Kuliah Subuh KH. Falahul Alam Dalam Harlah NU ke 96 di Halaman PCNU Kab. Mojokerto

 

Menjelang subuh, jamaah dari berbagai kecamatan di Mojokerto terus berdatangan menuju halaman PCNU Kab. Mojokerto setelah sebelumnya para jamaah yang telah hadir sejak pukul 02.00 telah melakukan riyadoh sholat malam. Adzan berkumandang dengan lengkingan yang mendayu-dayu. Kemudian disambung dengan pujian shalawat asygil. Tak berapa lama setelah jamaah semua menjalankan shalat qabliyah, dikumandangkan iqomah dengan kerasnya. 

Sholat subuh dipimpin oleh Imam yang memiliki suara indah. Beliau membacakan ayat ayat yang sangat panjang. Meskipun demikian, sholat terasa betah untuk diteruskan berlama-lama. Bada salam, Imam membacakan dzikir dzikir khas NU. Kemudian dilanjutkan dengan doa. Doa pertama dibacakan oleh KH. Mashul Ismail, Rois Syuriah NU. Dilanjutkan oleh KH. Mundzir dan Gus Nafi.

Setelah itu, KH. Falahul Alam didaulat untuk memberi kuliah subuh. Kiai asal Dawarblandong itu menyampaikan beberapa hal yang sangat menarik. Beliau menyatakan, 

"Kita menjadi NU tidak ada alasan tertentu tetapi karena ada cinta di dalam hati. Pengurus NU itu tidak ada gajinya. Tetapi diolok olok, difitnah, dihina, itu pasti.  Tidak mungkin pengurus NU mau bergerak sedang didalamnya tidak digaji selain ada cinta didalamnya" terang KH. Falahul Alam dihadapan jamaah yang memadati halaman PCNU.

Beliau juga berpesan kepada warga NU untuk menanamkan tiga hal dalam dirinya, 

"Tanamkan dalam diri kita pada tiga hal, yakni sunatullah, yakni sikap mampu memegang amanah. NU bisa tetap berkibar dikarenakan NU itu amanah. NU diberi amanah untuk mengawal bangsa. Maka semboyannya adalah NKRI harga mati. Karena NKRI harga mati, ketika ditawari khilafah, maka tidak mau" 

"Dan yang kedua, tanamkan dalam diri kita yakni, sunaturosul, memiliki kehalusan perilaku. Ulama NU jangankan dipuji diolok olok pun akan memaafkan. Pemimpin pemimpin kita ini difitnah katanya syiah, liberal, dan lain lain. Tetapi pemimpin pemimpin kita tetap memaafkan mereka"

"Kita juga berperilaku halus untuk tidak kasar kepada agama lain. Hasil munas tidak menyebut mereka sebagai Kafir, tetapi cukup dengan non Muslim. Ini tentu dalam konteks Indonesia, bukan dalam konteks Aqidah." terang murid kinasih KH. Husein Ilyas tersebut.

Selanjutnya KH. Falahul Alam menutup kuliah subuhnya dengan menerangkan sunat aulia sebagai hal yang perlu ditanamkan dalam diri warga Nahdliyin.

"Yang ketiga yakni sunat aulia. Tahan sakit. Ulama NU memiliki ketahanan dalam kritik, fitnah, gosip atau hal yang menyakitkannya. Sejarah telah membuktikan. Sunan Kalijogo tahan menunggu tongkat Sunan Bonang selama tiga tahun. Pun juga dengan Sunan Geseng. Dan malam ini membuktikan pula jamaah dari pukul 12.00 hingga saat ini tahan menjalankan ibadah disini. Ini bukti bahwa warga Nahdliyin tahan terhadap berbagai hal". (Isno) 

BERITA LAINNYA