close

HOME // Sejarah

KIAI MUNASIR ALI, KIAI KOMANDAN CONDROMOWO

   Pada: Maret 30, 2020

Pada tahun 1994, PBNU menunjuk KH. Munasir Ali sebagai ketua panitia Muktamar NU di Cipasung. Walaupun usianya sudah tua, tetapi KH. Munasir Ali-lah yang dianggap memiliki pengalaman dalam beradu startegi dan perang melawan baik Jepang maupun Belanda.

Diceritakan oleh Habib, keponakan KH. Munasir Ali, tujuh hari sebelum Muktamar berlangsung, Habib ditugaskan oleh KH. Munasir berangkat terlebih dahulu. Ia disuruh menemui Ajengan KH. Ilyas Ruhiyat. Tanpa tahu maksud dan tujuannya apa. Ia hanya nurut saja diminta menemui pengasuh Pondok Cipasung itu.

Sampai di Pondok Cipasung, suasana sudah sepi. Para santri-santri sudah dipulangkan semua. Saat Habib bertemu dengan KH. Ilyas Ruhiyat dan memperkenalkan diri dari utusan KH. Munasir Ali, maka Habib diminta menempati suatu kamar khusus. Dan betapa kagetnya ia, sebab dikamarnya itu, telah berkumpul kiai-kiai sepuh seperti KH. Muslim Imam Puro atau yang masyhur dipanggil Mbah Liem.

Tengah malam, saat ia menikmati tidur lelahnya yang baru sampai dari perjalanan Mojokerto-Cipasung, ia dibangunkan oleh Mbah Liem. Ia diminta oleh Mbah Liem untuk ikut berkeliling melakukan riyadoh pada tempat yang akan dijadikan sebagai arena Muktamar. Ia merasakan kantuk yang luar biasa. Tetapi karena yang menyuruh Mbah Liem, maka ia pun terpaksa menurutinya. Dan sungguh ia baru sadar, ternyata tujuan dari KH. Munasir Ali mengutusnya berangkat terlebih dahulu adalah menemani Kiai Kiai sepuh untuk riyadoh selama tujuh hari berkeliling di arena Muktamar dengan bacaan bacaan tertentu.

Kenapa Kiai-Kiai sepuh sampai melakukan riyadoh yang begitu berat sebelum Muktamar di Cipasung itu? Ternyata sejarah mencatat, Muktamar di Cipasung, Muktamar yang sangat brutal dan penuh tipu muslihat. Terutama ambisi Presiden Suharto untuk mengganti posisi KH. Abdurahman Wahid sebagai Ketua PBNU berikutnya dengan calon yang didukungnya yakni Abu Hasan.

Orang-orang Suharto yang telah menyusup dan melakukan propaganda menyebarkan sejumlah agitasi dengan slogan ABG (Asal Bukan Gus Dur). Mereka mengemukakan kritik ‘pedas’ terhadap Gus Dur, yakni manajemen NU di bawah kepemimpinan Gus Dur dinilai lemah dan otokratik. Bahkan, menurut mereka, langkah Gus Dur yang kerap kali ‘berseberangan’ dengan pemerintah dianggap bukan hanya menyimpang dari khittah NU, tetapi juga bertentangan dengan kepentingan NU sendiri.

Sejumlah intel yang menyebar di seantero lokasi muktamar saling berseliweran, kendaraan lapis baja juga ikut mengelilingi arena Muktamar Cipasung. Beberapa dari mereka bahkan diketahui menyamar dengan seragam Banser. Dari berbagai sumber, sedikitnya, diketahui tentara yang berjaga di sekitar Cipasung berjumlah sampai 1500 personil dan 100 intel. Sebagian dari mereka diberi tugas untuk memonitor delegasi-delegasi daerah dan membantu memberikan pertimbangan-pertimbangan.

KH. Munasir Ali sendiri memperoleh terror dengan kedatangan seseorang yang tidak dikenalnya saat ia berada dalam kamar. Orang yang tidak dikenalnya itu memberikan cek untuk diisi berapapun jumlahnya tetapi dengan syarat KH. Munasir Ali bisa membuat scenario untuk menjegal Gus Dur menjadi Ketua PBNU. Melihat cek yang ditawarkan oleh orang yang tak dikenalnya itu, KH. Munasir Ali kemudian keluar dari kamarnya dan memanggil putranya, Rozy Munir. Seketika kembali ke kamarnya, ia sudah tidak mendapati orang asing itu. Kemudian KH. Munasir Ali menyobek-nyobek cek itu.
Pada hari dimana pembukaan berlangsung, KH. Munasir Ali selaku Ketua Panitia memberikan sambutan yang sangat fenomenal. Dihadapan Presiden Suharto dan peserta Muktamar, KH. Munasir Ali mengatakan,

“Saya ini betul-betul orang yang tak tahu diri, sebab diusia saya yang ke 70 tahun, saya masih berambisi menjadi Ketua panitia Muktamar, yang semestinya itu bagian anak muda. Karena ambisi saya itu maka proses regenerasi tersumbat. Padahal sudah selayaknya orang setua saya ini mengundurkan diri dari jabatan apapun dan menyerahkan pada yang muda karena lebih enerjik dan lebih berpengalaman, sementara saya ini sudah ketinggalan jaman”

Sambutan Ketua panitia itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin, sebab hadirin tahu bahwa KH. Munasir Ali sedang menyindir Presiden Soeharto yang hadir dalam Muktamar itu. Presiden Suharto kala itu masih sangat ambisius mempertahankan jabatannya sebagai Presiden. Padahal ia sudah tua dan lama memegang jabatan. Potensi potensi anak muda dalam NU pun hendak dibabatnya pula. Gus Dur yang mewakili generasi muda di tubuh NU, hendak pula diberangus dengan digantikan oleh Abu Hasan yang tua dan harusnya memberi tempat pada generasi muda untuk berkiprah mengembangkan organisasinya.

Pada akhirnya Muktamar berjalan sukses. Gus Dur memperoleh 174 suara, sementara Abu Hasan, sang boneka Presiden Suharto, hanya mendapatkan 142 suara. Ini membuktikan bahwa NU tidak bisa didekte. NU tidak bisa pula diadu domba atau diacak-acak. Selain factor hasil olah batin, tentu strategi yang jitu juga menjadi penentu. Dan KH. Munasir Ali adalah ahli territorial yang paling mumpuni. Yang telah diasahnya dari perjalana hidupnya yang penuh liku dan terjal.

##

KH. Munasir Ali lahir di Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Ia lahir pada tanggal 2 Maret 1919. Ayahnya bernama Haji Ali. Haji Ali sendiri adalah seorang Lurah di Desa Modopuro. Sedangkan Ibunya bernama Hasanah.

Haji Ali merupakan orang yang terpandang di Mojosari. Selain kedudukannya sebagai Lurah, ia juga memiliki daya linuweh sehingga banyak orang yang tunduk atas kewibawaannya. Menurut Habibullah, Haji Ali itu juga memiliki kekayaan yang berlimpah. Anak-anaknya diberi bagian dari kekayaannya dengan bagian sawah juga rumah-rumah yang bagus pada waktu itu. Habibullah mengenang, zaman dulu, di daerah Modopuro hanya beberapa rumah saja yang bagus. Itu pun milik Haji Ali dan anak-anaknya.

Meskipun demikian, yang berbeda dari sosok Munasir kecil, ia tidak pernah membanggakan kekayaan ayahnya. Munasir kecil jarang tidur di rumahnya. Ia sering bermain di Pekukuhan. Ada yang bilang, kalau di Pekukuhan ada seorang gadis cantik, yang menjadi idamannya. Adalah Bu Nyai Muslichah, wanita cantik anak Kyai Dahlan Syafii, yang menarik hatinya. Pernah, demi memperebutkan Muslikah ini, Munasir ikut berlomba lari bersama pemuda-pemuda yang jatuh hati kepada Muslikah. Dan Munasirlah yang menang.

###

Pendidikan pertama kali yang dimasuki oleh Munasir Ali adalah sekolah HIS (Hollandsch Inlandsche School) yakni lembaga pendidikan milik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada tahun 1933 ia menamatkannya. Dan kemudian ia punya keinginan kuat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Namun orang tuanya tidak mengizinkannya. H. Ali menyarankan putranya untuk pergi melanjutkan ke Pondok Pesantren. Tetapi ada juga yang bilang, Munasir Ali tidak jadi melanjutkan ke MULO, karena ada perlakuan diskriminatif dari pihak sekolah. MULO, kenyataannya hanya diperuntukkan untuk orang Belanda dan Cina atau orang pribumi yang ningrat. Sedang penduduk pribumi tak berpangkat, dikucilkan bahkan tidak diperkenankan untuk mencicipi samudra keilmuan.

Pesantren pertama yang disinggahi oleh Munasir Ali adalah pesantren Al Islah Trowulan Mojokerto, dibawah asuhan KH. Dimyati. Munasir Ali belajar dasar-dasar ilmu agama Islam di pesantren ini. Namun di pesantren ini, Munasir Ali tidak bertahan lama. Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Tebuireng. Di Pesantren Tebuireng ini, selain mengaji, Munasir Ali juga melanjutkan sekolahnya ke Madrasah Salafiyah yang juga milik Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Di Pesantren ini pula, Munasir Ali menjadi kader sekolah pemikiran yang dirancang oleh KH. Wahid Hasyim. KH. Wahid Hasyim sepulang dari Mekkah, melakukan perombakan kurikulum di Pesantren Tebuireng, dengan memasukkan pelajaran pelajaran umum selain pelajaran agama. Dan Munasir Ali memperoleh keberkahan ilmu dengan masuknya berbagai asupan pengetahuan ilmu yang berlimpah di PP. Tebuireng ini. Bahkan Munasir Ali karena kecerdasannya, oleh KH Wahid Hasyim, direkrut menjadi kader inti yang tergabung dalam Madrasah Nidzomiyah. Munasir Ali diperkenalkan berbagai pemikiran sosial politik dan keorganisasian NU, yang kemudian membentuk pola piker dan daya juangnya kelak.
Munasir Ali kemudian melanjutkan pengembaraan keilmuannya lagi ke Pondok Pesantren Kasingan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Munasir Ali juga singgah menimba ilmu ke Pondok Pesantren Jemsaren Solo. Lalu berlanjut lagi ke Pondok Pesantren Watu Congol Mantilan. Waktu menimba ilmu di pesantren Kasingan Rembang ini, Munasir Ali seangkatan dengan KH. Abdul Kholiq Hasyim dari Tebuireng dan KH. Makhrus Ali dari Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Ada kisah menarik saat kepulangannya dari mondoknya di Watu Congol Mantilan. Suatu saat ia pernah melakukan suatu kesalahan yang berakibat marahnya Mbah Dalhar. Ia bersama dengan teman temannya liwetan. Lauknya diambilkan dari mencuri Ikan milik Mbah Dalhar. Mbah Dalhar marah. Dan menyuruh pulang Munasir Ali. Walaupun ia sudah meminta maaf berkali kali tetapi Mbah Dalhar tetap bersikukuh, Munasir Ali harus dipulangkan. Akhirnya Munasir Ali pulang ke Modopuro. Selang sehari setelah Munasir tinggal dirumah, H. Ali, abahnya, meninggal dunia. Kejadian diusirnya Munasir Ali oleh Mbah Dalhar, sesungguhnya karena kewalian Mbah Dalhar. Mbah Dalhar mengetahui kalau ayah Munasir Ali akan meninggal dunia. Karenanya Mbah Dalhar mengusir Munasir Ali, agar ia bisa berbakti kepada ayahnya diakhir hidupnya.

###

Setelah pulang kampung, tepatnya pada tahun 1939, Munasir Ali ikut beraktifitas mengamalkan ilmunya dengan beraktivitas ditengah masyarakat. Ia tercatat pernah menjadi anggota Persatuan Petani NU. Ia juga bergabung dalam organisasi Ansor Mojokerto yang dibentuk pada tahun 1938 oleh teman sepondoknya di PP. Tebuireng yakni KH. Achyat Halimi. Di Ansor inilah dunia aktivisnya ditempa. Ia mendampingi masyarakat dikala masa masa sulit dijajah Jepang. Juga menjadi saksi beragam gelombang peristiwa yang dialami sebelum dan pasca kemerdekaan.

Menjelang kedatangan Jepang, Munasir Ali turut melakukan razia kepada orang orang Belanda dan ikut pula berusaha mengambil senjata senjata untuk perjuangan. Munasir Ali juga pada saat KH. Hasyim Asyari dipenjara di Purwotengah, ikut melakukan demonstrasi agar gurunya tersebut dibebaskan. Munasir Ali pula yang turut mengambil alih gedung Tentara Jepang yang terletak di Timur Alun Alun. Ia juga turut melakukan mobilisasi massa para pemuda untuk berjuang jihad ke Surabaya.

Karena keberanian dan ketangguhan dalam perjuangan itu, maka ketika Laskar Hizbullah Mojokerto dibentuk, Munasir Ali ditunjuk menjadi Wakil Ketua Laskar Hizbullah Mojokerto. Bahkan Munasir Ali juga menjadi staf Dewan Perjuangan Daerah Suarabaya (DPDS) yang kemudian membentuk Tentara Rakyat Djelata yang berjumlah 2000 orang.

Munasir Ali menjadi sangat dibutuhkan dan menjadi orang yang sangat penting bersama-sama Hizbullah Mojokerto lainnya, saat Surabaya telah dikuasai tentara sekutu. Lembaga pemerintahan serta badan badan perjuangan pindah ke Mojokerto berikut dengan warga Surabaya. Sebagai tuan rumah, Hizbullah Mojokerto sangat sibuk menata tempat dan dapur umum untuk keperluan para pengungsi.

Perang terus berkecamuk. Tanpa diduga, Belanda terus merangsek. Bahkan pada tanggal 17 Maret 1947 Belanda menyerbu Kota Mojokerto melalui belakang dengan siasat licik penuh tipu muslihat. Semua semburat melarikan diri. Dan memilih Jombang menjadi markas berikutnya.

Dengan direbutnya wilayah-wilayah yang menjadi territorial Republik Indonesia, membuat evaluasi untuk melakukan pemangkasan pasukan yang tidak efektif. Karenanya berdasarkan edaran dari pemerintah Republik Indonesia, laskar-laskar dileburkan dalam wadah Tentara Nasional Indonesia. Laskar Hizbullah kemudian menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan TNI. Wadah Hizbullah dalam Tentara Nasional Indonesia ini tergabung menjadi I Resimen III dibawah Brigade 29 yang kemudian dikenal dengan Resimen 293 Divisi I yang bermarkas di Kertosono dengan Komandan Resimen A. Wahib Wahab daan Kepala Stafnya Mansur Solikhi.

Pada saat Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang Republik Indonesia, resimen 293 yang menaungi laskar Hizbullah, diciutkan menjadi 2 batalyon, yang secara administrasi dibawah brigade 16 dan taktis komando dibawah COPP VI Surabaya yaitu: 1) Batalyon Mobil dengan sebutan Yon Mansur Solikhi yang kemudian menjadi Batalyon 42 Diponegoro 2) Batalyon Terretorial dengan sebutan Yon Munasir. Yon Munasir inilah yang kemudian menjadi Yon 39 Condromowo.

Pada tahun 1948, ketika PKI memberontak di Madiun, Yon Munasir bertugas mengamankan Jombang dan berhasil dengan cepat mengamankan gembong gembong PKI sehingga tidak sampai melakukan aksi yang akan membuat kerugian bagi territorial republic Indonesia.

Pada saat operasi Hayam Wuruk, yakni serangan pejuang republic Indonesia untuk merebut kembali daerah daerah yang sudah diambil alih oleh Belanda, Yon Munasir memecah pasukannya menjadi dua. Sebagian mengikuti serangan ke Pacet. Dan sebagian lagi melakukan menyusup ke kantong kantong kekuasaan belanda serta melakukan perang gerilya.
Munasir Ali sendiri, sebelum bergabung ke Pacet, membawa pasukannya melalui Brangkal. Saat melewati Brangkal ini, pasukan Munasir Ali ini terpergok oleh tentara Belanda. Tetapi semua pasukan selamat. Sebab Munasir Ali menyuruh anak buahnya untuk saling berpegangan memegangi tangannya. Ia membacakan sebuah wirid yang pernah diberikan Mbah Dalhar, sehingga semua pasukan tidak terlihat.

Setelah itu, Munasir Ali dan pasukannya bergerak menyusul pasukan yang dipimpin Pamoe Rahardjo dalam serangan ke Pacet itu. Dan setelah Pacet dikuasi pada 1 Januari beberapa pasukan ditempatkan di Pacet ini dan menandai sebagai territorial Pejuang Republik Indonesia. Hingga pada tanggal 13 Februari 1948, ketika Belanda menggempur habis habisan dari berbagai penjuru, Yon Mansur Solikhi dan Kompi Syakir Husyn dari Yon Munasir harus mati matian melawan gempuran itu. Dan pada akhirnya memaksa mereka harus mundur ke Wonosalam kembali.

Pasca rontoknya serangan Hayam Wuruk ini, Yon Munasir memperoleh tugas untuk mengamankan wilayah di sektor utara jalan Mojokerto-Kertosono juga menyusun Markas Komando di Peterongan dan juga di Banjaranyar. Di sepanjang jalan itulah, pasukan Yon Munasir melakukan perang gerilya dengan sangat efektif. Pasukan dibawah Munasir Ali itulah yang kemudian diberi nama Condromowo, yang terinspirasi dari kucing kembang telon.

Pada tanggal 31 Desember 1949, saat penyerahan kedaulatan kepada pemerintah Republik Indonesia, Yon Munasir/Yon 113 Condomowo diberi tugas untuk mengambil alih kekuasaan di daerah Jombang. Dan selanjutnya, setelah Yon 42 Diponegoro sebagai penanggungjawab Mojokerto ditugaskan ke Sumatera Selatan, maka Yon 113 Condromowolah yang mengambil alih Jombang, Mojokerto hingga Gresik. Setelah itu, Yon 113 Condromowo ini ditugaskan ke Bojonegoro dengan markasnya di Tuban. Setelah itu ditarik ke Gunungsari Surabaya. Dan akhirnya,pada tanggal 31 Maret 1953, Munasir Ali memutuskan untuk mengundurkan diri dari kemiliteran. Pangkat terakhirnya kala itu, Mayor dengan nomor NRP 10512.

###

Pasca mengundurkan diri dari dunia kemiliteran, Munasir Ali aktif di Jakarta. Beliau bergabung dengan organisasi eks-pejuang kemerdekaan seperti IKABEPI (Ikatan Bekas Pedjoeang Indonesia), juga mendirikan Legiun Veteran bersama antara lain, Chairul Saleh, Letjen (Purn.), Sarbini, dan Letjen A. Kartakusuma.

Karirnya di dunia legislative, pada tahun 1958 menjabat sebagai anggota dewan nasional RI. Tahun 1959, ia menjadi Dewan Perancang Nasional. Tahun 1967, Munasir Ali menjadi Anggota DPR GR. Dan tahun 1971-1976, Munasir Ali masih menjadi Anggota DPR/MPR.Dan dari tahun 1976-198, Munasir Ali menjadi Ketua Komisi VIII DPR/MPR. Tahun 1981-1987, menjabat sebagai Pimpinan Fraksi DPR/MPR.

Di struktual NU, Munasir Ali pernah menjadi Komisaris Partai NU daerah Karesidenan Surabaya pada tahun 1956. Tahun 1958 sampai 1979 menjadi Wakil Ketua PB Pertanian NU. Dan tahun 1984 menjadi Sekjen PBNU, sekaligus juga menjadi Ketua Musytahsyar. Dan pada tahun 1989, Munasir Ali menjabat sebagai Rois Syuriah PBNU.

Pada tahun 1983, Munasir Ali yang kemudian banyak orang memanggilnya dengan KH. Munasir Ali, memutuskan untuk pulang ke Mojokerto. Di Pekukuhan, KH. Munasir Ali bersama dengan tokoh tokoh sepakat mendirikan SMP Islam Dahlan Syafii. KH. Munasir Ali memandang banyak anak miskin di sekitar Mojosari tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan SMP Islam Dahlan Syafii kala itu menjadi jawaban ditengah kebodohan yang masih merajalela. Lebih lebih pendidikan yang bernafaskan Islam, masih jarang atau boleh dikata tidak ada untuk diwilayah Mojosari.

Meskipun KH. Munasir Ali sedang berkonsentrasi penuh dalam mengembangkan lembaga pendidikannya, tanggungjawab menjadi anggota DPR dan pengurus NU tetap terus dilanjutkan. Walaupun harus bolak balik Mojokerto-Jakarta.

Pasca kerusuhan tahun 1998 yang kemudian menghantarkan Presiden Suharto mengundurkan diri, kebutuhan mendirikan partai sangat mendesak untuk dilakukan warga Nahdliyin. Maka lahirlah PKB. Dan KH. Munasir Ali-lah salah satu dari lima Kiai yang merupakan faounding fathernya partai PKB tersebut. Dan dengan PKB itulah, yang kemudian menghantarkan Gus Dur menuju kursi Istana.

KH. Munasir meninggal tepat saat usianya memasuki 83. Beliau meninggal pada hari Jumat, 11 Januari 2002 pukul 23.15. KH. Munasir Ali dikaruniai 14 orang anak, 23 cucu dan 3 orang cicit. Putra pertamanya, Rozy Munir pernah menjabat sebagai Menteri Negara Penanaman Modal dan Pemberdayaan BUMN. Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga di Pekukuhan Mojosari, Mojokerto.

Penulis : Isnoe Woeng Sayun (Ketua LTN NU Kab. Mojokerto)


Sudah dibaca : 411 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.