close

HOME // Pendidikan

Tata cara, Pelaksanaan, Dan Yang Berkaitan Dengan Ibadah I’tikaf

   Pada: Mei 13, 2020

 

Salah satu ibadah yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia dengan penuh suka cita adalah I’tikaf, lebih-lebih di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon dengan alasan untuk bisa menggapai malam Lailatul Qodar yang oleh banyak ulama’ disebut-sebut berada di 10 hari terakhir bulan mulia ini. Orang-orang berlomba-lomba untuk mendatangi masjid sentral di daerahnya masing-masing atau biasa di sebut masjid agung atau masjid jami’, untuk pilihan tempat melaksanakan i’tikafnya. Lalu bagaimanakah prosedur ibadah i’tikaf yang benar menurut kajian fiqih. Berikut kami akan mengulasnya:

Definisi I’tikaf adalah berdiam diri di Masjid dengan niat ibadah. Sedangkan syarat syarat i’tikaf adalah :
1. Islam
2. berakal atau mumayiz
3. bersih dari haid dan nifas serta jinabah.
4. Boleh beri’tikaf bagi budak atau seorang istri asalkan mendapat izin dari tuannya dan bagi istri mendapat izin dari suaminya.

Hukum i’tikaf sendiri dalam kesepakatan Ulama’ adalah sunnah muakkadah (Sunnah yang dikokohkan) yang dalilnya ternuqil dari Alquran dan dari hadis Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad sendiri bahkan pernah melakukan i’tikaf 20 hari tidak keluar dari masjid.

Dalam Menjalankan ibadah I’tikaf banyak ibadah utama yang bisa kita kerjakan seperti:
1. Sholat wajib dan sunnah
2. Tilawatil Quran dan mentadabburinya
3. Berdzikir
4. Muthola’ah kitab dan lain lain.

Rukun I’tikaf ada dua yaitu:
1. Niat, karna I’tikaf termasuk ibadah yang membutuhkan niat layaknya ibadah yang lain.
2. Berdiam diri di masjid. Dalam Madzhab Syafi’iah disunnahkan untuk I’tikaf satu hari.
Paling minimnya adalah sedikit lebih lama dari tuma’ninah sehingga bisa disebut (وقوفا) atau berdiam diri. Namun dalam madzhab Syafi’i juga ada pendapat yang menghitung sah i’tikaf hanya sekedar hadir di masjid saja.

ولنا وجهٌ : أنه لا يشترطُ اللُّبْثُ، بل يكفي الحضورُ كما يكفِي مجرّدُ الحضور في عرفةَ.

“kita memiliki pendapat dalam madzhab kita (Syafi’iyah): bahwasanya tidak disyaratkan harus berdiam, namun cukup dengan hadir di masjid layaknya cukup hadir di padang ‘Arafah (bagi orang haji yang melaksanakan Wukuf).”

Catatan: Berdiam bukan berarti hanya duduk di satu tempat saja. Dalam Kitab Kifayatul Akhyar dijelaskan:

ولا يُشترطُ السكونُ، بل يصحُّ الإعتكافُ مع التردّدِ في أطرافِ المسجدِ

“Dan tidak disyaratkan berdiam diri saja (di satu tempat), namun boleh berlalu-lalang (berpindah-pindah)Di bagian-bagian masjid yang lain.” (Kifayatul Akhyar, Darul Minhaj, Hal. 306)

Adapun tempat pelaksanaan i’tikaf adalah di masjid. Di sini masjid dikategorikan menjadi 2 yaitu; Masjid yang hanya didirikan sholat 5 waktu di dalamnya (tanpa ada sholat jumat) atau biasa disebut masjid/langgar/surau, maka i’tikaf boleh dilaksanakan di masjid kategori ini. Dalam madzhab Hanafiyah memperbolehkan perempuan melaksanakan I’tikaf di Musholla al-bait (tempat sholat yang berada di dalam rumah). Apalagi di tengah Pandemi virus corona ini, kita bisa menggunakan madzhab Hanafiyah ini. Adapun masjid yang kedua adalah masjid yang digunakan untuk jamaah sholat 5 waktu sekaligus sholat jumat, maka disebut dengan masjid jami.’ Dan masjid jami’ adalah masjid yang paling utama untuk digunakan melaksanakan i’tikaf.( Fiqh Al-Islam wa Adillatuhu, 3/125).

Adapun hal-hal yang dapat membatalkan I’tikaf adalah:

1. Keluar tanpa udzur yang syar’i. Misalnya keluar untuk berjual beli, atau tanpa ada dorongan untuk menunaikan hajat yang urgent seperti buang air kecil atau besar, atau tanpa ada keadaan darurat (seperti robohnya masjid).
2. Jima’. Menurut jumhur ulama, meskipun ini dilakukan karena lupa atau dipaksa, baik pada siang atau malam hari, maka batallah I’tikafnya. Sedangkan bila sengaja, batal menurut ijma’ (kesepakatan) ulama.
3. Murtad
4. Mabuk dengan sengaja.
5. Pingsan dan gila dalam tempat yang lama (hingga berhari-hari) ini menurut jumhur ulama’.
6. Haid dan Nifas bagi wanita.
7. Melakukan dosa besar. Wallahu A’lam.

Ditulis oleh : Mochammad Faiz Nur Ilham (Mahasiswa Ilmu Alquran Dan Tafsir Uin Sunan Ampel Surabaya Dan Anggota LTN PCNU Kab. Mojokerto)

 


Sudah dibaca : 152 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.