Sinau Ngegas Dan Ngerem Bersama Mbah Nun

Sumbergirang - Lapangan sepakbola malam itu (3/5/19) tiba tiba dipadati ribuan manusia. Mereka tumpah ruah demi mengikuti ruah desa Sumbergirang yang mengundang budayawan kondang dari Jogjakarta, Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Nun. 

Acara dibuka dengan lantunan sholawat dan tembang tembang jawa dari Kyai Kanjeng. Jamaah mencerna lirik lirik lagu yang mensiratkan pesan pesan sosial itu. Tidak berapa lama, Mbah Nun beserta rombongan tokoh tokoh setempat hadir di atas panggung. Mbah Nun membuka Sinau Bareng dengan bacaan al Fatihah dan meminta kepada Gus Roki, santri Mojogeneng yang menjadi vokalis Ahbabul Mustofa Jawa Timur, melantunkan shalawat. Suara yang mendayu dayu menyentuh titik kesadaran spiritual para jamaah. 

Usai melantunkan sholawat, Mbah Nun meminta kepada Lurah Sumber Girang untuk memperkenalkan tokoh tokoh di atas panggung. Dari penjelasan Lurah Sumber Girang, tokoh tokoh yang turut hadir diantaranya Ketua PCNU Kab. Mojokerto, Kapolsek Puri, Camat Puri, Ketua MWC NU, dan tokoh tokoh lainnya. 

KH. Abdul Adzim, ketua PCNU Kab. Mojokerto yang diminta Mbah Nun untuk menjelaskan hukum ruwah desa memaparkan, bahwa ruwah desa itu merupakan bagian dari tradisi. Meskipun bentuknya tradisi, tetapi di dalamnya banyak terkandung nilai nilai syiar agama Islam. Seperti shodaqoh, ungkapan syukur, istighosah, doa bersama dan lain sebagainya.

Mbah Nun kemudian menambahkan, bahwa ruwah desa itu bukan wilayah ibadah mahdoh, jadi statusnya sebagai ibadah muamalah. Karena ibadah muamalah, maka kreativitas manusia diperbolehkan, seperti ruwah desa. Asal di dalamnya tidak bertentangan dengan larangan larangan Allah. 

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kapolsek Puri dan Camat Puri. Kapolsek berpesan kepada jamaah semuanya agar masyarakat mampu menjaga ketertiban. Jangan sampai masyarakat mudah diadu domba, mudah diprovokasi atau melakukan hal hal yang membahayakan. Karenanya Kapolsek itu berpesan, "Jadilah Polisi bagi diri sendiri." 

Sedang Camat Puri, Bu Narurita, menyampaikan kepada masyarakat Sumbergirang untuk menjadikan desa Sumbergirang sebagai desa yang indah dan menjadi idola. Caranya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Seperti tidak membuang sampah di sungai. Sebab dibeberapa desa yang teridentifikasi, ada diwilayah Puri, terancam terendam genangan apabila debit hujan meninggi. Karenanya Bu Camat mengajak kepada masyarakat untuk memiliki kesadaran peduli terhadap lingkungan di sekelilingnya.

Menyikapi sambutan dari Kapolsek dan Camat Puri itu, Mbah Nun mengharap kepada masyarakat Sumbergirang untuk tidak mudah diadu domba. Sebab pasca Pilpres Indonesia diambang chaos diantara dua kubu. Maka rakyat Mojokerto jangan sampai ikut ikutan. Mbah Nun mengajak berdoa kepada Allah agar Allah memberi pertolongan kepada bangsa Indonesia agar selamat semuanya. (Isno)

BERITA LAINNYA