JIHAD DI KEMLAGI

KEMLAGI - Pengajian Ahad Pagi ini diawali dengan penjelasan dari KH.Mubin yang membacakan Kitab BIDAYATUL HIDAYAH. Dalam penjelasannya KH. Mubin menyatakan, “Seorang Imam tidak boleh menambah bacaaan tasbih ruku’ dan sujud lebih dari tiga jika jamaahnya adalah orang umum karena kondisi jamaah yang variatif, namun jika jamaahnya orang khusus atau shalat sendirian diperbolehkan lebih dari tiga. Tidak boleh juga menambah wa’ala ali sayyidinaa Muhammad setelah  shalawat ‘’Allohumma sholli ‘ala sayyidinaa Muhammad ‘’ pada tasyahhud awwal .Tidak boleh juga menambah bacaan surat setelah fatihah pada rakaat ketiga dan keempat. Begitu juga tidak boleh menambahkan do’a yang terlalu panjang setelah kalimah Innaka hamiidum-majiid. Hendaklah ketika membaca salam diniatkan bersalam kepada qaum (jamaah ). Sedangkan jamaah berniat menjawab salam imam. Setelah membaca salam jangan menoleh dulu sebelum ada jeda sepanjang kalimah subhaanallooh. Jangan menoleh yang terlalu jika jamaah dibelakang Imam adalah seorang wanita. Hendaklah jamaah wanita segera meninggalkan tempat setelah uluk salam. Hendaklah jamaah bersabar untuk tidak keluar dulu sebelum Imam keluar. Dalam memimpin wiridan imam disarankan menghadap keutara dengan harapan makmum bisa segan untuk keluar tidak mengikuti wiridan beserta imam. Hal ini jika makmum hanya orang laki-laki saja, namun jika makmum adalah perempuan maka menghadap ke barat saja. Seorang Imam boleh bubar lewat arah mana saja namun ke arah kanan adalah lebih utama.

Pengajian kemudian dilanjutkan oleh  GUS ABDUL HAMID SALIM yang membacakan Kitab RIYADLUS-SHALIHIN. Gus Abdul Hamid Salim membacakan Kitab Riyadus Shalihin bertepatan menerangkan tentang  BAB PAKAIAN.  

Dalam bab tentang Pakaian, diterangkan tentang diperbolehkannya memakai pakaian warna merah. Namun dalam hadis yang lainnya, bahwa juga diperbolehkan memakai pakaian berwarna hijau. Yang tidak diperbolehkan adalah memakai baju yang terbuat dari bahan sutra.

KH.MUBAYYIN SYAFII,  saaat membacakan Kitab FATHUL MU’IN tentang  SYARAT AQDUN NIKAH, menerangkan bahwa sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi Rasul, orang Arab kala itu, bila memiliki kekuatan tak tertandingi, akan mendapatkan wanita yang  banyak. Sementara wanita sendiri kala itu, hanya dijadikan sebagai pelampiasan pemuas nafsu. Sehingga diutuslah seorang rasul yang membawa undang –undang atau syariat nikah yang membolehkan melampiaskan nafsunya namun harus melalui pernikahan. Jika tidak ia menanggung dosa besar yaitu dosa perzinahan.

Zina disini dibagi menjadi dua yaitu zina mukhshan ( sudah beristri ) hukum syariat islam harus dibunuh dimaksudkan agar jera untuk melakukannya. Dan kedua  Ghairu mukhshan ( belum beristri ).

Nikah menjadi ibadah manakala diniatkan ittiba’ rasul. Salah satu syarat nikah ada ijab – qabul yang dilakukan oleh wali dan bisa diwakilkan. Diharuskan dalam qabul adanya sesuatu yang mengarahkan kepada kalimat menerima (dilalah/ dalam bahasa kitabnya daallin) semacam meng- iya-kan  seperti kalimat “ya” atau isyarat yang mengarah kepada qobul atau qobiltu atau rodliitu atau tazawwajtu.

Pembacaan Kitab terakhir dibacakan oleh KH. Mahrus Ali. Beliau membacakan Kitab Riyadlush Shalihin. Sebelum memasuki mengkaji Kitab beliau berpesan agar memanfaatkan Jumat terakhir di bulan rajab. Fadlilah jum’at terakhir bulan rajab yang pernah diijazahkan oleh KH.AZIZ MANSUR yang diambil dari kitab Kanzun-najah wassuruur, agar kantong tidak sepi dari uang, maka pada saat khatib diatas mimbar atau kalau bisa ketika khatib duduk diantara dua khutbah maka hendaklah membaca “Ahmad Rasulullah, Muhammad Rasulullah” sebanyak 35 kali. Doa ini juga bisa dibaca oleh wanita di rumah yang tidak mengikuti Jum’atan juga bisa dibaca oleh wanita yang sedang datang bulan. Lebih manjur lagi do’a ini ketika dilakukan dengan tiga hal : 1. Riyadlah 2. Perbanyak shadaqah 3. Perbanyak shalawat.

Selanjutnya, beliau melanjutkan keterangan Gus Abdul Hamid, sambil menyuplik cerita dalam Kitab Durrotun-Nashihin,  diceritakan ada seorang bapak dan anaknya melakukan ibadah haji, dalam perjalan sang ayah mengalami sakit yang menjadi sebab kematiannya. Lalu sang anak menangis bukan karena kematian bapaknya namun karena sekujur tubuh sang bapak berubah warna menjadi hitam. Pada saat tidur sang anak bermimpi bertemu seorang yang memakai baju dan sorban berwarna hijau datang kepada bapaknya dilihatnya sang bapak dan langsung seketika warna tubuh yang semula berwarna hitam berubah seperti sediakala. Lalu sang anak bertanya dan sepertinya dia pernah mengenal sebelumnya  ‘’ Kamu siapa?”  Lalu orang itu menjawab ‘’ Aku ini shohibul Qur an, akulah Muhammad Rasulullah SAW”  

Sang anak terkejut lalu bertanya “bagaimana bapakku ini?” Jawab Rasul,

‘’Bapakmu banyak berdosa saat masih hidup banyak melakukan maksiat namun punya kelebihan bibirnya tidak pernah kering dengan membaca shalawat, sehingga dengan barakah shalawat yang ia baca aku terpanggil untuk mendatangi bapakmu yang terbujur kaku dan sekujur tubuh berwarna hitam dan aku ingin menolongnya.”

Setelah peristiwa itu sang anak melanjutkan perjalanan hajinya sesampai di hajar aswad - rukun Yamani-  ia  membaca bacaan yang tidak semestinya, doa-doa yang seharusnya i abaca, ia ubah dengan membaca shalawat dan peristiwa ini direkam  oleh seorang wali yang bernama Asy-Syaikh Shufyan Al Tsauri, lalu ditanyakan ”Kenapa engkau tidak membaca bacaan yang semestinya ?” Lalu ia ceritakan pengalaman keberangkatan bersama sang bapak, “itulah yang menjadi inspirasi saya untuk memperbanyak mambaca shalawat” 

 

31 MARET 2019,

SEMAMPIR KEMLAGI MOJOKERTO

BERITA LAINNYA