Ngaji Politik bersama Dr. H. Ahmad Rubaidhi

Padangasri- Tidak seperti biasanya Lapangan Padangasri pada pukul 08.00 WIB, sudah dipadati oleh warga. Mereka adalah warga Nahdliyin mulai dari ibu-ibu Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, ISHARI NU, ANSOR, dan PERGUNU. Mereka hadir dalam rangka memperingati Harlah NU ke 96 yang diselenggarakan oleh MWC NU Jatirejo. 

Salah satu rangkaian kegiatan Harlah NU ke 96 yang diselenggarakan oleh MWC NU Jatirejo adalah diselenggarakannya Ngaji Politik. Bertindak sebagai narasumber dalam Ngaji Politik itu yaitu Dr. H. Rubaidi. Dalam ceramahnya, Dr. H. Rubaidi menjelaskan,

"Sebagai warga NU itu harus bangga. Tidak boleh minder atau takut untuk mengakui NU kita. Selama tiga puluh dua tahun kita dicibir, dihina, bahkan organisasi ini akan dibubarkan oleh kelompok-kelompok yang tidak suka dengan NU. Tetapi Kyai-kyai NU, tidak gentar bahkan legowo meneruskan syiar ajaran Ahlu sunnah wal jamaah" terangnya.

Lebih lanjut, Dr. Rubaidi menjelaskan, "Kita wajib mengetahui sejarah politik organisasi NU, untuk menjaga kesatuan NKRI. NU berdiri sejak tahun 1926. Pada tahun 1955, ada peristiwa gerakan separatisme. Tahun 1965, ada organisasi yang bersayap kiri ingin menjadikan negara Indonesia berhaluan kiri. Tahun 1984, Pancasila akan ditafsirkan oleh kelompok tertentu. Tahun 2018 dalam peristiwa demo 212. Ada gerakan bughot, makar yang ingin mengobrak-abrik persatuan negara Indonesia"

Untuk memperdalam khazanah sejarah dan keilmuan NU, maka Dr. Rubaidi mengajak kepada warga Nahdliyin untuk mengikuti pendidikan Pendidikan Kader Penggerak NU (PKPNU). PKPNU sendiri merupakan program kaderisasi NU agar para kader memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang ke-NU-an. (Cindra Andriani)

BERITA LAINNYA