Merekam Jejak KH. Mansur Bahrudin Pengasuh Pondok Pesantren Darut Taqwa Ngembeh

Pondok Pesantren Darut Taqwa Desa Ngembeh Kecamatan Dlanggu-Mojokerto, memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya. Diawali dari tugas yang diemban oleh KH. Mansur Bahrudin atas petunjuk Mursyid Thoriqoh Naqsabandiyah-Qodiriyah Kertosono, KH. Munawir, dan ayahandanya KH. Bahrudin Pengasuh Pondok Pesantren Carat Gempol Pasuruan, untuk mendirikan pesantren di daerah Ngembeh.

Dulu, menurut Gus Nasih Muhammad, putra dari KH. Mansur Bahrudin, tempat pesantren Darut Taqwa sudah dikenal dengan nama “santren”. Entah kenapa dinamakan “santren”, ada dugaan bahwa dulunya tempat itu pernah berdiri pondok pesantren.

Hanya saja kala KH. Mansur Muhammad tiba di daerah tersebut, mendapati banyak diantara masyarakat yang masih abangan. Masyarakat tidak mengenal shalat dan juga diantara mereka masih banyak yang memelihara anjing.

Tempat yang sekarang ditempati oleh pesantren itu pun dulunya tempat yang angker. Seringkali masyarakat dihantui oleh penampakan-penampakan. Bahkan H. Muhammad Yahya, santri yang ditugaskan oleh KH. Bahrudin untuk menemani KH. Mansur Bahrudin, pernah melihat ular yang sangat besar di sekitar tempat pertama kali ia tempati.

“Kami datang kesini sekitar tahun 1979. Dulu tempat ini sangat angker. Kalau sudah malam, saya tidak berani keluar kemana-mana. Bahkan Kyai Mansur yang masih muda dulu, kalau wudhu pasti membangunkan saya minta diantar. Soalnya tempatnya angker. Saya sendiri pernah melihat langsung ular yang sangat besar. Jelasnya ularnya bukan sembarang ular” tutur Muhammad Yahya saat diwawancari tim Media NU Mojokerto.

Dengan tempat yang asing itu, Yahya beserta lima temannya yang ditugaskan menemani KH. Mansur Muhammad, menapaki kehidupan yang berbeda.

“Kami berenam memang ditugaskan Kyai Bahrudin. Kami menempati Mushola kecil. Tidur kami juga disitu. Kami makan juga disitu” kenang Muhammad Yahya akan peristiwa pertama kali sebagai santri pertama KH. Mansur Muhammad.

Mengenai Mushola kecil, menurut Gus Nasih Muhammad, itu dulu merupakan peninggalan seseorang bernama Abu Hasan. Mengenai sosok Abu Hasan, Gus Nasih Muhammad sendiri tidak tahu siapa tokoh ini. Tetapi menurut beberapa orang disekitar pesantren, Abu Hasan memiliki hubungan dengan sosok Syekh Jumadil Kubro.

Lambat laun KH. Mansur Bahruddin diterima oleh masyarakat. Bahkan mendapat pasrah tanah wakaf di sekitar Mushola. Muridnya membludak. Hingg berhasil membangun pesantren bertingkat. Sayangnya musibah menimpa KH. Mansur Muhammad. Tanah yang ditempati pesantrennya,digugat oleh ahli waris. Walhasil KH. Mansur mengalah dan kembali ke Pesantren Ayahandanya, di Carat Gempol Pasuruan.

Pesantren yang ditinggalkan, tak berkembang dengan baik. Beberapa Kiai yang mencoba menghidupkan pesantren, tidak berhasil sebagaimana KH. Mansur Muhammad. Hal itu berselang dari tahun 1986 hingga tahun 1997.

Mendapati pesantren yang tidak berkembang seperti era KH. Mansur Muhammad menempati tempat tersebut, membuat prihatin salah satu ahli waris tempat tersebut yang bernama Karmin-Bangsal. Akhirnya ia berusaha untuk melobi kepada KH. Mansur Muhammad untuk bersedia kembali ke Ngembeh lagi. Namun untuk meyakinkan KH. Mansur Muhammad itu bukan persoalan mudah. Butuh waktu yang agak lama. Namun setelah upaya upaya legal formal perwakafan telah jelas, maka KH. Mansur Muhammad bersedia.

Kesediaan KH. Mansur Muhammad untuk kembali ke Ngembeh membuat masyarakat bahagia. Dakwah KH. Mansur Muhammad berkembang dengan pesat. Tempat yang angker sebagaimana ditempati pesantren itu pun telah dinetralisir oleh guru spiritual KH. Mansur Muhammad yakni Gus Ali Muhammad Surabaya.

Saat ini pesantren ini dijadikan sebagai pusat khususiyah jamaah tarekat Naqsabandiyah Qadiriyah. Setiap selasa wage ribuan jamaah mengikuti wirid tarekat. Dan pada malam harinya, masyarakat umum juga ikut dzikir dzikir umum yang dibaca selain juga ada tausiah agama.

Selain itu, pesantren ini telah mengembangkan jamaah dzikir dan pengajian sekitar 41 desa yang tersebar diberbagai tempat. Yang mengisi selain KH. Mansur Muhammad juga santri santri pilihan yang ditugaskan untuk keliling mengikuti rutinan.

Pesantren selain mengembangkan pendidikan diniyah, juga mengembangkan sekolah Formal. Saat ini jumlah siswa SMP sebanyak 40. Sedang SMK memiliki siswa 50. Untuk santri bil ghoib 15, dan yang binadhor sekitar 18. Dan jumlah santri diniyahnya sekitar 42 santri. (Isno)

BERITA LAINNYA