close

HOME // JQH

PEMIMPIN YANG MEMBUMI DAN MELANGIT ; KAJIAN TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT : 246 – 247

   Pada: Maret 8, 2020

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ (246) وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (247)

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, Yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk Kami seorang raja supaya Kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. mereka menjawab: “Mengapa Kami tidak mau berperang di jalan Allah, Padahal Sesungguhnya Kami telah diusir(dipisahkan) dari anak-anak kami dari kampung halaman kami?”[155]. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang zalim.
  2. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah Kami, Padahal Kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari pada dia, dan diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui.

 

ASPEK MUFRADAT

NO LAFAZH ARTI KETERANGAN
1. الْمَلَأُ Para pemuka Merupakan اسم للجمع )kata benda yang bermakna jama’(.
2. لِنَبِيٍّ Kepada seorang Nabi Yang dimaksud adalah Nabi Syam’un (شمعون) dari keturunan Nabi Harun. Pendapat yang lain mengatakan Nabi Syamwil (شمويل)
3. هَلْ عَسَيْتُمْ Mungkin sekali kalian Maksudnya: “Mungkin sekali kalian lari (dari medan perang)
4.  كُتِبَ عَلَيْكُمْ Diwajibkan kepada kalian
5. تَوَلَّوْا Mereka berpaling
6. أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا Bagaimana ia bisa memimpin kami
7.  بَسْطَةً Keluasan

 

MAKNA UMUM

Pada QS. Al-Baqarah: 246 Allah swt menjelaskan bahwa kurang lebih setelah seribu tahun wafatnya Nabi Musa a.s. para pemuka Bani Israil meminta Nabi Syam’un a.s. atau dalam pendapat lain Nabi Syamwil a.s. agar berkenan mengutus seorang raja/pemimpin yang bisa memimpin mereka dan seluruh Bani Israil untuk berperang di jalan Allah melawan musuh-musuh yang telah mengusir mereka dan menawan anak-anak mereka. Namun ketika permintaan mereka terhadap kehadiran seorang pemimpin dikabulkan, hanya sedikit sekali yang mentaati dan mengikuti pemimpin mereka (Thalut), selebihnya banyak yang berpaling dan mengingkari janji mereka untuk berperang bersama pemimpin mereka melawan para musuh.

Selanjutnya pada QS. Al-Baqarah: 247, karakter asli kaum Bani Israil nampak pada sikap mereka terhadap kehadiran Raja Thalut. Mereka sedikitpun tidak mau bersyukur, bahkan semakin menampakkan kesombongan dan keangkuhannya. Mereka merasa bahwa hanya mereka dan anak turunnya saja yang layak menjadi raja/pemimpin dengan didukung kekuatan finansial (harta benda) yang melimpah-ruah. Padahal Allah swt sejatinya telah memilihkan mereka seorang raja/pemimpin yang terbaik, seorang pemimpin yang berilmu dan berwawasan luas serta mempunyai dimensi lahir dan batin yang sehat dan kuat.

ASPEK QIRA’AT

الْمَلَإِ : Jika diwaqafkan pada lafazh ini, Imam Hamzah membacanya dengan dua cara, yaitu dengan ibdal dan dengan tashil disertai dengan roum.

عَسَيْتُمْ : Khusus Imam Nafi’ membacanya dengan mengkasrahkan huruf sin. Sedangkan imam-imam qiraat lainnya membacanya dengan menfathah huruf sin.

بَصْطَةً : Semua imam qira’at Asyrah membacanya dengan sin

INTI SARI TAFSIR

Pada ayat: (فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ), Allah swt menjadikan kaum Bani Israil sebagai cermin suatu kaum yang berkarakter pengecut dan melanggar janji yang mereka buat sendiri. Sebelum berperang fi sabilillah melawan musuh mereka dan sebelum pemimpin yang mereka tunggu-tunggu itu datang, mereka menampakkan sikap optimis bisa mengalahkan musuh mereka, namun ketika pemimpin yang mereka harapkan itu datang dan memimpin mereka berperang mereka justru menampakkan sikap egoisme dengan cara mereka berpangku tangan di rumah dengan menikmati segala kenikmatan yang ada, dan membiarkan pemimpin mereka berperang sendiri melawan musuh bersama segelintir orang yang masih setia. Dari pelajaran tersebut Rasulullah saw melarang kita untuk berangan-angan bertemu dengan musuh, Beliau bersabda:

لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَسَلُوْا الله الْعَافِيَةَ، فَإذَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاثْبُتُوْا. (رواه الأئمة)

“Janganlah kalian berangan-angan bertemu dengan musuh, akan tetapi mohonlah kepada Allah agar senantiasa diberi kesehatan. Jika harus bertemu dengan mereka (para musuh) maka mantapkanlah niat, keyakinan dan hatimu kepada Allah”.

Segala bentuk pelanggaran terhadap janji sebenarnya telah diketahui Allah swt, karena hanya Dialah Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu di dunia ini (وَاللهُ عَلِيْمٌ بِالظَّا لِمِيْنَ). Dalam konteks kalimat penutup dari QS. Al-Baqarah: 246 ini secara tersirat Allah swt menegur kita supaya tidak mudah mengumbar janji kepada seseorang atau kelompok, karena janji adalah hutang, jika tidak ditepati maka hutang itu akan terus melilit kita sampai kelak dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt, yaitu ketika mulut terkunci, tangan berbicara dan kaki serta semua anggota tubuh bersaksi, sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Yasin: 65:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.

Pada ayat: (قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ) Allah swt memberikan gambaran kepada kita bagaimana keangkuhan dan kesombongan Bani Israil. Ketika telah didatangkan kepada mereka seorang raja/pemimpin yang bernama Thalut; yaitu seorang fakir miskin, tukang pembawa air, ahli penyamak kulit, dan juga seorang kusir keledai yang berasal dari keturunan Benyamin dan sama sekali tidak mempunyai garis keturunan para nabi maupun para raja, namun ia diberi anugerah Allah berupa kecerdasan yang luar biasa, sehingga derajatnya pun diangkat tinggi-tinggi oleh Allah swt, Sikap mereka itu tidak mengherankan, karena mereka merasa lebih berhak menjadi raja bila dilihat dari sisi nasab mereka yaitu dari keturunan ningrat Yahudza dan dari sisi nasab kenabian mereka yaitu dari Bani Lawa.

Dari gambaran kejadian di atas dapat kita petik pelajaran bahwa di dunia ini sikap Primordialisme akan selalu ada. Golongan manusia kelas elit acap kali  memandang sebelah mata para pemimpin yang muncul dari golongan manusia kelas bawah sekalipun ia mempunyai kompetensi dan kualifikasi. Berbeda halnya jika pemimpin itu berasal dari golongan mereka sendiri (kelas elit), siapapun dan bagaimanapun dia pasti akan dibela mati-matian. Mengapa demikian?, karena parameter mereka adalah dengan gelimang uang dan kemulian keturunan maka segalanya akan berjalan dengan lancar dan sukses.

Padahal kalau kita sadari dan kita kembalikan kepada konsep al-Qur’an, jelas yang demikian itu sangat bertentangan. Dalam QS. Al-Hujurat: 13 Allah menyatakan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ …

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

Pada ayat:

قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ

Allah swt menyatakan bahwa pemimpin yang Ia pilih kepada Bani Israil adalah sosok yang mempunyai wawasan dan keilmuan yang luas dan fisik yang tangguh.

Dari petikan ayat ini para ulama’ tafsir merumuskan kriteria seorang pemimpin yang ideal adalah sebagai berikut: 1) Mempunyai ilmu yang luas dan dalam, agamanya kuat dan fisiknya yang tangguh. 2) Mempunyai ilmu yang luas dan dalam, postur tubuh yang bagus, mempunyai fisik dan mental yang kuat.

Dari kriteria tersebut di atas, kita sama sekali tidak mendapati faktor nasab (keturunan) itu menjadi kriteria utama seorang pemimpin ideal, apalagi faktor kekayaan/harta benda. Walaupun demikian, jika faktor nasab atau faktor kekayaan/harta benda itu berbanding lurus dengan keilmuan yang luas dan dalam serta fisik dan mental yang kuat, maka tentunya akan lebih baik.

Oleh karena itu, dalam memilih seorang pemimpin Rasulullah saw telah memberi arahan kepada kita agar memilih pemimpin yang ideal (ahlinya) yang sesuai dengan kriteria al-Qur’an, agar kepemimpinanya bisa membawa kita selamat dan sukses di dunia sampai akhirat. Dalam satu riwayat hadis berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ضُيِّعَتْ

 الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ؟, قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ

 أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ (رواه البخاري)

Dari Sahabat Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw pernah bersabda: Jika amanat itu disia-siakan maka tunggu saja (kelak di hari kiamat akan dibalas). Sahabat Abu Hurairah bertanya: Bagaimana bentuk menyia-nyiakan amanat itu Ya Rasulallah?, Rasul menjawab: Yaitu jika suatu perkara/jabatan itu diserahkan kepada (pemimpin) yang bukan ahlinya. (HR. Bukhari)

Allah swt menutup ayat 247 dari surat al-Baqarah dengan kalimat:

وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ. Bahwa pemimpin yang memenuhi kriteria ideal sebagai mana tersebut di atas itulah sejatinya anugerah agung dari Allah dan atas kehendak Allah swt, bukan karena faktor keturunan atau harta benda. Dan mereka kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, sebagaimana tercantum dalam hadis Nabi:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ……(رواه البخاري)

Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan semuanya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah atas kepemimpinanya. Seorang imam adalah pemimpin dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah atas kepemimpinanya.(HR. Bukhari)

PENUTUP/ SIMPULAN

Melalui QS. Al-Baqarah: 246 ini Allah swt telah memberikan pelajaran (‘ibrah) kepada kita bahwa tekad berjuang di jalan Allah harus disertai dengan niat yang baik, bersih dan penuh kemantapan hati karena Allah ta’ala. Dengan demikian, apapun keadaan kita (lemah/kuat) dan siapapun yang memimpin kita sama sekali tidak akan mempengaruhi niat dan tujuan kita dalam berjuang di jalan Allah swt.

Pemimpin yang ideal yang bisa membumi dan melangit menurut QS. Al-Baqarah: 247 sama sekali tidak menempatkan kriteria keturunan (nasab) dan kepemilikan harta benda yang melimpah sebagai kriteria utama dan pertama, namun mempunyai ilmu yang luas dan dalam, pegangan agama yang kuat, kondisi fisik prima, postur tubuh bagus dan bermental baja itulah sejatinya pemimpin yang ideal.

 

Wallahu A’lam.

Penulis

Ustad. fatkhur Rahman M.A ( Ketua PC Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffazh Nahdlatul Ulama’ Kabupaten Mojokerto, Alumnus PIQ (Pesantren Ilmu AL-Qur’an) Singosari Malang dan Program Master of Arts di King Sa’ud University Riyadh – Arab Saudi.)

Sumber Pustaka

Al-Imam al-Jalil al-Hafizh ‘Imaduddin Abi al-Fida’ Ismail bin Katsir al-Qursyi al-Dimasyqi, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Juz I Hal. 392. Beirut: Muassasah ar-Raiyyan.

Abdul Fattah al-Qadhi, al-Buduru al-Zahirah, Hal. 52, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Juz IV Hal. 230. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1427 H.

Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Tafsiru al-Jalalain, Hal. 320, Beirut: Dar al-Fikr, 1991 M.

Syekh Muhammad Ali as-Shabuni, Shafwatu al-Tafasir, Juz 1, Hal. 132, Beirut: al-Maktabah al-Asriyah, 2004 M.

Abu Abdillah bin Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, al-Maktabah al-Syamilah.


Sudah dibaca : 793 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.