close

HOME // Opini

Belajar Khusnudzon Dibalik Merebaknya Virus Corona

   Pada: Maret 19, 2020

 Akhir-akhir ini, cobaan datang begitu dahsyat menerpa umat manusia. Cobaan itu menghantam keras keimanan dan kesadaran kita. Ya, semua ini tentang mengenai virus Corona (Covid-19). Saya tidak berbicara secara teknis maupun kronologis, atau sebab musabab virus ini bisa muncul dan menyebar ke berbagai penjuru dunia. Saya juga tidak mencoba mencari dasar-dasar untuk  menyalahkan atau membenarkan siapapun. Karena menurut saya, semua ini semata-mata ujian keimanan dan kesadaran kita semua.

Terlihat, bagaimana begitu khawatirnya pemerintah sehingga memutuskan untuk meliburkan kegiatan sekolah sampai batas yang tidak ditentukan. Bagaimana istri gelisah ketika suaminya pergi menuju kerumunan, padahal itu untuk mencari nafkah. Bagaimana seseorang dilarang bepergian ke luar kota, padahal dia ingin pulang ke kampung halamannya. Bagaimana semua orang sekarang tak lagi saling mempercayai, sehingga ragu untuk berjabat tangan. Bahkan bagi sebagian kalangan, berjabat tangan pun ditiadakan.

Saya tidak menyalahkan virus Corona, karena semua ini kehendak Allah, tapi ini tentang keprihatinan. Semua orang sekarang begitu takut dan kalut, seakan-akan mereka lupa, bahwa sebenarnya apa saja yang terjadi adalah kehendak-Nya. Atas perintah-Nya. Dan dengan tegas pula bahwa Allah memperkenalkan sebagai khairun hafithan. Tapi mengapa banyak diantara kita yang masih gelisah.

Begitu takutnya sehingga banyak orang kehilangan rasa kemanusiaannya. Masker diborong dan ditebas habis, tak disisakan untuk yang lain. Ada pula yang memanfaatkan momentum dalam hal komersial, menjual masker dengan harga yang jauh lebih mahal. Bahkan tidak sedikit orang yang sengaja menambah kekacauan dengan membuat berita bohong. Hoaks merajalela! Yang lebih menyedihkan lagi, banyak pihak menghimbau supaya jangan panik, tapi setiap hari terus di update jumlah korban yang terpapar. Bukankah itu malah menambah kepanikan? Ah..entahlah..!

Manusia di akhir zaman semakin terlihat karakternya. Terlalu mudah gagap dengan keadaan, sehingga kepanikan jelas terlihat dimana-mana. Padahal kita sebagai masyarakat Jawa memiliki pengalaman dan sejarah panjang untuk menghadapi wabah seperti ini. Seperti wabah Pes yang melumpuhkan Jawa pada tahun 1920. Kemudian yang paling termasyhur jelas kisah Syekh Maulana Ishaq yang berhasil mengusir pagebluk yang menyerang  kerajaan Blambangan ( Banyuwangi). Bahkan trik-trik mengusir wabah banyak di jumpai di berbagai wilayah di Jawa, entah itu secara spiritual maupun biologis. Misalnya tradisi Dongkrek di Madiun dan tradisi Oklik di Bojonegoro.

Dari situ bisa kita lihat bahwa ketahanan masyarakat Jawa menghadapi berbagai wabah. Dengan berbagai metode ilmiah maupun yang bersifat substansial spiritual. Karena konsepsi jawa, penyakit bisa bisa ditangkal dengan penyeimbangan jiwa dan kekuatan kesadaran. Maka tidak jarang begitu banyak metode-metode pengusiran pagebluk menggunakan cara-cara yang klinis. Seharusnya pengalaman sejarah seperti itu bisa digunakan di saat kondisi seperti ini. Pengajaran menguatkan jiwa dan menjaga keseimbangan kesadaran seperti itu mendapat stempel persetujuan” dari perspektif Islam. Melalui kekuatan do’a, Islam mengharapakan terjadi keseimbangan itu. Agar fokus kita tidak lagi rasa takut terhadap wabah tapi pengharapan keselamatan dari Allah.

Namun hal tersebut nampaknya mulai luntur di masyarakat Jawa sekarang. Tongkrongannya terlihat begitu agamis, tapi kelakuannya apatis. Bahkan mungkin mereka, kita, atau bahkan saya sendiri, sebenarnya sedang diperlihatkan aib-aib yang selama ini ditutupi. Dengan memunculkan karakter dan sifat asli yang melekat dalam diri. Apapun itu, seharusnya kita lekas introspeksi diri. Kenapa Allah “tega hati” menurunkan musibah seperti ini.

Sekali lagi, bukannya saya menyepelekan atau menggampangkan. Proteksi 100% wajib, karena itu bagian dari ikhtiar. Tapi perilaku, sikap, dan respons kita, seharusnya bersandar jelas pada haluan qada dan qadar-Nya. Sehingga kita benar-benar bisa mengambil hikmah dan bersikap bijaksana. Bisa saling menguatkan, menenangkan, dan saling mengamankan. Mari kita mencoba memandang musibah ini dari perspektif transendental. Tidak hanya memandang sebagai sesuatu yang harus ditakutkan berlebihan, melebihi ketakutan kita kepada Allah. Semoga kita bisa bersama-sama melewati musibah ini sebagai sesama muslim dan sesama manusia. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Berikut salah satu do’a nabi yang dipanjatkan untuk terhindar dari sebuah wabah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud;

“Allahumma inni a’udzu bika minal barash wal junuun wal judzaam, wa a’udzu bika min sayy’il asqaam” .

Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan keburukan penyakit-penyakit yang lain”.

Penulis : Rahmat (Anggota LTN NU Kab. Mojokerto)


Sudah dibaca : 112 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.