HOME // Bahtsul masail

Bahtsul Masail Jadi Perawat Otoritas Keilmuan Ulama

   Pada: Februari 11, 2020

Pamekasan, NU Online

Matinya otoritas keilmuan kerap didengungkan di era industri 4.0. Di zaman serba internet ini, pengetahuan berseliweran dan dilontarkan oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Media sosial (medsos) dimanfaatkan untuk meruntuhkan otoritas keilmuan.

“Tapi hal itu tidak sepenuhnya berlaku di Nahdlatul Ulama (NU). Di NU, otoritas keilmuan ulama tetap diakui. Sebab, kita merawat sanad keilmuan secara istikamah,” tegas Sekretaris PCNU Kabupaten Pamekasan, KH Abdurrahman Abbas sebagai respon atas acara Bahtsul Masail di kediaman Kiai Buhari Akhyar, Sumber Nangka, Larangan, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (10/2) malam. Kiai Abdurrahman menerangkan, banyak ilmuan yang menulis di media massa mainstream betapa kini para pakar sudah tidak dibutuhkan. Kepakaran tidak lagi menjadi sebuah kebanggaan. “Misal berbicara politik, dulu yang menonjol suaranya adalah pandangan para pakar. Namun kini, siapa pun bisa dan leluasa berbicara politik,” urainya.

Tidak hanya pakar politik, pakar pendidikan, pakar ekonomi, pakar sosial, pakar budaya, dan seterusnya kini mulai tergerus. Berbekal selancar di internet, siapa pun bebas menyuarakan pandangannya. Bahkan, meskipun bukan pakar, kerap yang menanggapi lumayan banyak.

“Namun di NU, kepakaran tetap berlaku. Kiai yang alim dan berakhlak, tetap menjadi panutan dan sepenuhnya diteladani di kalangan nahdliyin. Tidak hanya satu persoalan, ragam tema yang disampaikan kiai NU sering jadi rujukan utama,” paparnya.

Menurut Kiai Abdurrahman, kondisi tersebut tidak terlepas dari keistikamahan NU dalam melestarikan budaya bahtsul masail; ketika ada persoalan, dibahas bersama-sama berdasarkan kitab-kitab ulama shaleh. “Kepakaran yang dilekatkan pada kiai atau ulama NU, berbanding lurus dengan budaya bahtsul masail yang menyandarkan referensi pada kitab klasik dan kiai menjadi penegasnya,” tegas Kiai Abdurrahman.

Dari itu, tambahnya, bahtsul masail mengajarkan untuk sabar dan tekun dalam meretas solusi atas persoalan. Jawaban instan atas permasalahan yang ada, diyakini justru akan melahirkan permasalahan baru. “Kiai NU dan warga nahdliyin tidak mudah memvonis halal-haram atas sesuatu yang debatable.

Namun, mereka masih mencarikan landasan dan didiskusikan bersama. Bahtsul masail adalah solusi utamanya,” terangnya. Ia berharap agar bahtsul masail tetap dilestarikan. Para pemuda harus terlibat aktif di dalamnya. “Saya bersyukur masih banyak pemuda yang terlibat dalam bahtsul masail. Setidaknya mereka memahami dan menyadari betapa penentuan hukum itu butuh proses yang tidak instan. Sebab, dampaknya sangat luas bagi kehidupan bermasyarakat,” tukas Kiai Abdurrahman.

Kiai Abdurrahman menerangkan, banyak ilmuan yang menulis di media massa mainstream betapa kini para pakar sudah tidak dibutuhkan. Kepakaran tidak lagi menjadi sebuah kebanggaan. “Misal berbicara politik, dulu yang menonjol suaranya adalah pandangan para pakar. Namun kini, siapa pun bisa dan leluasa berbicara politik,” urainya.


Sudah dibaca : 222 Kali
 


Berkomentarlah yang bijak. Apa yang anda sampaikan di kolom komentar adalah tanggungjawab anda sendiri.