close

HOME // Sejarah

KH. Mudzakir Ma’ruf, Kiai Rosokan Penggagas Ngaji Reboan

   Pada: Maret 22, 2020

Pada tahun 1990-an siapa yang tidak pernah mendengar suara KH. Mudzakir Ma’ruf di radio yang mengaji kitab Nashoihul Ibad? Saya sendiri setiap subuh senantiasa aktif mendengarkan pengajian itu. Suaranya khas. Penjelasannya pun jelas dan terang. Joke-jokenya pun sangat sesuai dengan telinga orang kebanyakan.

KH. Mudzakir Maruf pun sering diundang pengajian ke berbagai daerah. Hingga sampai ke beberapa tempat sekitar Jawa Timur. Memang kala itu, KH. Mudzakir fenomenal. Tetapi tidak banyak orang tahu, bagaimana sejarah kehidupannya dan bagaimana pula beliau berproses hingga mencapai suatu capaian yang spektakuler di zamannya. Berikut tulisan sederhana ini akan mengupasnya.

Latar Kehidupan Keluarga KH. Mudzakir Maruf

KH. Mudzakir Maruf lahir pada tanggal 18 Agustus 1943 di Pesanggrahan Kutorejo Kab. Mojokerto. Ia merupakan saudara tertua dari sembilan bersaudara. Dari sembilan saudara, dua saudaranya sejak kecil sudah meninggal dunia.

Menjelang remaja, KH. Mudzakir Maruf pindah ikut Kakek Neneknya ke Desa Pugeran Kec. Gondang. Kakeknya Mbah Abdussalam dan Mbah Muntiani, hidup sendiri di rumahnya yang mungil. Dua anaknya yakni KH. Iskandar (merupakan Ayah Muhaimin Iskandar dan Halim Iskandar) tinggal di Pesantren Denanyar dan yang kedua bernama Nyai Siti Aminah yang merupakan dari KH. Mudzakir Maruf yang ikut suaminya di Pesanggrahan Kutorejo.

Dari kakeknya itu, KH. Mudzakir Maruf belajar dasar dasar pendidikan Agama. Mulai dari mengaji al-Quran sampai dengan mengkaji kitab kitab kuning yang menjadi pondasi dalam beragama.

Setelah menyelesaikan sekolah rakyat, KH. Mudzakir Maruf berangkat mondok ke PP. Lirboyo Kediri. Di Lirboyo KH. Mudzakir Maruf tumbuh menjadi santri kreatif. Selain menguasai kitab kitab kuning sebagai pelajaran Pesantren, beliau juga memiliki ilmu dalam bidang teknisi yang dipelajarinya secara otodidak. Seperti membuat radio, menjalankan diesel, memperbaiki televisi dan segala perkakas elektronik.

Suatu penggalan cerita, KH. Mudzakir Maruf pernah membuat radio dengan menaruh pemancarnya di atas pohon kelapa. Sedang mesin transmiternya ada di kamar pondoknya. Dengan radio sederhana itu, KH. Mudzakir Maruf sering melakukan siaran radio dengan intonasi bak MC terkenal. Suatu kali, hujan deras mengguyur Lirboyo dan sekitarnya yang disertai dengan petir yang menyambar nyambar. Ndilalah pemancar radionya tersambar petir hingga merembet ke mesin transmitternya yang terletak di kamarnya. Maka terjadi kebakaran kecil di kamarnya itu. Kejadian itu kemudian dilaporkan oleh pihak keamanan ke KH. Marzuqi Dahlan. Dan KH. Marzuki Dahlan itu kemudian mengusir KH. Mudzakir Maruf dari Pondok Pesantren. Tapi bukannya keluar dari pesantren, justru KH. Mudzakir Maruf tinggal di bawah beduk Masjid beserta barang barangnya. Mendapati KH. Mudzakir Maruf tersebut, KH. Marzuqi Dahlan kemudian bertanya,

“Kamu sudah saya usir dari Pondok, kenapa kamu masih ada disini? tanya KH. Marzuki.

“Saya sudah keluar dari pondok Yai. Sekarang saya tinggal di Masjid” jawab KH. Mudzakir kala itu.

Mendengar jawaban cerdas itu, KH. Marzuki itu kemudian menyuruh KH. Mudzakir Maruf kembali ke kamarnya.

Dari peristiwa itu, para Kiai dan Gus dilingkungan Lirboyo mengetahui kemampuan KH. Mudzakir dalam bidang elektronik. Karenanya kerusakan barang barang elektronik dipasrahkan semua kepada KH. Mudzakir Maruf untuk diperbaiki. Pun listrik dan diesel untuk keperluan pondok, diserahkan sepenuhnya kepada KH. Mudzakir Maruf.

Pulang dari Lirboyo, KH. Mudzakir Maruf kembali ke kakeknya, di Pugeran Gondang. Di Pugeran ini, KH. Mudzakir Maruf ikut berjualan meneruskan usaha dari sang kakek. Tetapi karena merasa tidak bakat, maka ia berhenti dari berjualan. Sebab ia mengalami kerugian yang terus menerus.

Setelah itu, KH. Mudzakir Maruf mencoba mencari peruntungan dengan merantau ke Jakarta. Tidak diceritakan kerja apa KH. Mudzakir Maruf disana. Hanya saja saat di Jakarta, KH. Mudzakir Maruf sempat ke Ndalem keluarga KH. Wahid Hasyim. Bahkan sempat mengajar kitab di keluarga KH. Wahid Hasyim tersebut. Hanya saja KH. Mudzakir Maruf tidak sempat secara intens bertemu Gus Dur. Bisa jadi Gus Dur telah melalang buana dalam belantara Intelektual.

KH. Mudzakir Maruf kemudian pulang. Tetapi sebelum pulang, beliau mampir ke Lirboyo. Di Lirboyo sempat ditawarkan untuk mengajar di Pesantren. Tetapi KH. Mudzakir Maruf memohon izin untuk bertemu dengan keluarganya terlebih dahulu.

Saat di Mojokerto, KH. Mudzakir Maruf bersilaturahmi kepada adik pondoknya yang bernama H. Tohir yang domisilinya di Jalan Brawijaya, dekat Pondok Sabilul Muttaqin. Saat bermain di H. Tohir ini, KH. Mudzakir diajak sowan ke KH. Achyat Halimi. Oleh KH. Achyat Halimi, KH. Mudzakir Maruf dijodohkan dengan adik H. Tohir.

Saat hendak menikah ini, sebagai santri taat, KH. Mudzakir Maruf izin selain kepada keluarganya juga kepada guru gurunya di Pondok Lirboyo. Di Lirboyo, sebenarnya para Kiai merasa berat melepaskan KH. Mudzakir. Sebab KH. Mudzakir Maruf digadang gadang akan dijadikan sebagai pengajar di Lirboyo. Tetapi semua dikembalikan kepada pilihan santrinya. Para Kiai akhirnya mengizinkan KH. Mudzakir menikah tetapi dengan syarat, “ngarak”nya harus dari Lirboyo.

Berhubung keluarga, baik dari KH. Mahrus Aly maupun KH. Marzuki Dahlan ingin ikut serta rawuh dalam pernikahan KH. Mudzakir Maruf, sedang mobilnya cuma satu, maka KH. Mudzakir Maruf “ngalah” dengan menempati bagasi mobil. Setelah sampai di Mojokerto, semua orang dalam mobil turun, sedang keluarga perempuan mencari pengantin laki lakinya, dan ternyata ditemukan di bagasi.

Setelah menikah, KH. Mudzakir Maruf ikut mengajar baik di SMP Islam Brawijaya maupun SMA Islam Brawijaya. Hingga masa pengabdiannya di lembaga pendidikan itu mengantarkannya menjadi pegawai negeri. Tetapi setelah diketahui oleh KH. Achyat Halimi, KH. Mudzakir Maruf disuruh meletakkan jabatan itu.

Sebagai santri KH. Mudzakir Maruf taat pada perintah KH. Achyat Halimi. Ia meletakkan jabatannya sebagai pegawai negeri. Walaupun sempat geger dengan istrinya, ia tetap memilih sami’na waato’na dengan Kiai. KH. Mudzakir Maruf pun sambi mengajar juga merambah bisnis baru yakni mengumpulkan rongsokan.

Diceritakan KH. Mardzuki Maruf memiliki tetangga orang madura yang bernama H. Zaini. Ia merupakan pengusaha rosokan. Karena waktu itu pengumpul rosokan tidak ada, dan  H. Zaini satu satunya pengumpul rosokan, maka banyak orang menyuruh mengambil begitu saja barang barang rosokannya. Pernah suatu hari ada orang china yang punya rosokan satu gudang dan H. Zaini disuruh mengambil. Dan betapa senangnya H. Zaini selain memperoleh barang barang yang bisa dijual kembali juga memperoleh ongkos dari mengambil barang rosokan itu. Karena keuntungan yang besar itulah, maka KH. Mudzakir Maruf ikut bisnis rosokan sekaligus memotong las. Dari bisnisnya itu, mengantarkan KH. Mudzakir Maruf dimampukan Allah berangkat Haji. Dan kemudian pula, ada semacam gojlokan, yang dilekatkan dengan bisnisnya itu, kalau KH. Mudzakir Maruf itu Kiai Rosokan.

KH. Mudzakir mulai dikenal masyarakat luas, selain dipasrahi KH. Achyat Halimi mengajar di PP. Sabilul Muttaqin, juga mengisi pengajian ahad pagi. Selain itu, KH. Mudzakir Maruf juga sering “mbadali” KH. Achyat Halimi mengisi pengajian pengajian umum. Hingga puncaknya saat KH. Mudzakir Maruf membuka pengajian Reboan yang masyhur tidak sekadar di Mojokerto saja tetapi meluas hingga ke berbagai pelosok Jawa Timur.

Dibalik Ngaji Reboan

KH. Mudzakir Ma’ruf mengawali dakwah pengajian reboan di Masjid Agung Al Fattah terinspirasi dari perjalanannya ke Pasuruan. Pada saat itu, beliau singgah di Masjid Agung Pasuruan. Pada saat itu berlangsung acara pengajian rutin yang diasuh oleh KH. Mas Subadar. Dan betapa kagetnya KH. Mudzakir Maruf, sebab jumlah jamaah yang hadir mengikuti pengajian itu begitu berlimpah. Hingga jamaah sampai tumpah ruah ke Alun Alun.

Dari peristiwa itu, KH. Mudzakkir Makruf merasa tergugah dan mempunyai keinginan untuk menyelenggarakan pengajian serupa di Mojokerto. Pada saat bertemu dengan KH. Moh Shodiq, KH. Mudzakir Maruf menyampaikan gagasannya untuk melaksanakan pengajian rutin di Masjid Agung Al-Fattah Mojokerto. Dan gayung pun bersambut, KH. Moh Shodiq mendukung sepenuhnya.

Sepulang dari tanah suci Makkah, KH. Mudzakir Maruf serius menindaklanjuti gagasanya tersebut dengan mengunjungi dan sowan kepada beberapa Kyai sepuh yang ada di Mojokerto utntuk meminta pendapat, saran dan kritikan. Ternyata tangapan yang ada semuanya positif dan menganjurkan untuk segera mewujudkanya.

Dari acara berkunjung dan sowan itulah beliau  mendapatkan isyarat untuk menyelenggarakan pengajian rutinannya pada hari Rabu Malam. Kenapa Hari Rabu Malam? karena pada Hari Rabu Malam banyak orang berkumpul di alun – alun Mojokerto. Pada masa itu banyak orang berkumpul di alun alun untuk menunggu hasil undian Porkas yang diumumkan lewat televisi dan radio pada hari Rabu Malam. Sambil menunggu diumumkannya hasil undian, para kyai berharap masyarakat untuk mendengarkan pengajian juga, sehingga secara tidak langsung pengajian tersebut mengalihkan minat masyarakt yang sudah melekat pada judi Porkas kepada sesuatu yang sifatnya lebih positif yaitu Ngaji Reboan. Hal ini juga merupakan sebuah dakwah yang dilakukan oleh para kyai sepuh yang ada di Mojokrto untuk menarik minat masyarakat pada agama Islam tanpa adanya unsur kekerasan dan pemaksaan. Tidak lama setelah itu judi porkas sudah di bubarkan oleh pemerintah namun pengajian rutinan pada Rabu Malam terus berjalan hingga saat ini.

Dan pada tahun 1994 secara resmi pengajian rutin pada hari Rabu malam dimulai. Namun masyarakat yang hadir masih sedikit. Belum banyak orang yang berkumpul dialun alun mau diajak ngaji. Namun bukan KH. Mudzakir Maruf kalau berputus asa. KH. Mudzakkir Makruf berfikir keras dan mencari cara agar masyarakat tahu dan tertarik untuk mengikuti pengajian rutinan itu. Salah satu cara yang dilakukan oleh beliau yakni dengan mengedarkan selebaran pengumuman pada masyarakat. Sebelum selebaran disebarkan, KH. Mudzakir Maruf meminta berkah doa kepada para ulama’dan Kiai sepuh Mojokerto. Dengan harapan bagi masyarakat yang membaca selebaran, bisa terketuk hatinya untuk mengikuti ngaji reboan.

Dan beliau sebarkan sendiri selebaran pengumuman itu di tempat – tempat umum seperti terminal, sekolahan, alun – alun, pasar, warung dan tempat ramai lainya. Hasil kerja kerasnya pun mulai terlihat. Dengan berjalannya waktu terbukti masyarakat yang hadir pada acara tersebut terus bertambah hingga mencapai ribuan. Lebih lebih ketika pengajian itu disiarkan oleh radio, banyak masyarakat diluar Mojokerto yang kemudian ikut mengaji rutinan tersebut. Mereka ingin mendengarkan langsung suara KH. Mudzakir Maruf yang khas itu.

Pada awal pelaksanaan, kitab kuning yang dikaji adalah kitab Nashoihul Ibad. Dalam pengajian itu sendiri beliau tidak memakai bahasa Indonesia dalam pembahasannya, namun memakai bahasa Jawa. Hal ini untuk membuat ciri khas dari pengajian itu sendiri. Agar bisa lebih mengena pada kondisi masyarakat Mojokerto sekaligus mempopulerkan kitab kuning pada masyarakat luas. Setelah kitab Nashoihul Ibad khatam, dilanjutkan dengan kitab Qomiut Tughyan, lalu kitab Tambihul Gofilin dan kitab Wasoya hingga beliau wafat. Selanjutnya ngaji rutin reboan dilanjutkan oleh KH. Masrihan Asy’ari, KH. Ibnu Amiruddin Ismail (Gus Ib), KH. Husein Ilyas, Gus Asaduddin Mudzakkir.

Wafatnya KH. Mudzakir Maruf

Seiring dengan intensitas pengajian yang tinggi, membuat kesehatan KH. Mudzakir Maruf menurun. KH. Mudzakir beberapa kali keluar masuk rumah sakit sakinah. Meskipun beberapa dokter mensarankan untuk bedrest, tetapi KH. Mudzakir Maruf tetap bersikeras hadir dalam pengajian pengajiannya. Terutama rutinatas ngaji reboan yang pernah dibentuknya. Hingga pernah, beliau mengisi pengajian dengan infus yang masih menempel. Tetapi tubuhnya tak lagi kuat menahan sakit yang dideritanya, hingga pada tanggal 10 februari 2000, KH. Mudzakir Maruf menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Penulis : Isno Woeng Sayun (Ketua LTN NU Kab. Mojokerto


Sudah dibaca : 1121 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.