close

HOME // Opini

Menyikapi Musibah Dengan Cerdas Melalui Pendekatan Ilmu Tauhid

   Pada: Maret 15, 2020

 

Beberapa negara di dunia sedang menghadapi musibah penyakit yang mewabah secara massif yaitu Virus Corona atau Covid-19 yang menelan korban hingga ratusan bahkan ribuan jiwa meninggal dunia karena terjangkit virus tersebut. Tak terkecuali Indonesia yang baru-baru ini diumumkan secara resmi oleh pemerintah bahwa virus corona telah masuk ke Indonesia. Data terakhir yang masuk menyebutkan bahwa 96 orang WNI dinyatakan positif mengidap virus corona.

Dampak dari merebaknya virus ini adalah banyaknya fasilitas-fasilitas umum harus dihentikan, bahkan instansi-instansi pendidikan harus memberikan cuti beberapa hari untuk meminimalisir menyebarnya virus ini.

Namun yang menggeramkan dari kejadian ini adalah pandangan beberapa kelompok yang menganggap bahwa virus corona adalah adzab dari Allah untuk mengingatkan negara China yang mengintimidasi bahkan menekan dan menyiksa muslim Uyghur. Hemat penulis, pandangan demikian adalah pandangan yang tidak Fair (adil) ketika kita berpendapat bahwa segala musibah harus dimaknai sebagai adzab. Karna realitanya, bila pendapat tersebut benar lantas mengapa negara-negara islam juga terkena dampaknya?

Perlu pandangan dan fikiran jernih untuk memandang musibah yang terjadi di hampir seluruh belahan dunia ini. Salah satunya adalah melalui pendekatan teologis atau pendekatan ilmu tauhid.
Dalam ilmu tauhid dijelaskan bahwa Allah memiliki satu sifat jaiz yaitu :

فعلُ كلِّ مُمْكِنٍ أو تـرْكُهُ

“Yaitu Allah berhak melakukan segala yang mungkin bagi Allah, atau meminggalkannya”

Mungkin pemahaman ini nampaklah sederhana, namun memberikan dampak yang luar biasa dalam setiap lini kehidupan seorang hamba. Yaitu kita mengimani bahwa Allah senantiasa memiliki kuasa untuk melakukan segala kehendaknya termasuk menciptakan wabah penyakit sekalipun. Tugas kita sebagai seorang muslim adalah selalu berprasangka baik kepada Allah termasuk dalam menghadapi musibah yang Allah berikan kepada kita.

Salah satu prasangka kita adalah bahwa Allah memberikan ujian kepada kita berupa wabah virus corona ini sebagai ujian keimanan kita. Dalam Alquran Allah menegaskan bahwa setiap seorang muslim yang berikrar dengan keimanannya kepada Allah akan selalu menerima ujian, hal ini diabadikan dalam Alquran surah al-Ankabut ayat 2-3:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ﴿٢﴾وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ ﴿٣﴾

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”
“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa Allah tidak begitu saja membiarkan orang hanya mengucapkan “kami beriman” kemudian tidak diuji keimanannya. Tidak menutup kemungkinan bahwa Virus corona ini adalah suatu ujian yang diberikan oleh Allah untuk menguji kita, seberapa ingat kita kepada Allah, bahwa Allah lah yang menetapkan dan menentukan semua prosedur kehidupan kita. Kemudian seberapa ridho kita terhadap ketetapan-ketetapan Allah.

Dalam hal ridho terhadap segala ketetapan Allah, ada kisah luar biasa yang bisa diambil pelajaran datang dari kisah Rabiah al-Adawiyah dan Sufyan at-Saury yang kami kutip dari kitab Minnah ar- Rahman berikut:

قال سُفيان الثوري عند رابعة العدوية : اللّهمَّ ارضِ عنِّي! فقَالتْ لهُ : أَ مَا تَسْتحْيِي أنْ تَطْلُبَ رِضَا مَنْ لَسْتَ عَنْهُ بِرَاضٍ؟ سُئِلَتْ رابعةُ : مَتَى يكونُ العَبْدُ راضِيًا ؟ فقالت: إذَا سَرّتْهُ المُصِيْبةُ كمَا سَرّتْهُ النِّعْمةُ.

“Sufyan at-Saury berdoa di sebelah Rabiah al Adawiyah: Ya Allah Ridhoilah aku, saat Rabi’ah mendengar doa Sufyan tersebut, Rabi’ah berkata kepadanya: apakah engkau tidak malu meminta ridho Allah padahal engkau sendiri tidak ridho kepadaNya? Kemudian Rabiah ditanya oleh sufyan: Kapan seorang hamba dikatakan ridho kepadaNya? Rabiah menjawab: Saat kegembiraannya mendapat musibah, sama dengan kegembiraannya saat mendapat nikmat.” (Minnah ar-Rahman, darul kotob Islamiyah hal 110.)

Dari kisah tersebut, bisa kita ambil pelajaran bahwa seorang hamba akan dikatakan ridho kepada ketetapan Allah saat seorang hamba melihat nikmat dan musibah adalah sama-sama pemberian dari Allah yang perlu dihadapi dengan penuh kesabaran dan keridhoan. Pelajaran ini bisa kita implementasikan dalam memandang setiap musibah yang diberikan oleh Allah tidak terkecuali wabah virus corona ini, kita tidak perlu panik atau meratapi musibah ini, cukup dengan menjaga kesehatan dan mengikuti prosedur pencegahannya yang telah dijelaskan oleh pemerintah. Dan senantiasa memohon kepada Allah untuk dihindarkan dari segala marabahaya. Wallahu A’lam.

 

Mochammad Faiz Nur Ilham (Mahasiswa Ilmu Alquran Dan Tafsir Uin Sunan Ampel Surabaya Dan Anggota LTN PCNU Kab. Mojokerto)


Sudah dibaca : 492 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.