close

HOME // Opini

Penyuluh Agama Islam dan Media Sosial

   Pada: Maret 14, 2020

Pada hari Jumat, tanggal 13  Maret 2020, bertempat di Royal Trawas Hotel Mojokerto, Kementerian Agama Kabupaten Mojokerto menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Penyuluh Agama Islam bagi penyuluh yang baru direkrut pada bulan Desember lalu.

Dalam sambutan yang disampaikan Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto, Drs. Barozi, M.Pd.I, bahwa kehadiran penyuluh di lingkungan Kemenag menjadi sebuah idola baru karena merupakan representasi dan ujung tombak pemerintah di bidang agama dan keagamaan. Karenanya para penyuluh diharapkan memiliki kreativitas dalam berdakwah ditengah masyarakat. Lebih lebih diera kegandrungan masyarakat terhadap sosial media seperti sekarang ini.

Berdakwah di era milineal memerlukan dakwah dengan strategi baru. Para penyuluh harus bisa membuat konten dakwah via media sosial yang menarik, yang mampu menyasar kaum milenial. Dengan adanya manajemen dakwah yang memadai via media sosial, diharapkan penyuluh ikut membantu pemerintah dalam membendung berbagai serbuan konten-konten yang berisi paham-paham radikal transnasional yang ajarannya kurang menyejukkan dan tidak sesuai dengan amaliyah yang ada di masyarakat.

Lebih lanjut, Drs. Barozi M.Pd.I menyampaikan bahwa dalam dunia dakwah dengan kata kunci amar Ma’ruf nahi Munkar, seorang penyuluh harus berpedoman pada firman Allah yang menekankan bahwa dalam dakwah harus mengedepankan melalui hikmah, mauidhotul Hasanah, dan menyeru dengan kebaikan. Dalam melakukan penyuluhan di masyarakat, diharapkan penyuluh bisa mengidentifikasi dan  mengetahui setiap masalah yang muncul serta mampu memberikan solusi yang positif bagi masyarakat yang dihadapi dengan berbagai latar belakang, budaya, ekonomi, serta tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Ke depan, kata Kepala kemenag Kab. Mojokerto itu, tugas kepenyuluhan akan lebih berat dikarenakan tugas dan fungsi yang telah diamanatkan oleh pemerintah harus benar-benar dijalankan sesuai fungsinya dengan menyesuaikan kebutuhan yang ada di masyarakat.

Selaras dengan apa yang disampaikan Drs. Barozi, M.Pd.I, KH. Abdul Adzim Alwi, Ketua PCNU Kab. Mojokerto, bahwa dalam berdakwah memerlukan S tiga, yaitu sapa, sambung dan sayang. Seorang pendakwah harus terus menyapa umatnya dengan berbagai dakwah yang mengena. Dakwah yang mengena di era milineal itu bisa melalui kontek konten yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Selain itu juga pendakwah harus menyambungkan berbagai potensi yang ada, selain silaturahmi, pendakwah juga bisa menyambungkan berbagai jaringan yang berpotensi untuk bisa dijadikan sebagai emphowering masyarakat. Dan terakhir, menurut KH. Abdul Adzim, pendakwah harus memiliki sifat kasih sayang kepada umat yang memiliki berbagai macam karakter dan latarbelakang. Tanpa kasih sayang, maka yang akan muncul hanya menimbulkan kegaduhan kegaduhan.

Taufik al Mantuby

(Anggota LTN NU Kab. Mojokerto dan Penyuluh Agama di Kecamatan Kemlagi)


Sudah dibaca : 167 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.