dr. Zainul Muhtarom, Direktur Pertama RS. Sakinah

Rumah Sakit Sakinah merupakan rumah sakit swasta terbaik di Mojokerto. Memperoleh predikat tersebut tidak bisa dilalui dengan mudah. Ada sekian banyak tangan tangan yang berjasa membesarkannya.

Adalah dr. Zainul Muhtarom, seorang dokter ahli bedah, salah satu dari founding father rumah sakit ini. Ia menjadi direktur pertama rumah sakit milik warga NU tersebut. Ditangannya rumah sakit ini berdiri.

dr. Zainul Muhtarom mengenal kalangan Nahdliyin saat ia rutin ikut pengajian ahad pagi yang diselenggarakan oleh KH. Achyat Halimi. Dari situ ia kemudian akrab dengan pemuda pemuda Ansor, seperti Abah Siroj, KH. Masud Yunus, Dayat, Pak Masrur.

Dari perkenalan dengan mereka, ia mengetahui keresahan yang dikemukakan oleh para pemuda Ansor. Mereka ingin mewujudkan keinginan dari KH. Achyat Halimi untuk mendirikan rumah sakit Islam yang dicita cita kan. Sampai tahun itu, KH. Achyat Halimi telah mewujudkan cita cita besarnya untuk mendirikan pesantren, masjid, yayasan yatim piatu, sekolah. Hanya tinggal satu yakni rumah sakit.

Karenanya Pemuda Ansor menggelar Halaqoh, semacam diskusi kecil tiap minggu dengan pemateri yang berganti ganti. dr. Zainul Muhtarom menjadi salah satu pembicara yang biasanya ia menjelaskan pentingnya mendirikan rumah sakit dan proses proses pendirian rumah sakit. Waktu itu kata dr. Zainul Muhtarom, setiap diskusi selalu didampingi Kiai. Tujuannya untuk keseimbangan antara pengetahuan umum dan sudut agama.

Tentang pentingnya mendirikan rumah sakit, justru kata Dr. Zainul Muhtarom, yang cepat tanggap adalah ibu ibu Muslimat. Ia masih ingat saat didatangi oleh pengurus Muslimat yang memberinya uang satu kresek di depannya. Ia diminta untuk mengawal proses berdirinya klinik kesehatan, yang dikemudian menjadi klinik an Najah-Unggahan. Ia pun membantu hingga sampai proses pendirian.

Melihat keseriusannya membantu Klinik an-Najah, kata dr. Zainul Muhtarom, membuat Pemuda Ansor "cemburu". Ia didatangi oleh para Pemuda Ansor untuk mengajaknya membuat rumah sakit. Kontan saja, sebagai sahabat dan Nahdliyin, ia siap membantu, tanpa melepaskan tanggungjawabnya untuk mensukseskan pendirian klinik an Najah.

dr. Muhtarom pun ikut berbagai upaya upaya mendirikan rumah sakit Sakinah sebagaimana diupayakan para Pemuda Ansor atas arahan KH. Achyat Chalimi. Dimulai dari pembelian rumah makan Mbok Berek hingga presentasi di depan para agniya tentang urgensinya warga Nahdliyin mendirikan rumah sakit. Dari upaya meyakinkan itu, para agniya mengeluarkan uang hingga terkumpul jutaan rupiah.

Dari upaya upaya pengadaan dana untuk mendirikan rumah sakit Islam, yang paling berkesan bagi dr. Zainul Muhtarom adalah bergotong royongnya seluruh warga Nahdliyin untuk ikut berkiprah dalam proses pendirian, seperti jimpitan beras. Keseriusan umat untuk mendirikan rumah sakit dengan mengeluarkan harta benda mereka itulah yang menjadi spirit Dr. Zainul Muhtarom untuk totalitas dalam pengabdian.

Tahun 1990 rumah sakit Islam Sakinah berdiri. dr. Zainul Muhtarom ditunjuk sebagai direktur. Tugas sebagai direktur itu dijalani dengan berat. Pasalnya dari segi lingkungan, kanan kiri sakinah masa itu masih sepi. Terbentang sawah dikanan kiri. Sehingga malam malam terasa mencekam. Tetapi beruntung para Pemuda Ansor sering ke rumah sakit sakinah untuk sekadar ngobrol, liwetan bahkan ikut membenahi rumah sakit sakinah yang rusak atau perlu pembenahan. Beruntungnya pula, tidak berapa lama, seorang pengusaha yang bernama Bambang, menemui dr. Zainul Muhtarom dan menyatakan keinginannya untuk membangun perumahan di depan sakinah, yang kelak menjadi cikal bakal perumahan Japan Raya. Waktu itu yang dibangun ruko ruko di depan sakinah itu. Walaupun tersendat penjualannya, minimal sudah ada satu dua penghuni lain selain dirinya.

Faktor keuangan juga menjadi kendala yang serius di rumah sakit sakinah kala itu. Belum banyak orang yang berminat berobat ke Sakinah. Selain faktor jauh dari kota, juga peralatan kurang lengkap. Dan mungkin juga persoalan SDM.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi persoalan itu. Misalnya saja untuk kekurangan peralatan, kata Dr. Zainul Muhtarom, diatasi dengan meminjamkan alat alat dari Klinik an Najah. Kadang juga dipinjami oleh kolega kolega sesama dokter. Ambulan misalnya, memperoleh pinjaman dari Rumah Sakit Islam Surabaya.

Dr. Muhtarom menjadi direktur RS. Sakinah hingga tahun 1994. Saat itu ia mengundurkan diri sebab harus melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi, menjadi dokter bedah. Menurut Dr. Zainul Muhtarom, saat ia meninggalkan Rumah Sakit Sakinah, saat itu sudah sedikit banyak mendapat kepercayaan, khususnya kolega sesama dokter. Banyak dokter yang ikut membantu RS. Sakinah.

Hingga tahun 1999, Dr. Zainul Muhtarom menyelesaikan kuliahnya. Usai kuliah, ia sudah dikontak sakinah untuk bergabung kembali sembari ia juga meniti karir di rumah sakit lain. Tercatat, ia pernah menjadi Dokter di RS. Resko Waluyo, RS. Gatoel, dan juga RS. Prof. Dr. Sukandar Mojosari.

Kala itu, berdasarkan pengakuan pria kelahiran 1961 itu, saat ia "nyuku" di dua rumah sakit antara RS. Gatoel yang bergaji tinggi dan RS. Sakinah dimana ia memiliki sejarah pengabdian, maka ia memilih RS. Sakinah. Begitupun saat ia bersama sama dengan pengurus RS. Sakinah berjibaku untuk membesarkan RS. Sakinah, kala itu ia bertemu dengan koleganya di kampus, yang kebetulan pimpinan yang mengurus askes wilayah. Ia melobi agar bisa membantu rumah sakit yang ditanganinya, memiliki akses untuk askes di Mojokerto. Koleganya itu siap membantu, tetapi hanya untuk satu rumah sakit. Kebetulan waktu itu pilihannya antara RS. Sakinah dan RS. Arofah Mojosari. Di RS. Arofah Mojosari, Dr. Zainul Muhtarom memiliki saham. Tetapi Dr. Zainul Muhtarom dengan mantap memilih RS. Sakinah untuk diberi kewenangan mengelola askes Mojokerto.

Meskipun sudah memperoleh rekomendasi dari pimpinan wilayah, tetapi untuk pengajuan di Mojokerto mengalami kendala. Menurut Dr. Zainul Muhtarom, hal ini ditengarai ada kongkalikong pejabat setempat dengan salah satu rumah sakit di Mojokerto yang mendominasi. Akhirnya dengan langkah langkah cerdik, pejabat tersebut meng-ACC sehingga RS. Sakinah resmi memperoleh hak mengelola Askes. Berangkat dari sinilah tahapan berkembangnya rumah sakit milik warga Nahdliyin Mojokerto itu dimulai. (Isno)

BERITA LAINNYA