close

HOME // Warta

Ngaji Kebangsaan, Alisa Wahid Berpesan Melalui Puisi

   Pada: Februari 14, 2020

Nu Online Mojokerto,

Ngaji kebangsaan yang dihelat oleh Gusdurian Mojokerto pada sabtu malam (25/01/20) berjalan sukses. Perhelatan dalam rangka memperingati Satu Dekade Haul Gus Dur itu digelar dengan mengangkat tema “Kebudayaan Melestarikan Kemanusiaan.”

Acara yang di pusatkan di Wisma PCNU kabupaten Mojokerto ini, dihadiri langsung putri Presiden RI ke empat, Alisa Wahid.

Kehangatan ditengah malam itu sangat terasa. Sejumlah tokoh agama dan masyarakat lintas agama berkumpul. Bahkan sesekali mereka bercengkrama tanpa sekat.

“Sudah pasti tentu ini bukan tanpa alasan, kami menghadirkan umat lintas agama guna menunjukkan kalau kita menjaga perdamaian dan ketentraman”, kata kordinator Gusdurian Mojokerto dalam sambutannya.

Dalam kesempatan ini, Ning Alisa Wahid mengisi orasi kebangsaan. Banyak pesan positif yang dapat diambil dari orasinya.

Ia menerangkan, kalau momen seperti inilah yang ditekankan oleh Gus Dur. Antar umat beragama bisa duduk bersama tanpa memandang latar belakang. “Saya ingin semuanya nanti mengenang momen ini”, ujar saat orasi kebangsaan.

Tak hanya berpesan dalam orasinya. Putri sulung Gus Dur ini, juga menyampaikan pesan melalui puisi. Berikut isi puisinya:

“Lelaki Yang Tak Punya Mata”

Seseorang pernah berteriak-teriak menghujat seseorang lelaki yang dimakinya tak punya mata
Ah, Aku ingat, lelaki yang dimakinya tak punya mata itu
Dahulu aku sering menggenggam tangannya

Aku ingat, matanya memang terpejam
Tapi nyata: ia melihat lebih banyak dari kami semua Memandang lebih dalam dari kami yang matanya membelakak Dan menyaksikan lebih jauh dari mata kami yang terbuka lebar
Lelaki itu… adalah samudera kehangatan Dimana setiap orang bebas berenang,
berselancar ataupun menyelam Tanpa takut ditanya:
“agamamu apa?”
Aku ingat, mata lelaki itu
, Ialah mata air, Yang darinya keluar cinta kasih melimpah-ruah
Meluber hingga ke samudera
Tak habis-habisnya disesap manusia
Mata lelaki itu adalah pelukan hangat untuk siapa saja
Terutama yang membawa luka
Dan disanalah kami semua menemukan rumah Tempat luka-luka dibasuh oleh air matanya
Mata lelaki itu, adalah jendela
Siapa saja bisa memanjat, untuk kemudian masuk ke dalam kepalanya
Menjelajah tanpa batas
Dan berakhir di hatinya yang lapang
Mata lelaki itu, adalah tunas kebaikan Yang tak pernah berhenti tumbuh meski selalu dibagikan ke semua orang Karena ia percaya: kebaikan untuk semua,
Bukan hanya golonganku saja
Dan dari tetes air mata kerinduan seluruh manusia yang mencintainya
Kami membangun jembatan, antara kami dan Si Lelaki yang katanya tak bermata itu
Melalui jembatan itu kami berjalan menuju samudera matanya
Menjauh, menjauh, dan masih jauh dari teriakan-teriakan lelaki pendengki yang tak punya hati

Ia juga berharap, agar selalu menjaga perdamaian dan kesatuan antar umat beragama demi persatuan Indonesia. Yang mana dalam hal ini bisa di fasilitasi oleh para pemuka agama.

“Peran para pemuka agama sangatlah penting. Bagaimana para pemuka agama bisa terus berkumpul dan bisa memberikan ruang pertemuan bagi umatnya, maka kebencian antar umat bergama akan hilang” tuturnya didepan awak media.


Sudah dibaca : 172 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.