close

HOME // Sejarah

Biografi (Almarhum) KH. Mashul Ismail, Rois Syuriah PCNU Kab. Mojokerto

   Pada: Maret 2, 2020

KH. Mashul Ismail

KH. Mashul Ismail lahir pada tahun 1953, di Desa Karangminggah Kecamatan Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Beliau hidup dalam lingkungan yang sangat agamis, sehingga sejak kecil sudah ikut belajar ngaji di pondok pesantren. Selain di Pondok KH. Mashul Ismail, juga menempuh pendidikan formal. Ditingkat dasar, beliau menempuh pendidikan di SD umum, sekaligus merangkap di Madrasah Ibtidaiyah. Yang unik, saat beliau telah menamatkan pendidikan SD-nya, beliau masih duduk di kelas V MI.

Tahun 1965, KH. Mashul Ismail melanjutkan pendidikannya ke SMP di Kecamatan Purwosari. Di Purwosari inilah, KH. Mashul Ismail mengukir prestasi. Ia pernah menjadi anggota grup drum band terbaik tingkat nasional. Karena prestasi itu, beliau pernah bersamalaman dengan Presiden Sukarno.

Namun perjalanan pendidikannya sempat terganggu sebab tragedi tahun 1965. Banyak gurunya di SMP yang terlibat PKI. Sehingga sekolah sempat terhenti. Dan setelah aman, KH. Mashul Ismail mulai melanjutkan pendidikannya hingga pada tahun 1968, bisa tamat pendidikan SMP-nya. Di sela sela ketidakjelasan pendidikan SMP-nya itu, ia melanjutkan pendidikan MI-nya yang terhenti. Dan pada tahun 1967, KH. Mashul resmi mendapat gelar ijazah lulus MI. Jadi, selain mendapat ijazah SD, juga memperoleh ijazah MI.

Menjelang tahun 1969, KH. Mashul Ismail sempat hendak melanjutkan mondok ke Pesantren Sidogiri. Ia mendapat tiket VIP bisa masuk ke Pondok tanpa tes. Sebab kakaknya, KH. Ahmad adalah teman sekelas KH. Ismail Nawawi, pengasuh pesantren Sidogiri sekarang. Namun ia tidak mendapat restu dari guru ngajinya, KH. Yusuf Cholil. KH. Mashul Ismail selama di Purwosari ngaji kitab ke KH. Syaroni (Syuriah NU), dan KH. Yusuf Cholil (Ayahnya Gus Ipul). Kebetulan KH. Yusuf Ismail adalah sepupu dari Ibunya KH. Mashul Ismail. Dan yang momong KH. Yusuf Cholil waktu kecil juga adalah ibunda dari KH. Mashul Ismail.

Yusuf Cholil memerintahkan kepada KH. Mashul Ismail untuk melanjutkan belajarnya ke Pesantren Denanyar. Pondok Pesantren yang jauh dari desanya. Ada keengganan dan kekhawatiran. Tetapi doktrin untuk manut kepada guru lebih diugemi dari sekadar pertimbangan pertimbangan nafsu, maka KH. Mashul Ismail, pada tahun 1969, berangkat ke Pondok Pesantren Denanyar.

Di Pesantren Denanyar, ia dites dengan tes tulis serta mengirob tulisan Arab oleh KH. Iskandar (Ayahnya Muhaimin Iskandar). Karena sudah terbiasa dengan teks teks arab, maka KH. Mashul Ismail lulus dengan sempurna, sampai sampai KH. Iskandar sendiri heran dengan tulisan KH. Mashul Ismail yang sangat bagus. Hingga bertanya kepada KH. Mashul Ismail, “Kamu mondok dimana?”

“Saya tidak mondok kemana mana Kiai?” jawab KH. Mashul kala itu.

Di Denanyar, KH. Mashul Ismail melanjutkan ke MTS hingga MA. Selain itu, KH. Mashul Ismail juga sekolah di SMA Jombang. Pada tahun 1973, ia tamat menyelesaikan sekolahnya. Dan pada tahun 1974, KH. Mashul Ismail melanjutkan kuliah di IKAHA (Institute Kyai Hasyim Asyari) Tebu Ireng Fakultas Ushuludin. Kalau itu yang menjadi Dekannya adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). KH. Mashul Ismail menyelesaikan kuliahnya selama lima tahun. Namun kurang lima bulan dari wisudanya, ia diperintahkan KH. Iskandar untuk menikah. KH. Mashul Ismail dinikahkan dengan putri dari Pak Khusnan Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto. Pak Khusnan sendiri adalah guru MI dari KH. Iskandar. Dan akhirnya KH. Mashul Ismail pada tahun 1976 resmi memiliki istri.

Setelah punya istri, KH. Mashul Ismail tidak langsung berdomisili ke Gondang, tetapi masih tetap melanjutkan ngajinya di Pondok Denanyar. Apalagi setelah melihat kealiman dari Pak Khusnan, KH. Mashul Ismail melanjutkan pendalaman kitabnya langsung ke KH. Bisri Syansuri. Ia merasa punya beban moral bila keilmuan tidak mumpuni. Dari berguru langsung ke KH. Bisri Syansuri inilah, ia merasakan pendidikan yang luar biasa. Ke-NU-nya semakin terasah. Tidak dari pendidikan organisasi, tetapi langsung dari tauladan yang diberikan oleh KH. Bisri Syansuri.

Bisri Syansuri tidak pernah absen jamaah sholat wajib. Bacaan bacaan surat pada sholat wajib dihafal oleh KH. Mashul Ismail. Pun juga wirid wirid yang diajarkan. Dari kedekatan dengan KH. Bisri Syansuri inilah, KH. Mashul diberi wasiat, “Aku NU sepanjang hidup, kalau aku mati lanjutkan perjuangan NU”

Dari pesan inilah kemudian KH. Mashul Ismail Ngugemi untuk berjuang di NU. Waktu telah tinggal di Gondang, KH. Mashul Ismail aktif di MWC Gondang. Kemudian ditarik oleh KH. Masrikan menjadi pengurus PCNU Mojokerto. Pun dikala kepemimpinan KH. Dimyati, beliau juga diminta menjadi pengurus PCNU. Pernah menjadi khatib. Pernah juga menjawi wakil Syuriah. Hingga sekarang, menduduki kepemimpinan tertinggi dalam struktur PCNU Kabupaten Mojokerto, Rois Syuriah NU.

Sayang seribu sayang, belum genap pengabdiannya menjabat sebagai Rois Syuriah PCNU Kab. Mojokerto pada selasa 1 Oktober 2019 pukul 01.32 wib di RSI Sakinah beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Segenap warga Nahdliyin dan warga seluruh Mojokerto.

Penulis : Isno (Ketua LTN Kab. Mojokerto)

Sumber: Wawancara dengan KH. Mashul Ismail semasa hidupnya pada saat menjelang Musker PCNU Kab. Mojokerto di Wisata Desa Kecamatan Gondang Kab. Mojokerto


Sudah dibaca : 242 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.