close

HOME // Opini // Pendidikan

Wajah Pendidikan Ditengah Pandemi Yang Tak Berkesudahan

   Pada: Juni 5, 2020

Sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara nasional mulai tanggal 16 Maret 2020, akibat dari semakin banyaknya daerah-daerah yang masuk zona merah dalam penyebaran wabah, membuat model pendidikan yang ada di Indonesia berubah arah yang semula adanya kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah, sekarang semua itu diganti dengan pembelajaran bersifat online (online learning). Sebuah Sejak kebijakan belajar dari rumah diterapkan secara nasional mulai tanggal 16 Maret 2020, akibat dari semakin banyaknya daerah-daerah yang masuk zona merah dalam penyebaran wabah, membuat model pendidikan yang ada di Indonesia berubah arah yang semula adanya kegiatan belajar mengajar dilakukan di sekolah, sekarang semua itu diganti dengan pembelajaran bersifat online (online learning). Sebuah konsep belajar dari rumah (learn from home) yang tak pernah menjadi wacana utama dalam dunia pendidikan nasional.

Kebijakaan pemerintah yang mengharuskan mengikuti protokol kesehatan seperti physical distancing, tidak boleh keluar rumah kecuali dalam keadaan yang sangat urgent, tidak boleh bersalaman untuk sementara waktu yang semuanya itu dilakukan demi untuk memutus penyebaran wabah, secara tidak langsung memaksa perubahan dari sebuah pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah, dengan menerapkan pembelajaran berbasis sistem online. Hampir tidak ada yang menyangka, bahwa adanya pandemi virus corona mampu merubah secara drastis wajah pendidikan.

Dengan adanya konsep belajar dari rumah (learn from home), pada akhirnya mau tidak mau semua komponen yang masuk dalam dunia pendidikan, mulai dari Guru, Dosen, tenaga kependidikan yang harus menyambutnya dengan menyiapkan berbagai macam perangkat pembelajaran berbasis online. Pada akhirnya, setiap sekolah mengadakan pelatihan-pelatihan secara online pula untuk menyiapkan berbagai macam perangkat tersebut. Dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar, kurikulum pendidikan yang sesuai dengan konsep belajar dari rumah (learn from home).

Di sisi lain, dengan diterapkan belajar dari rumah hingga waktu yang belum bisa ditentukan, membuat para orang tua kebagian tanggung jawab untuk mendampingi anaknya belajar dari rumah. Banyak orang tua harus mengakui bahwa menjelaskan berbagai macam mata pelajaran dan menemani anak mengerjakan tugas sekolah tidaklah semudah yang dibayangkan. Awal-awal penerapan kebijakan belajar dari rumah (learn from home) ini banyak sekali orang tua yang hampir menyerah dan mengakui bahwa menjadi seorang dengan berbagai tugasnya tidaklah mudah, lebih baik memilih profesi selain guru.

Adanya berbagai keluhan banyak orang tua terkait penerapan belajar dari rumah (learn from home), selain harus mendampingi anaknya mengerjakan tugas juga banyak dari mereka kesulitan untuk menyiapkan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop yang tidak semua orang tua memilikinya. Dengan kata lain, adanya sistem pembelajaran online ini ditengah pandemi wabah membuat banyak orang tua kesulitan menyediakan kesempatan pendidikan yang maksimal dan memadai bagi anak-anak mereka. Ditambah lagi sejak wabah terjadi, seperti yang dicatat oleh Kemenaker, lebih dari 2 juta buruh dan pekerja formal-informal dirumahkan bahkan berujung di PHK. Dalam kondisi yang seperti ini, muncul indikasi naiknya angka putus sekolah di berbagai tempat. Hal itu dikarenakan dalam situasi yang lebih buruk, banyak orang tua akan memilih pada pilihan yang dilematis, antara memberi makan keluarga atau membiayai pendidikan anak.

Oleh karenanya, di tengah pembatasan sosial akibat adanya wabah covid-19, kerja keras para Guru dan Dosen patut diapresiasi karena mereka tetap semangat mangajarkan ilmu pengetahuan dan belajar lagi untuk mengejar ketertinggalan sumber daya ilmu yang dimiliki terkait pembelajaran berbasis online. Meskipun ditengah keterbatasan menyiapkan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop dan juga kuota internet dan jaringan yang harus siap sewaktu-waktu, ditambah pengalaman menjagar secara online yang masih dirasa sebagai hal baru yang jarang sekali dilakukan.

Tantangan yang paling utama dengan diterapkannya sistem pembelajaran daring (dalam jaringan/online) selama pandemi wabah adalah ketersediaan jaringan internet, kurangnya kemampuan guru dan ketrampilan guru serta kemampuan orang tua dalam ilmu IT yang memang sedari awal tidak dipersiapakan sebagai pendidik di rumah. belum lagi ditambah dengan perbedaan wilayah atau daerah anak didik yang akses internetnya belum memadai yang hal itu menimbulkan permasalahan baru dalam mengakses tugas yang diberikan oleh guru mereka.

Lantas, apakah perubahan model pembelajaran yang dari awalnya melalui pembelajaran yang dilakukan dengan tatap muka di ruang kelas menjadi pembelajaran jarak jauh ke dalam ruang-ruang virtual melalui sarana-sarana teknologi informasi yang ada secara tidak langsung telah mewakili apa yang sedang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Nadiem Makarim, bahwa sistem pendidikan nasional ke depan akan digiring ke arah serba online (daring -dalam jaringan) dan juga gerakan Merdeka Belajar yang diharapkan sesuai dengan pencanangan akselerasi pendidikan 4.0?

Jika hal tersebut belum sesuai dengan apa yang ingin dicapai sesungguhnya karena keterpaksaan pembelajaran daring akibat adanya pandemi covid-19, maka perubahan model pembelajaran ini hanya sekedar memindahkan kejadian di ruang kelas yang bersekat ke dalam ruang virtual, tanpa dibarengi adanya perubahan pedagogi yang ada. Pada akhirnya, banyak tenaga pengajar hanya sekedar meminta peserta didik untuk belajar sendiri di rumah dengan tetap diberi beban tugas yang luar biasa banyaknya (kuantitatif) seperti halnya saat sedang berada di sekolah.

oleh : Taufik al Mantuby
(Anggota LTN Kab. Mojokerto dan Tenaga Pendidik di SDI Al Azhar Kota Mojokerto sekaligus Penyuluh Agama Islam di Kab. Mojokerto)


Sudah dibaca : 139 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.