fudin, diawal mondok, sebenarnya dititipkan pamannya yakni Gus Mundir dan kakaknya, Gus Shobiri. Sayangnya keduanya sekitar dua bulan berikutnya telah boyong dari PP. Tebuireng. Akhirnya kepengasuhan Gus Fudin diserahkan ke Gus Fatoni. Gus Fatoni, yang merupakan adik misanan itu, yang kemudian merawat dan mengajar membaca serta menghafalkan al-Quran.

“Setelah boyongnya Man Mundir dan Gus Shobiri, Gus Fudin diserahkan ke saya. Saya yang kemudian merawatnya dan juga mengajarkan al-Quran” terang Gus Fatoni.

Tak sekadar menghafal al-Quran, Gus Fudin yang cerdas, meminta untuk dibimbing pula, menghafal beberapa kitab-kitab kecil yang diajarkan di pesantren. Termasuk pula diba’, burdah, manakib, dan lain lain. Hanya saja, ucap Gus Fatoni, dirinya kala itu, sudah sangat repot, belum lagi persiapan untuk menuju Syiria, usai ia memenangkan juara dua Lomba MHQ tingkat Internasional. Karenanya ia tak menuruti semua permintaan Gus Fudin. Satu hal yang kemudian dituruti setelah selesainya Gus Fudin Mondok ke Qudus pada tahun 1985 hingga tahun 1988 dibawah asuhan KH. Arwani Amin, yakni mengantarkannya untuk belajar huruf braille ke Jogjakarta.

Menurut Gus Fatoni, lembaga pendidikan yang mengajarkan huruf Braile di Jogjakarta itu bernama Sekolah Yakatunis. Sayangnya setelah ditemui pengurusnya, sekolah itu hanya diperuntukkan bagi warga Yogyakarta sendiri. Tetapi setelah bernegosiasi, akhirnya Gus Fudin diizinkan untuk belajar. Dan Gus Fudin mampu menguasai huruf braille selama satu bulan yang biasanya ditempuh oleh orang kebanyakan selama enam bulan.

Usai melakukan pengembaraan mencari ilmu, Gus Fudin kembali ke PP. Bidayatul Hidayah. Ia mentashihkan hafalan al-Qurannya ke KH. Yahdi Mathlab sebelum beliau meninggal dunia pada tahun 1991. Berdasarkan pengakuan Ustad Suud Amin, Gus Fudin kerap kali mengkhatamkan al Quran. Kadang satu minggu sekali, tiga hari bahkan bisa satu hari bisa langsung khatam al-Quran. Pun saat ia diperintah untuk riyadoh oleh KH. Yahdi Mathlab ke makam makam para wali, satu kali duduk, beliau bisa sampai mengkhatamkan al-Quran. Karena kuatnya riyadoh dalam membaca al-Quran, dengan disaksikan orang banyak, Gus Fudin, seperti posisi dibaiat, diberi sanad Tahfidz Al-Quran oleh KH. Yahdi Mathlab, yang sebelumnya, belum ada yang diberi hak istimewa ke-sanadan dalam hafalan al-Quran. Selain belajar pada guru guru al-Quran, Gus Fudin juga mengaku, dalam catatan diarynya, kalau ia belajar murotal al-Quran juga berasal dari kaset kaset piringan hitam yang berasal dari Mesir.

###

Prestasi bidang al-Quran

Walaupun Gus Fudin memiliki kekurangan dalam penglihatan, tetapi tidak mengurangi pencapaian prestasi yang ia torehkan. Pada tahun 1984, ia berhasil memperoleh juara II Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) Juz 1-30 se-Pesantren Tebuireng. Dan pada tahun yang sama, ia mewakili Kabupaten Mojokerto tampil di MTQ se-Jawa Timur yang ditempatkan di Magetan. Walaupun tidak memperoleh juara, tetapi tampilnya Gus Fudin diajang itu, menjadi prestise tersendiri sebagai Hafidz yang diakui.

Pada tahun 1990, Gus Fudin menjadi juara I MHQ Juz 1-30 mewakili Kotawaringin Barat di Kalimantan Barat. Dua tahun berikutnya, Gus Fudin menjadi juara I Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta.

Pada saat kompetisi itu, kata Ustad Suud Amin, pesertanya dari berbagai kalangan. Dari mahasiswa, ustad, Kiai, bahkan ada yang berasal dari jawara jawara al-Quran yang malang melintang dalam Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ)Internasional. Tetapi toh yang memenangkannya adalah Gus Fudin. Dari kemenangan itu, berbuah dengan diterbangkannya Gus Fudin ke Saudi Arabia untuk menjalankan ibadah umrah.

Prestasinya yang gemilang itu, mengantarkannya pula banyak memenuhi undangan diberbagai daerah untuk memberikan pembinaan dalam Musabaqah Hifdzil Quran. Seperti di Kalimantan yang selalu menjadi langganan dalam pembinaan bibit bibit peserta Musabaqah Hifdzil Quran.

Gus Fudin Yang Multitalenta

Gus Fudin selain mendalami ilmu al-Quran, juga suka menggeluti berbagai bidang lainnya, seperti sastra, elektro, mesin, musik, dan lain lain.

“Gus Fudin itu meskipun tidak bisa melihat, saat ada mesin mobil rusak, ia bisa menjelaskan dengan sangat baik letak kerusakannya. Pun dengan mesin mesin yang rusak, kerap beliau yang memperbaiki dengan dibantu santri untuk menerima petunjuknya. Pun dengan sound system, beliau faham betul menyeimbangkan suara sehingga enak terdengar” tukas Kang Rokhim, santri dan sopirnya zaman dulu.

Kepiawian Gus Fudin menabuh rebana

Bahkan Gus Fudin-lah yang membuatkan radio untuk Pondok Mojogeneng. Ia kerap mengudara dengan nama samaran, sebagai pembawa acaranya, dengan nama Kanda Qurtuby. Ia kemudian memutar Ngaji al-Quran, shalawat, lagu lagu dan lain lain.

“Radio biasanya akan sangat sering diputar pada bulan ramadan. Sebelum maghrib dan sebelum sahur. Biasanya diisi dengan ngaji, shalawat dan juga pengumuman pengumuman sekitar kegiatan Pesantren” tukas Abdur Rokhim.

Selain itu, Gus Fudin juga penyuka sastra, banyak puisi yang ia torehkan di catatan hariannya.

“Gus Fudin itu sering menggambarkan suasana hatinya dengan bait bait puisi. Dan yang kami kenang pula, beliau kalau sudah melagukan burdah, kita semua seakan tersihir. Haru biru dan meneteskan air mata, ada rasa rindu menyusup dalam hati seluruh santri yang mendengarkannya” ujar Ning Rifah.

“Gus Fudin juga suka musik. Tapi musik yang paling disukainya adalah lagu lagunya Umi Kulsum. Gus Fudin sering mendengarkan lagu Umi Kulsum dari piringan hitam” imbung Ning Rifah.

Ning Muharwilah punya kenangan tersendiri tentang kemampuan bermusiknya Gus Fudin,

“Gus Fudin itu hafal lagu lagunya Rhoma Irama. Juga lagu lagunya Umi Kulsum. Bahkan lagu lagu burdah yang saya bawakan saat rekaman, beliaulah yang membimbing saya” Ujar Ning Muharwilah, santri yang dianggap adik sendiri oleh Gus Fudin kala dulu.

Gus Fudin sangat mengagumi Gus Dur, ia kerap kali mendengarkan kisah kisah Gus Dur termasuk khabar terbaru sepak terjang Gus Dur, selalu ia ikuti. Saat Gus Dur hadir di Jatirejo, Gus Fudin hadir untuk mendengar ulasan ulasan Gus Dur tentang perpolitan Nasional. Sayangnya dalam diary Gus Fudin, tidak banyak mengulas pemikiran Gus Dur. Ia hanya bercerita tentang kejadian langka di atas panggung. Seng yang menutupi panggung, jatuh dan hampir mengenai Gus Dur.

Selain Gus Dur, tokoh yang dikagumi Gus Fudin adalah Cak Nun. Setiap kali Cak Nun mengisi Padhang Bulan di Menturo, Gus Fudin sering hadir untuk mendengar ulasan ulasan cerdas dari budayawan kondang itu. Dalam diary-nya, Gus Fudin kerap menceritakan dengan gamblang mimpi mimpi beliau dengan Cak Nun dan Mbak Koloviapaking.

“Saya yang mengantar Gus Fudin ikut Padang Bulan di Menturo. Gus Fudin sering langsung menemui Cak Nun di Ndalem beliau. Mereka berdiskusi tentang banyak hal” terang Abdur Rokhim.

Kesinambungan pemikiran antara Gus Dur dan Cak Nun dalam diri Gus Fudin tidak mungkin bisa terhubung apabila tidak memiliki daya intelektual yang seirama. Daya intelktual selain menyerap dengan mendengarkan uraian kedua tokoh itu, Gus Fudin juga mengimbanginya dengan rajin membaca. Selain buku buku braille, Gus Fudin juga membaca buku pada umumnya. Santri santrinya kerap membacakan buku kepada Gus Fudin. Dan diantara buku buku yang paling sangat diminatinya adalah buku sejarah, khususnya babad tanah jawa.

Gus Fudin juga kerap mengikuti diklat diklat. Baik dalam bidang al-Quran maupun bidang lainnya. Pada tahun 1994, Gus Fudin tercatat sebagai peserta ujian diklat metode Qiroati yang diselenggarakan oleh LP. Maarif Kabupaten Mojokerto. Pada tahun 1995, Gus Fudin juga ikut sebagai peserta penataran P 4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila) se-Kabupaten Mojokerto, sebuah diklat yang diajarkan kepada warga negara untuk menguatkan nasionalisme pada era Suharto.

Karena luasnya pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki oleh Gus Fudin, maka orang-orang menggelarinya dengan gelar “Gus Durnya Mojogeneng”. Selain tentu, mungkin, karena ada kemiripan “fisik”.

Pembelajaran Al Quran ala Gus Fudin

Setelah meninggalnya KH. Yahdi Mathlab, kepengasuhan PP. Bidayatul Hidayah diasuh oleh KH. Sobiri. Gus Fudin sendiri, sesuai wasiat dari KH. Yahdi Mathlab, dipasrahi untuk mengelola Asrama Ashomadiyah dan Asrama As-Syifaiyyah. Asrama Ashomadiyah untuk santri perempuan, sedangkan Asrama As-Syifaiyah untuk santri laki laki.

Di tangan dingin Gus Fudin, kedua asrama pondok itu berubah total. Fokus pembelajaran dikedua asrama itu diutamakan ke pembalajaran Tahfidz Al Quran. Dan pembelajaran Tahfidz al Quran ini, menurut Gus Fatoni, mirip seperti metode Qudus. Sedang menurut Ustad Suud Amin, yang waktu itu merupakan Lurah Pondok, pembelajaran Gus Fudin itu gabungan antara pembelajaran di PP. Tebuireng, KH. Arwani Qudus dan KH. Yahdi Mathlab.

Gus Fudin saat memberi sambutan di MBQ dan MHQ
Gus Fudin memberi sambutan pada MBQ dan MHQ di PP. Bidayatul Hidayah

Menurut Ning Rifah, pembelajaran tahfidz yang diajarkan oleh Gus Fudin sangat menekankan makhrorijul huruf. Pembacaannya pun harus dikeraskan dan dilantangkan. Santri tidak boleh menghafal al-Quran, apabila cara baca al Quran masih bermasalah. Karenanya tidak sedikit santri yang membaca al Quran bin nadhor bisa berbulan bulan. Ning Rifah sendiri mengaku ada temannya setoran membaca al-Quran bin nador sampai tiga tahun, dan setelah itu baru diizinkan untuk menghafal al-Quran.

“Pembelajaran Gus Fudin itu memang menggunakan standar tinggi. Santri yang belum tuntas di tajwid dan makhorijul huruf tidak boleh langsung menghafal al-Quran. Setelah cara membacanya benar, baru diperbolehkan menghafal. Teman saya setor al Quran bi nador saja sampai tiga tahun. Setelah itu baru diizinkan menghafalkan al-Quran” ucap Ning Rifah, putri dari almarhum KH. Nur Kholis Klinterejo.

Berbeda dengan Ustad Suud Amin, ia dipaksa menghafal al-Quran oleh Gus Fudin. Padahal kala itu, ia fokus mondok menguasai kitab kuning. Tetapi Ustad Suud Amin, menurut perintah Gus Fudin, untuk menghafal. Dan beberapa tahun kemudian, ia berhasil menghafal al-Quran sampai 30 Jus.

“Gus Fudin memaksa saya untuk menghafal al-Quran. Padahal menghafal al-Quran ke Gus Fudin itu sulit. Standar Fasohah Arobiyah-nya tinggi. Tetapi entah pertimbangan apa, barangkali basyirah beliau memandang saya bisa menghafal al-Quran. Dan alhamdulillah akhirnya saya berhasil menghafal al-Quran” terang Ustad Suud Amin dikediamannya, Perumahan Japan Raya.

Ning Khomsatun memiliki pengalaman berbeda. Mubalighah asal Surabaya ini mengaku bila pembelajaran Gus Fudin kepada dirinya sangat berarti saat ia mengajarkan al-Quran kepada santri santrinya,

“Pembelajaran al-Quran Gus Fudin sangat luar biasa. Dan sampai saat ini saya tularkan ke anak anak saya dan santri santri yang saya ajar. Gus Fudin menekankan agar membaca al-Quran harus terang dan jelas. Pun saat setor hafalan, cara bacanya pun harus terang dan jelas. Dan itu membutuhkan mental yang kuat” papar Ning Khomsatun.

Ning Bidah, keponakan Gus Fudin, mengaku, kadang Gus Fudin dalam mengajar menghafal al-Quran kepadanya, sampai disuruh mengulang dua puluh lima kali.

“Saya setoran hafalan Al-Quran kepada Gus Fudin, tidak akan disuruh berhenti, sebelum mengulang dua puluh lima kali. Saya juga tidak diperbolehkan pulang ke rumah, dan juga bepergian serta melihat TV sebelum saya hafal seluruhnya” akunya.

###

Selain menekankan kualitas pembelajaran, Gus Fudin juga sangat menekankan tertib administrasi. Setiap anak yang setor hafalan al-Quran dicatat dan diberi nilai. Dan setiap semester akan diberikan raport penilaian dari seluruh pembelajaran al-Quran. Hingga selesai seluruh khatam al-Quran, maka santri akan diuji semalam suntuk untuk membaca al-Quran sampai 30 Juz. Apabila sudah selesai, maka akan diwisuda layaknya mahasiswa yang menempuh akhir kuliahnya.

“Gus Fudin meskipun tak bisa melihat, tetapi beliau sangat tertib administrasi. Semua teratur, dan disiplin. Masing masing anak ada buku penilaiannya, dan juga raport. Sampai diadakan pula wisuda khusus yang telah berhasil mengkhatamkan al-Quran, saat di Mojogeneng belum ada acara wisuda” tukas Ning Rifah.

Gus Fudin menerima setoran hafalan al-Quran

Sebagai lurah Pondok kala itu, Ustad Suud Amin juga mencatat perkembangan Asrama As-Shomadiyah dan As-Syifaiyyah dibawah asuhan Gus Fudin. Gus Fudin telah menunjukkan perkembangan yang pesat dengan berbagai gebrakan gebrakan.

“Gus Fudin itu memiliki pandangan wasathiyah. Saat semua pengasuh tidak setuju pendirian sekolah formal, Gus Fudin mampu memberikan argumen history yang pada akhirnya mewujudkan berdirinya sekolah formal dilingkungan Mojogeneng. Ide ide dari Gus Fatoni untuk memajukan Pondok, juga diterima. Baik Gus Fatoni dan Gus Fudin mampu berkolaborasi dengan baik. Dan kemudian memampukan pondok Mojogeneng dikenal bahkan bisa bersaing dalam MTQ baik tingkat propinsi maupun Nasional bersanding erat dengan PP. Tebu Ireng kala itu” terang Ustad Suud Amin.

Santri-santri Mojogeneng di era Gus Fudin, sering tampil dipentas MTQ baik tingkat regional maupun Nasional. Mereka sering menjadi langganan juara. Kadang juga banyak diantara mereka yang dipinjam daerah lain untuk tampil menjadi utusan dari daerah tersebut.

Contoh Ustad Suud Amin, Ning Muharwilah, Ning Khomsatun dan lain lain adalah santri yang telah melalang buana dalam event event MTQ diberbagai daerah. Bahkan kini mereka adalah tokoh tokoh berpengaruh dalam bidang al-Quran

Gus Fudin Yang Ahli Dzikir dan Ziarah

Gus Fudin merupakan orang yang ahli ziarah. Dari makam  satu ke makam lainnya. Baik makam waliyullah maupun seorang kiai. Dalam catatannya, saat berkunjung di PP. Tebuireng Jombang, di makam KH. Hasyim Asyari, Gus Fudin bisa semalam suntuk berziarah. Ia akan membaca al-Quran dan dzikir dzikir yang sangat panjang hingga fajar shodiq menjelang.

Hari harinya, saat aktivitas menerima setoran hafalan dari santri santrinya, Gus Fudin senantiasa mendawamkan dzikir dengan nominal hingga puluhan. Pun bada shalat maktubah, Gus Fudin bisa berjam jam hanya untuk menyelesaikan dzikir dzikirnya.

“Gus Fudin itu kalau berdzikir bisa sampai berjam jam. Biasanya kalau berdzikir itu jari jari kakinya diberi tanda karet. Kalau dzikirnya banyak, maka kakinya penuh dengan karet karet” tutur Abdur Rokhim, santri Gus Fudin yang kini tinggal di Gebangmalang.

Biasanya dzikir yang dibaca oleh Gus Fudin antara lain berupa istiqfar, asmaul husna, al Fatihah, dan shalawat yang dibaca puluhan kali. Pun hizib hizib, Gus Fudin senantiasa membaca hizb itu berkali kali dalam waktu seharian. Ia bisa membaca hizb Nasr, Hizb Bahr dan lain lain sampai lima hingga enam kali dalam satu kali duduk.

Gus Fudin dimata Santrinya

“Bagi saya Gus Fudin itu seorang pembimbing, bapak, sahabat, juga bisa menjadi teman bercanda” tutur Ustad Suud Amin.

Menjadi pembimbing sebab Gus Fudin adalah pengasuh yang membimbing santri santrinya untuk sukses belajar al-Quran. Tetapi sekaligus pula, Gus Fudin memposisikan diri sebagai teman, sebab selain usianya tak bertaut terlalu jauh dengan santri santrinya, juga pribadinya yang tak ingin berjarak dengan santrinya.

Bagi Ning Muharwilah, Gus Fudin seperti kakak. Sebab Gus Fudin sendiri ingin dianggap kakak oleh Ning Muharwilah. Bagi Abdurohim, Gus Fudin itu seperti teman dekat. Selama menjadi santri, Abdurohim selain mengaji juga menjadi sopir yang mengantarkannya kemana mana. Ia juga menjadi tempat curhat dan juga tempat mencurahkan segala penat aktivitas sehari hari.

“Meskipun kita dekat, tetapi jarak antara guru dan murid tetap ada. Dan berkah dari Gus Fudin sangat banyak saya rasakan saat ini. Terutama ketika hidup ditengah masyarakat. Ajarannya benar benar menjadikan kita siap untuk memanfaatkan ilmu” terang Abdurrahim.

Pun bagi Kang Mustofa, ia meskipun masih kerabat dengan Gus Fudin, tetapi menganggap bahwa Gus Fudin adalah guru yang paling ia hormati. Berbagai keperluan sehari hari, ia yang merawatnya. Mulai dari mengantar mandi, hingga urusan lain lain.

Yang dikenang dari Gus Fudin oleh Ning Nurul adalah penolakannya Gus Fudin pada dirinya yang hendak setor hafalan al-Quran, tetapi ia belum mandi. Gus Fudin hanya mau menerima setoran santri yang sudah mandi dan berbau harum.

Ning Khomsatun, yang asli arek Suroboyo, memahami unggah ungguh kesopanan dari Gus Fudin. Ia bercerita, saat ditanya Gus Fudin,

“Ini siapa?”

“Ini Mbak Khomsatun” jawab Ning Khomsatun.

Lalu Gus Fudin memarahinya. Sebab kepada dirinya sendiri tidak boleh memanggil Mbak. Baru kepada orang lain diperbolehkan memanggil Mbak. Kenangan itu ia bawa hingga saat ini menjadi seorang mubalighah terkenal di Kota Pahlawan itu.

Ning Muyasaroh yang merupakan teman bermain Gus Fudin, justru menganggap Gus Fudin itu orang yang bijak. Sebab perlakuan kepada dirinya itu berbeda. Ia dipercaya oleh Gus Fudin sebagai bendahara Pesantren. Karenanya saat setoran, ia kerap ketinggalan. Namun demikian, ia tidak pernah terkena marah dari Gus Fudin.

Saat Gus Fudin Mangkat

Dengan beberapa inovasi dalam pembelajaran al-Quran, pun dengan manajemen yang ditata rapi, menjadikan PP. Ashomadiyah dan PP. Asyifaiyah menjadi icon pesantren al-Quran di Mojokerto. Bahkan dalam beberapa event MTQ, santri santrinya mampu bersaing dengan pesantren pesantren besar lainnya.

Out put dari Pesantren dibawah asuhan Gus Fudin juga sangat menggumkan. Banyak alumni menjadi tokoh dibidang al-Quran. Untuk menyebut Ustad Suud Amin yang menjadi Majelis Ilmi PC. JQH NU Kab. Mojokerto. Pun dengan Gus Abdurahim, Gus Mustofa, Ning Rifah, dan lain lain, menjadi tokoh tokoh berpengaruh di tengah masyarakat.

Gus Ilham dan Gus Roqi
Gus Ilham dan Gus Roqi

Dengan keberhasilan itu, maka PP. As-Shomadiyah dan PP. As-Syifaiyah menjadi rujukan dalam pembelajaran Tahfidz al-Quran. Banyak santri santri yang ingin belajar ke Gus Fudin. Baik untuk menghafal al-Quran atau untuk setor membaca al-Quran binador.

Namun, disaat menikmati masa keemasan itu, bertepatan tanggal 17 Januari 2005, Gus Fudin dipanggil Allah keharibaannya, meninggalkan istri dan dua anaknya, Gus Ilham dan Gus Roqi serta santri santrinya.  Semua orang merasakan sedih ditinggal guru al-Quran yang dekat dengan santri santrinya tersebut.

Bu Nyai Mustafrida, Istri Gus Fudin, merasakan kesedihan tiada tara. Namun ia harus terus berjuang menepaki kehidupan selanjutnya. Gus Ilham dan Gus Roqi yang menjadi amanahnya serta santri santrinya, dengan kesabaran tinggi, terus ia didik dan dibimbing melanjutkan cita cita Gus Fudin.

Kini Gus Roqi, putra Gus Fudin, telah menjadi icon baru dalam vokalis shalawat. Ia telah pernah disandingkan dengan Habib Syekh, juga dengan Kiai Kanjeng dan Cak Nun. Semua orang mengagumi keindahan suaranya, serta hafalan hafalannya baik Al-Quran maupun kitab kitab pesantren. Melihatnya seperti melihat sosok Gus Fudin.

 

Ditulis oleh Isno (Ketua LTN NU Kab. Mojokerto)

Sumber :

  1. Catatan Harian Gus Fudin dari tahun 1995-1998
  2. Wawancara dengan Ustad Suud Amin, Ustad Abdurahim, Gus Mustofa, Bu Nyai Mustafrida, Ning Rifah, Ning Bidah, dan santri santri awal Gus Fudin, di Pesantren al-Qurtubi dan ditindaklanjuti dirumah beberapa santri lainnya.

Sudah dibaca : 1651 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.