close

HOME // Opini

NU Politik Dan Politik NU(1)

   Pada: Februari 29, 2020

Oleh : Zamroni Umar*)

Senar gitar itu kalau terlalu kencang akan mudah putus. Tetapi kalau terlalu kendor, suaranya akan sumbang. Maka, diperlukan sikap yang moderat, plus bacaan yang mumpuni atas konteks sosial politik yang dinamis. Itulah posisi yang selalu diambil Nahdlatul Ulama (NU) sepanjang sejarahnya. (Prof. Nadirsyah Hosen)

Wacana yang menjadi judul di atas senantiasa mengemuka saat terjadi kontestasi politik praktis di semua tingkatan terjadi. Dalam peristiwa politik terakhir (pilpres 2019) bisa dilihat, betapa peran NU menjadi penentu kemenangan Jokowi atas Prabowo dalam rivalitas pilpres terseru dalam sejarah Indonesia. Dari waktu ke waktu, NU senantiasa menjadi gadis cantik yang sangat elok dan menjadi rebutan oleh semua pihak.

Secara garis besar, KH. Abdurrahman Wahid dalam salah satu tulisannya membagi kaum Nahdliyyin menjadi 2 bagian ; NU Politik, yakni pandangan yang mengatakan bahwa NU harus mengambil peran praktis dalam berpolitik. Dan yang kedua adalah golongan Politik NU, yang berpandangan bahwa politik yang dilakukan oleh NU adalah politik kebangsaan.

Menurut pandangan kami, dua cara pandang dalam berpolitik ini setidaknya meneguhkan ideologi Aswaja dalam NU itu sendiri. Rujukan utama Aswaja dalam beragama (tentu setelah Qur’an) adalah pada generasi awal, yakni Nabi itu sendiri dan para sahabatnya. Begitupun NU, Cara pandang dalam berpolitik adalah mengikuti dua arus besar yang menjadi hasil ijtihad dari 3 tokoh utama berdirinya NU, yakni KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah dan KH. Bisyri Syansuri.

Pada masa awal berdirinya sampai dengan awal kemerdekaan NKRI, organisasi ini bermazhab Politik NU. Tetapi kemudian pada awal periode tahun 50-an, organisasi terjun dalam politik praktis dan bermadzhab NU Politik. NU Politik (berpolitik praktis) saat periode ini menyentuh relevansinya sampai dengan wafatnya KH. Bisyri Samsuri.

Pasca itu, NU Politik kehilangan relevansinya. Karena tidak ada seorang konduktor yang benar-benar memahami cara NU berpolitik praktis setelah wafatnya KH. Bisyri Syansuri, Muassis sekaligus Rais Am PBNU saat itu. (bersambung)

*Mudir Langgar Ledok, 27 February 2020


Sudah dibaca : 363 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.