Menangkal Radikalisme, BNPT dan FKPT menggandeng AGPAI Jawa Timur

Hotel Ayola - Pada rabu (15/5/19) hall hotel ayola dipenuhi oleh peserta pelatihan "Harmoni dari Sekolah : Integrasi Nilai nilai agama dan Budaya di Sekolah dalam menumbuhkan harmoni kebangsaan." Pelatihan ini diselenggarakan oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dan FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Jawa Timur. Para peserta, selain dipenuhi oleh anggota AGPAI (Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam) Jawa Timur, juga dari masyarakat umum, termasuk juga guru guru non muslim yang turut diundang. Mereka menyimak ulasan ulasan dari narasumber yang berbobot tentang program deradikalisasi. 

M. Hana S.Sos, ketua panitia, menyatakan tujuan diselenggarakan pelatihan ini adalah untuk sosialisasi program menolak radikalisme melalui Pendidikan Agama Islam. Selama ini, program deradikalisasi telah merangkul beragam elemen. Salah satu elemen itu yakni dari unsur pendidikan. 

Dr. Andi Intan Dulung M.H.I, dari BNPT, menyatakan bahwa pelatihan deradikalisasi itu sangat penting, mengingat sudah begitu berbahayanya akibat dari radikalisme.

"Aksi aksi pengeboman beberapa kejadian lalu, membuktikan betapa berbahayanya radikalisme. Tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, bahkan perempuan pun banyak terdeteksi terjangkit pemikiran radikalisme, seperti kejadian bom di Sibolga" tutur Dr. Andi Intan, Wakil dari BNPT itu. 

Bahayanya radikalisme di lingkungan pendidikan, dibuktikan dari penelitian PPIM UIN Jakarta, sebagaimana diungkap oleh Dr. Saubar Usman, Ketua FKPT Jawa Timur, bahwa dari 34 provinsi di Indonesia dengan responden siswa, mahasiswa, guru dan dosen diperoleh 34, 3 % responden memiliki opini intoleransi kepada kelompok lain, 48,95 % responden merasa pendidikan agama mempengaruhi mereka untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain, 58,5% memiliki pandangan keagamaan dengan opini radikal.

KH. Ainul Yaqin, Wakil MUI Jawa Timur, menerangkan bahwa radikalisme dalam konteks negatif cenderung memiliki jejak merusak ke orang lain. Karenanya pemahaman seperti inilah yang perlu diluruskan. Hal yang berlebih lebihan dan melampaui batas itu dilarang oleh agama.

Solusinya, menurut Subhan, salah satu narasumber, menguatkan serta melestaikan kearifan lokal seperti sikap bergotong royong, tepo seliro, dan nilai nilai lama berupa penghargaan terhadap orang lain. Dalam konteks pendidikan, diharapkan pendidik berperan dalam memberantas radikalisme dengan merancang pembelajaran yang tidak melepaskan diri dari misi kebangsaan.

Menanggapi harapan dari BNPT maupun dari FKPT itu, Imam Ghazali, Ketua AGPAI Jawa Timur menyatakan kesiapannya untuk menginternalisasikan nilai nilai kebangsaaan ke anak didik. Bahkan juga ke depan bisa diharmonikan ke Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.  (Isno)

BERITA LAINNYA