close

HOME // Sejarah

Mbah Jatmiko, Kiai Mojokerto Pemberi Keris Gus Dur

   Pada: Februari 17, 2020
Makam Mbah Djatmiko dan Nyai Solikhah
Makam Mbah Djatmiko dan Nyai Solikhah

Suatu saat saya berjumpa dengan kawanku, seorang pegawai kemenag. Saya bercerita tentang proyek penulisanku yang bertemakan wali di Bumi Majapahit. Saya terangkan kepadanya, sudah beberap tokoh yang saya tulis, dan butuh lagi beberapa ulama lainnya. Ia kemudian menawarkan ke seorang tokoh, namanya Mbah Jat. Ia sendiri pernah ngawulo selama dua belas tahun di ndalem Mbah Jat. Mendengar pengakuannya, saya merasa senang dan akan menindaklanjuti dengan berkunjung ke makam dan keluarga Mbah Jat.

Karena saya juga menulis tokoh lainnya, sehingga baru sekian hari bisa memenuhi janji sowan ke putra mbah Jat. Itu pun bisa menyempatkan waktunya tengah malam.

Usai mengikuti rutinan simtut dhuror di desa Ringinrejo, sepeda kami membelah malam. Aku mengikuti kawanku itu dari belakang. Saya tidak tahu daerahnya. Dari padang asri, sepeda belok ke kiri, sampai di pertigaan hendak ke pasar Gondang, sepeda kekanan sekitar 500 meter. Kemudian belok kiri, masuk ke dusun Bacem desa Bening Kecamatan Gondang Mojokerto.

Sampai di sebuah rumah dengan lampu temaram kami berhenti. Disinilah rumah putra sulung Mbah Jat, Gus Wahid. Kami memasuki rumahnya yang dikanan kiri terpasang lampu ublik itu dengan pelan pelan. Sampai di dalam rumah, aku edarkan pandangan ke sekeliling. Terlihat rumahnya sangat eskotik. Seperti sebuah gua. Dengan ukiran ukiran indah. Diiringi pula gemericik air dari sebuah pancuran taman yang dikreasi indah.

Gus Wahid telah menunggu bersama dengan santri santrinya di ruang tengah. Aku duduk dihadapan beliau. Seorang santri tergopoh gopoh membuatkan kopi. Aku pun menyeruputnya setelah dipersilahkan minum.

Saya memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud tujuan datang ke Gus Wahid ini. Ia pun dengan ramah dengan gaya koboy yang akrab mempersilahkan saya bertanya sesuai dengan kebutuhan. Aku pun menanyakan sosok Mbah Jat itu seperti apa. Dan Gus Wahid pun bercerita.

Muhammad Djatmiko atau masyhur dipanggil Mbah Jat lahir di Desa Bening Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto pada tanggal 10 Februari tahun 1930. Ayahnya bernama Niti, bila diurutkan ke atas, kata Gus Wahid, akan mengarah silsilahnya dengan Kepatihan Ki Ageng Tunggul Manik. Untuk diketahui, Ki Ageng Tunggul Manik itu adalah orang tua dari Damarwulan, seorang Ksatria Majapahit yang pernah menundukkan Prabu Menakjinggo Blambangan.

Sedangkan ibunya bernama Kaminten. Yang punya jalur keturunan ke Mbah KH. Hasan Munadi Mbahngle, Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Mbah KH. Hasan Munadi sendiri adalah mursyid thoriqoh Naqsabandiyah yang dikemudian dilanjutkan kemursyidanya oleh putranya yakni KH. Muhammad Sholeh. KH. Mohmamad Sholeh sendiri dikemudian hari digantikan oleh putranya yakni KH. Abdul Chayyi yang kemudian menjadi guru dari Mbah Jat.

Mbah Jat sebelum bertemu dengan KH. Abdul Chayyi berguru kepada Mbah Thoif di Desa Losari. Di Mbah Thoif ini, Mbah Jat diajarkan ilmu ilmu hikmah yang diperoleh dengan cara bertapa di Gua. Suatu kali, Mbah Jat bersama teman seperguruannya diajak ke Gua Gembyang oleh Mbah Thoif. Di Gua ini, Mbah Jat ditugaskan untuk bertapa dalam beberapa minggu. Tetapi, kemungkinan Mbah Jat belum menemukan kesejatian ilmu, dari proses itu. Dan kemudian menuntut kepada Mbah Thoif untuk memperoleh ilmu yang lebih. Tetapi Mbah Thoif memberi nasehat agar Mbah Jat sabar, sebab sebentar lagi, mbah Jat akan bertemu seorang guru yang agung.

Dan kata kata Mbah Thoif itu ternyata benar. Mbah Jat tiba tiba didatangi oleh Syeikh Abdul Chayyi Muhyiddin Al Amin suatu hari. Dan kemudian menjadikan Mbah Jat sebagai murid dan berbaiat kepada Syekh Abdul Chayyi.

Tentang Mbah Jat yang didatangi oleh Syekh Abdul Chayyi ini, Gus Wahid menafsirkan, bahwa itu dikarenakan kemulyaan Mbah Jat. Sebab hanya Mbah Jat, seorang murid yang didatangi guru.

Tetapi apabila melihat hubungan antara Syekh Abdul Chayyi dan Mbah Jat yang masih memiliki hubungan kekerabatan, tentu kedatangan Syekh Chayyi bisa saja ditafsirkan untuk silaturahmi. Karena komunikasi intens itulah, sangat mungkin Mbah Jat kemudian tertarik untuk berbaiat dan menjadikan Syeikh Abdul Chayyi sebagai mursyidnya.

Mbah Jat berguru agak lama di Syekh Abdul Chayyi. Waktu itu, murid thoriqohnya tidak banyak. Hanya beberapa saja. Sehingga perhatian seorang mursyid kepada muridnya benar benar total.

Syekh Chayyi adalah mursyid thoriqoh Naqsabandiyah Uluwiyah. Beliau memperoleh baiat dari Ayahnya KH. Moh. Soleh. KH. Moh Soleh dibaiat oleh KH. Hasan Munadi. Dan KH. Hasan Munadi dibaiat oleh Syekh Murtadlo dari Pati Jawa Tengah seterusnya hingga Rasulullah.

Syekh Chayyi membuka baiat pada tahun 1944. Dan pada tahun 1952, beliau membuka pondok pesantren untuk murid muridnya yang melakukan khalwat di daerah Malang. Dan pada tahun 1956, Pondok Pesantren itu secara resmi diberi nama PP. Baitur Rohmah.

Di Ponpes Baiturohman, seseorang murid dididik untuk senantiasa taqarub kepada Allah melalui ritual seperti khalwat, menjaga wudhu, puasa, membaca wirid wirid thoriqoh, memperbanyak sholat sunnah, membaca al Quran, tafakur dan lain lain.

Setelah dalam waktu lama berkhalwat, Mbah Jat kemudian pulang. Ia menikah dan dikaruniai empat anak diantaranya Gus Nur Wahid, Auliya, Abdur rosul, dan Umi Umayah. Mbah Jat, menurut Gus Wahid, menjalani masa masa awal dengan kesederhanaan. Mbah Jat juga bertani dan ikut pula kerja mengambil batu sebagaimana dikerjakan warga di desa bening waktu dulu.

Selain bertani, Mbah Jat juga ditugasi oleh Syeikh Abdul Chayyi untuk merawat murid thoriqoh Naqsabandiyah Uluwiyah yang menyebar diberbagai daerah. Mbah Jat bersama Gus Wahid dulu, berkeliling ke berbagai daerah dengan jalan kaki. Mereka menyapa jamaah dan memberikan tausiyah seputar thoriqoh. Kata Gus Wahid, ia pernah diajak berjalan hingga ke Banyuwangi.

Seringnya interaksi dengan jamaah, menyebabkan Mbah Jat dikenal banyak kalangan. Bahkan Mbah Jat dijadikan tempat bertanya sebelum berbaiat atau setelah baiat kepada Syekh Abdul Chayyi.

Hingga kemudian menghantarkan pula Mbah Jat ke maqam dibutuhkan masyarakat. Setiap hari beliau melayani masyarakat dari pagi hingga pagi lagi. Kata Mahfudz, santri yang pernah mengabdi selama 12 tahun di Ndalem Mbah Jat, biasanya kalau siang, banyak masyarakat yang memintakan hajat hajatnya. Tetapi kalau sudah malam, banyak orang yang ngaji kepada Mbah Jat.

Waktu Gus Dur menjadi Presiden, Gus Dur sempat mau menemui Mbah Jat ke kediamannya. Tetapi menurut protokoler kurang layak, maka Mbah Jat dipanggil menemui Gus Dur di area Troloyo. Di hadapan Gus Dur, Mbah Jat menyerahkan sebuah keris dan berpesan kepada Gus Dur untuk membawanya saat naik pesawat. Sebab kata Mbah Jat, pesawat yang ditumpangi Gus Dur, mesinnya akan mati. Dan ternyata benar, Gus Dur, waktu kunjungan ke Australia, pesawat TNI yang digunakan ternyata mesinnya mati saat mengudara. Tetapi beruntung rombongan Presiden selamat semuanya.

Mbah Jat memperoleh maqom tinggi seperti itu, kata Gus Wahid, tidak lepas dari laku lampah yang tidak bisa diikuti oleh orang lain. Terutama dalam penghormatan kepada tamu, Mbah Jat orang yang sangat hormat kepada tamu. Tamu yang hadir akan disuguhi makanan, walaupun keluarganya belum makan. Tidak jarang pula, tamu justru diberi uang, sebab memang ia membutuhkan. Ada juga yang dikembalikan saat seseorang memberi uang kepada Mbah Jat. Sebab, dalam kewaskitaan Mbah Jat, orang yang memberi itu, untuk menberi harus dengan hutang tetangga.

Dan soal kedermawanan, kata Gus Wahid, Mbah Jat tidak ada tandingnya. Waktu dulu, Mbah Jat rumahnya jelek. Saking jeleknya, membuat Gus Wahid protes. Gus Wahid ingin rumah yang bagus. Akhirnya ia membakar rumahnya saat Mbah Jat beserta warga sedang sholat.

Mbah Jat tahu protes anaknya. Beliau pun membuat rumah yang bagus. Saat rumah sudah bagus. Ternyata rumah itu diberikan saudaranya.

Ceritanya, saudaranya Mbah Jat itu tidak menikah menikah. Mbah Jat menawari kalau mau menikah akan diberi rumahnya. Dan akhirnya saudaranya itu menikah dan diberi rumah Mbah Jat yang baru dibangun.

Saat Gus Dur memberi mobil kijang kapsul kepada Mbah Jat. Sesampai mobil itu dirumah, mobil itu justru diberikan kepada seorang anak yang lumpuh yang menyaksikan mobil baru yang datang bersama warga lainnya.

Mbah Jat meninggal pada tanggal 4 Mei 2009. Jenazahnya di makamkan di pemakaman umum dusun Bacem desa Bening Kecamatan Gondang. Karena banyak peziarah, keluarga memutuskan untuk membangun makam, dan mushola serta fasilitas umum di pemakaman Mbah Jat. Tentu setelah proses kesepakatan dengan perangkat dan warga.

Bahkan tiap tahun pula, santri dan warga sekitar memperingati haulnya Mbah Jat. Dan yang tidak dinyana, kata Gus Wahid, haul begitu ramai dengan banyaknya jamaah yang tumpah ruah. Mereka hadir dari berbagai daerah. Anehnya, panitia hanya mengundang via whatsapp group.

Pukul 01.30, aku memutuskan untuk ziarah ke makam Mbah Jat. Di Makam ini terlihat bersih dan rapi. Ada mushola dan juga kamar mandinya disamping makam untuk para peziarah. Sepertinya ini mengejawantahkan ajaran Mbah Jat, untuk hormat kepada tamu yang berziarah.

Penulis :

Isnoe Woeng Sayun

Ketua LTN NU Kab. Mojokerto


Sudah dibaca : 313 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.