Bupati Mojokerto Diculik karena Menolak Mengibarkan Bendera Merah Putih

Tidak semua orang menyambut bahagia atas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Terutama mereka mereka yang telah terninabobokkan oleh kekuasaan sejak era Belanda hingga Jepang. Dengan kemerdekaan Republik Indonesia, sangat mungkin mereka khawatir, apabila genggaman kekuasaan akan terlepas direbut para pejuang.

Seperti yang terjadi pada Bupati Mojokerto, yakni R. Reksoamiprojo. Ia tidak mau mengibarkan bendera merah putih. Juga lebih memilih menjaga jarak dengan rakyatnya. Rumahnya justru dijaga tentara Jepang dengan jumlah yang banyak. Sedang rakyat Mojokerto sendiri sedang euphoria atas proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, bahkan bertindak jauh, yakni melucuti senjata Jepang.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Komisaris polisi yang bernama Djanakum. Ia lebih memilih menjaga status quo daripada berpihak kepada para pejuang.

Karena itu, para pemuda memutuskan untuk menculik pejabat pejabat yang tidak berpihak kepada Republik. Penculikan pejabat-pejabat tersebut didahului dengan menguasai kantor telepon. Dan kemudian dua pejabat itu diculik. Keduanya kemudian dilarikan ke Tebuireng Jombang dan diserahkan kepada Gus Abd. Cholik Hasyim (putra KH. Hasyim Asyari yang juga bekas Daidanchoo Peta).

Disaat melarikan kedua pejabat itu, para pemuda Mojokerto merasakan adrenalin yang berpacu. Sebab mereka dikejar oleh satu truck penuh polisi yang dipimpin oleh Inspektur Polisi Hamid. Ketegangan memuncak pada waktu inspektur Hamid menuju jurusan Cukir. Hampir hampir saja para pemuda Mojokerto itu tertangkap. Beruntung mereka diselamatkan oleh Gus Abdul Choliq yang menyamar menjadi penjaga pintu kereta api dengan  menutup palang kereta api  hingga para Polisi itu terhalang mengejar para pemuda Mojokerto.

R. Reksoamprojo dan komisris Djanakum yang diculik selanjutnya dibawa ke Tebuireng dan atas kesepakatan para pemuda maka mereka dibawa kembali ke Mojokerto dan diserahkan kepada pimpinan untuk diadili. Kemudian mereka dibawa ke Pacet dan dikumpulkan dengan tawanan – tawanan yang lain. Selanjutnya rakyat mengusulkan kepada pemerintah Pusat, agar Dr. Soekandar yang waktu itu juga salah satu pimpinan P.R.I. untuk menjadi Bupati di Mojokerto. Usul tersebut diterima dan dikabulkan oleh Pemerintah Pusat. Maka sejak saat itu Dr. Soekandar menjadi bupati pertama Republik Indonesia di Mojokerto. Dengan dibantu oleh Bapak Pamoedji sebagai patih dalam kota dan Bapak Amiroedin sebagai Patih luar kota, pemerintah kabupaten Mojokerto berjalan dengan lancar.

Isno, Ketua LTN NU Kab. Mojokerto

BERITA LAINNYA