Mengenal Sosok Abah Juwaini, Bendahara Umum Yayasan Sakinah Awal Mula

Menelusuri sejarah berdirinya Rumah Sakit Sakinah tidak bisa tidak harus menyebut sosok satu ini yakni H. Juwaini. Ia bersama dengan H. Siroji Ahmad dan KH. Masud Yunus, H Dawi serta GP. Ansor pada eranya, yang berjibaku berjuang mewujudkan cita cita KH. Achyat Halimi, agar warga NU punya rumah sakit sendiri. 

H. Juwaini bersama sama dengan GP. Ansor mewujudkan pendirian rumah sakit Sakinah dimulai dengan halaqoh untuk mematangkan program. Dari halaqoh inilah kemudian mereka bergerak untuk mewujudkan pendirian rumah sakit Islam.  

"Halaqoh itu diskusi untuk mematangkan program pendirian rumah sakit. Tetapi saya harus mengakui, bahwa ide mendirikan rumah sakit itu didahului oleh Muslimat, Dan harus mengakui juga bahwa kami melakukan gebrakan setelah Muslimat punya klinik kesehatan. Kami mencari tanah yang lebih luas yang memungkinkan pendirian rumah sakit. Dan kami menemukan rumah makan mbok berek yang memang layak untuk dipilih" kata H. Juwaini.

Untuk bisa membeli Rumah Makan Mbok Berek, H. Juwaini berjibaku mendealkan harga dengan pemiliknya. Ia berangkat bersama dengan KH. Masud Yunus dan H. Dawi naik mobil kijang. 

"Waktu itu saya naik mobil kijang milik Haji Dawi. Meskipun terseok seok akhirnya nyampek juga di Jogja. Disana kami disuguhi makan. Padahal kami kan sedang puasa ramadhan. Dari pertemuan itu, pihak mbok berek menyatakan harga rumah makannya dipatok 200 juta. Karena ini akan digunakan untuk rumah sakit Islam, mereka menyumbang 10.000.000. Zaman waktu itu belum ada Hp. Jadi tidak bisa langsung memutuskan. Kita pulang dulu. Nunggu keputusan Yai. Baru ketika sampai di Mojokerto, Yai setuju dengan harga itu" kenang H. Juwaini.

H. Juwaini sendiri menyatakan bahwa uang 200 juta bila dikurskan saat ini, mungkin hitungan milyar. Meskipun nominalnya besar, toh pada akhirnya terbeli juga. Hal ini menurut H. Juwaini tidak bisa dilepaskan dari nama besar KH. Achyat Halimi.

"Berkah dari KH. Achyat Halimi-lah, rumah makan mbok berek terbeli, dan RS. Sakinah mampu berdiri. Bantuan datang dari berbagai penjuru. Sampai sampai saya kewalahan. Kadang Yai datang tengah malam, kadang pagi hari. Untuk setor uang. Saya kewalahan. Saya taruh saja di kamar saya. Pada saat saya setor ke bank untuk diamankan, saya langsung berikan ke petugas. Petugasnya yang menghitung. Saya tidak sempat menghitung. Saking sibuknya" tutur H. Juwaini mengenang.

Pria yang beralamatkan di Jl. Raya Sambiroto ini menuturkan bahwa selain RS. Sakinah disokong oleh para agniya juga oleh masyarakat akar rumput. Warga Nahdliyin menyumbang dengan beras yang dipunyai. Maka, menurut H. Juwaini, panitia sibuk mengambil sumbangan sumbangan dari berbagai masyarakat. Ada yang diantar langsung ke rumah H. Juwaini, ada pula yang diambil. 

Ketika mengingat sumbangsih masyarakat bawah itu, H. Juwaini teringat pesan KH. Achyat Halimi, bahwa kelak apabila RS. Sakinah sudah memperoleh keuntungan agar terus melayani warga Nahdliyin yang tidak mampu. 

"Yang saya ingat Yai itu bilang kalau nanti Sakinah sudah dapat untung, agar ia bisa melayani warga nahdliyin yang tidak mampu. Ini selaras dengan cita cita beliau mendirikan rumah sakit Sakinah awal mula" ujar H. Juwaini. 

H. Juwaini mengenang bagaimana awal mula masa masa berdirinya RS. Sakinah dan masa masa menghadapi kesulitan. Hingga tahun 1996 saat ia memasukkan accountan yang merupakan tetangganya sendiri. Ia ditugaskan untuk menata administrasi yang masih sederhana. Hingga kemudian persoalan administrasi tertata dengan rapi. 

Keuangan pun mulai meningkat, lebih lebih saat ada perjanjian kerjasama antara RS. Sakinah dan Pabrik Djiwi. Banyak diantara karyawan karyawan Djiwi yang berobat ke RS. Sakinah. Lebih lebih bila banyak yang melakukan operasi, keuangan RS. Sakinah bisa mengatasi pos pos yang kekurangan. 

RS. Sakinah semakin berjaya manakala telah memperoleh kerjasama dengan Askes. Hanya sayangnya H. Juwaini sudah melepaskan kepengurusannya di RS. Sakinah yang ia pegang selama sepuluh tahun. Kini sang bendahara umum, yang diamanahi oleh KH. Achyat Halimi memegang keuangan ini, hanya bisa berharap agar kepengurusan sakinah benar benar serius mengurus umat. (ISNO)

BERITA LAINNYA