Ruwah Desa Medali Hadirkan Habib Lutfi

Medali - Hujan tumpah ruah membasahi tubuh jamaah yang hadir dalam acara Medali Bershalawat. Meskipun demikian, jamaah tak bergeming untuk meninggalkan tempat tersebut. Mereka tetap berasyik masyuk berhalawat bersama Ahbabul Mustofa pimpinan Habib Anis.

Kegiatan ini juga menghadirkan tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama yakni, Al Habib Lutfi Bin Yahya dari pekalongan dan Habib Anis Syahab dari Jakarta. 

Sebelum bershalawat dimulai, KH. Abdul Adzim, ketua PCNU Kab. Mojokerto, memberikan sambutan. Beliau berpesan kepada jamaah yang hadir untuk tetap nguri uri budaya, seperti ruwah desa. Ruwah, kata KH. Adzim, berasal dari kata luru arwah. Karenanya orang jawa pada bulan ruwah, banyak mendoakan arwahnya orang orang yang telah mendahului menghadap Allah.

Usai sambutan ketua PCNU Kab. Mojokerto tersebut, acara dilanjutkan dengan pembacaan shalawat.  Suara merdu para volalis menghipnotis seluruh jamaah. Lebih lebih tabuhan sholawat yang menghentak hentak menambah suasana semakin larut.

Di tengah asyik masyuk bersholawat, tiba tiba hujan mengguyur. Habib Anis selaku pimpinan grup sholawat menuturkan bahwa  "Hujan ini adalah hujan rahmat, semoga dengan hujan ini memeberikan obat bagi kita semua, menambahkan barokah dan rasa cinta kita kepada nabi muhammad sholollahualaihi was salam".

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Habib Anis Syahab, Kepala Desa Medali, Mifta, Menyampaikan, bahwa ia sangat mengapresiasi atas semangat masyarakat bersholawat bersama meski diguyur hujan deras  dan menyampaikan terimakasih kepada segenap panitia yang telah menyukseskan acara ini. 

Lantunan sholawat terus digaungkan, sambil menunggu kedatangan maulana al Habib Lutfi Bin Yahya.

Saat Habib Lutfi berceramah, beliau berpesan kepada jamaah tentang nasab Majapahit dan Sunan Derajat yang masih ada hingga saat ini. Orang-orang seperti inilah yang harus meneruskan spirit para wali zaman dulu itu. Selain membahas soal nasab majapahit dan sunan derajat, habib Lutfi menyoal fenomena sosial saat ini. Al Habib menyarankan kepada jamaah untuk membuka warung kopi santri untuk mengimbangi warung warung kopi yang ramai dikunjungi anak anak milineal tanpa ada sentuhan siar di dalamnya. (Lutvi)

BERITA LAINNYA