Jejak TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) Jatim Detasemen I Brigade 17 di Desa Parengan Kecamatan Jetis Mojokerto

Keberadaan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur tidak dapat dipisahkan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di kota Surabaya. Mereka ikut dalam usaha-usaha mempertahankan kemerdekaan dalam masa perang Revolusi. Pada awalnya satuan-satuan pelajar itu berdiri sendriri- sendiri, tetapi sejak Oktober 1945 mereka diresmikan menjadi Badan Keamanan Rakyat Pelajar (BKR/P) oleh Soengkono, Ketua Badan Keamanan Rakyat Kota Surabaya di gedung Sekolah Menengah Tingi( SMT) jalan Darmo no. 49 Surabaya.

Pada saat Surabaya dalam situasi memanas akibat Pasukan Sekutu yang melakukan pendaratan pasukan, bahkan telah merebut pos pos penting di Surabaya, tanpa memperoleh izin dari otoritas Surabaya yang telah dikuasai oleh para pejuang, BKRP (Badan Keamanan Rakyat Pelajar) yang sedang mengkonsolidasikan diri di desa kali Waron (sebelah timur kota Surabaya), pada tanggal 27 Oktober 1945 mendapat tugas dari BKR kota Surabaya, untuk merebut kembali gedung HBS (Hogere Burger School) di jalan ambengan (kini jalan Wijaya Kusuma) yang telah ditempati markas pasukan Sekutu. Pada tangal 28 Oktober 1945 pukul 05.00, pasukan BKRP bersama sama dengan pejuang lain, melakukan serangan dimulai dan atas keberanian pemuda HABNIL ZAINAL (kini dokter di Jakarta) yang tidak mengenal takut atas berondongan senjata lawan, sehingga mampu menjebol pagar yang merintangi pandangan para penyerang. Pada pukul 13.00 WIB tanggal 29 oktober 1945, gedung HBS dapat direbut oleh BKRP. Dari perebutan gedung HBS ini, seorang anggota BKRP yang gugur adalah sdr. DUMADIOHADI dari SMP Ketabang.

Pada tanggal 9 Nopember 1945, sebelum pecah perang 10 Nopember, Inggris yang mewakili pasukan sekutu, mengkhianati perjanjian damai dengan pihak Republik. Bahkan pasukan Inggris memberikan selebaran ancaman kepada pejuang pejuang Surabaya. Ancaman Pasukan Inggris itu tidak membuat takut para pejuang, bahkan mereka membulatkan tekat untuk melawan. BKRP pun bersikap memilih mati dari pada menyerah kepada sekutu. Semua sudah seia sekata untuk mempertahankan kota Surabaya. Keputusan kebulatan tekad ini ditandatangani oleh 9 satuan pejuang bersenjata pada tanggal 9 Nopember 1945 pukul 18.00 WIB di markas BKR jalan Pregolan dan diantara 9 satuan pejuang ini terdapat BKRP yang diwakili oleh Pratomo dan Soebiantoro. Instruksi–instruksi ke seluruh satuan diberikan oleh Soengkono sebagai komandan Markas Pertahanan Surabaya di Kali Asin. Isi instruksi itu, agar BKR dan semua satuan pejuang meningkatkan kesiagaan dan tidak boleh menembak sebelum sekutu memulai menembak.

Pertempuran 10 Nopember 1945 tidak terelakkan. Sekutu mengerahkan kekuatan darat, laut dan udaranya dengan kendaraan tank lapis baja dan bersenjatakan mortir, roket, mitralieur dan bom-bomnya untuk menggempur pasukan pejuang yang bersenjata api sederhana dan senjata tradisional. Namun semangat yang berkobar kobar dan dengan semboyan MERDEKA atau MATI, terus menggema. Surabaya banjir darah. BKRP mundur setelah melakukan pertempuran habis habisan. Mereka melakukan konsolidasi di Kedurus. Setelah berkonsolidasi di Kedurus BKRP mendapat tugas baru di front Gunungsari. Pertahanan Gunungsari ini merupakan garis pertahanan terakhir bagi BKRP Surabaya yang mempertahankan kota Surabaya dari serangan Sekutu. Dalam pertempuran mempertahankan Gunungsari ini BKRP mengalami pengalaman yang pahit karena jatuh korban sebanyak 5 orang yaitu Sdr. Hardjono, Sdr. Soewardjo, Sdr. Soewondo, Sdr. Soetoyo, dan Sdr. Samsudin. Sedang yang ditawan antara lain,  sdr. Soebadi dan Nilo Perbowo.

Akibat kekalahan pahit di Front Gunugsari tersebut BKRP mundur, sebagian ke daerah Sepanjang dan sebagian ke jurusan yang telah ditentukan di desa Parengan Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Desember 1945. Pada waktu konsolidasi kekuatan BKRP sekitar 400 anak pelajar.

Nama BKRP ini kemudian berubah menjadi TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Perubahan nama pasukan pelajar ini mengikuti perubahan nama BKR yakni tanggal 5 Oktober 1945, BKR berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), BKRP menjadi TKRP. Kemudian pada sejak tanggal 24 Januari 1946 TKR berubah lagi menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) dan TKRP juga berubah menjadi TRIP.

Desa Parengan Kecamatan Jetis benar-benar merupakan tempat bersejarah bagi TRIP karena ditempat ini mereka dengan tekun mengadakan latihan militer sehingga menjadi kekuatan pejuang bersenjata yang diperhitungkan oleh lawan. Di Desa Parengan ini, TRIP bermarkas cukup lama sejak Desember 1945 sampai Juli 1947. Pergaulan dengan rakyat sangat akrab, bahkan mereka dianggap seperti anak sendiri, karena umur mereka rata-rata antara 15-20 tahun. Dari markas di Desa Parengan ini kemudian TRIP berkembang ke seluruh Jawa Timur. TRIP semakin lama semakin besar jumlah keanggotaannya, lebih-lebih setelah bergabungnya lasykar-lasykar IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) di daerah daerah menjadi TRIP, sehingga terkenal dengan sebutan TRIP Jatim Detasemen I Brigade 17.

Dipilihnya desa Parengan Kecamatan Jetis kabupaten Mojokerto sebagai markas TRIP Jawa Timur karena : 1) Berbatasan dengan Surabaya sehingga masih dalam tanggung jawab Pertahanan Surabaya, 2) Berdekatan dengan markas Pertahanan Surabaya yang baru di Kecamatan Wringin anom, sehingga memudahkan koordinasi, 3) Tempatnya cukup jauh dari front, tetapi mudah untuk memanggil para komandan TRIP untuk berkoordinasi dengan pimpinan, 4) Semua pengiriman pasukan TRIP dari daerah-daerah Kediri, Bojonegoro, Madiun dan lain-lainnya bahkan bantuan tentara pelajar dari Jawa Tengah Detasemen II juga harus melalui markas TRIP Jawa Timur Detasemen I di desa Parengan untuk mendapatkan beberapa petunjuk dan situasi medan yang diperlukan.

Sebagai balas budi antara rakyat desa Parengan Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto dengan para anak-anak ex. TRIP Jatim, maka pada tanggal 31 Juni 1976 telah diserahkan sebagai kenangan, sebuah gedung balai desa dan rumah kepala desa di desa Parengan dan gedung sekolah SMP di Kecamatan Jetis. Penyerahan kenang-kenangan ini dihadiri oleh sebagian besar para bekas anak-anak TRIP yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan luar negeri dan pejabat pusat maupun daerah sambil bernostalgia dalam ikut mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 khususnya dalam pertempuran di kota Surabaya dan di daerah Jawa Timur pada umumnya.

Dari data yang diperoleh, anggota TRIP Jawa Timur yang gugur sebagai kesuma bangsa dalam pertempuran pertempuran yang telah dilakukan diantaranya, 1) sewaktu ikut dalam pertempuran di kota Surabaya th. 1945 kehilangan / gugur     sebanyak 16 orang, 2) Sampai dengan akhir tahun 1949 (waktu penyerahan kedaulatan) yang gugur sebanyak 143 orang.

 

Isno, Ketua LTN Kab. Mojokerto

BERITA LAINNYA