Dialog Gayeng Bersama Calon Legislatif Kader NU

Mojokerto- Setelah melaksanakan diskusi Ilmiah tentang "NU dalam Demokrasi di Mojokerto," Lakpesdam NU berlanjut menggelar Dialog Gayeng (30/2) bersama 48 calon legislatif baik Caleg DPRD Kabupaten maupun DPRD Propinsi yang berasal dari Mojokerto. Dialog gayeng ini dihelat di Wisma NU.

Acara dibuka oleh KH. Mashul Ismail, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Mojokerto. Dalam sambutannya, KH. Mashul Ismail mengharapkan agar kader NU tidak hanya semangat bila berbicara politik saja, tetapi malas bila membincangkan tentang keumatan. Sehingga setelah menjadi pemimpin lupa akan tugas keumatan.

KH. Mashul Ismail prihatin, beberapa tahun lalu,  NU terkesan bagian dari Politik. Padahal seharusnya NU itu lebih besar dari Politik itu sendiri. Karenanya ini harus dirubah. NU jangan dianggap seperti taksi. Ditumpangi kemudian ditinggal.

"Saya ini sering dimanfaatkan. Banyak kedatangan tamu dari calon legislatif. Kemudian diajak selfi. Eh tahu tahu foto saya sudah jadi banner yang dipasang di pohon pohon. Saya dimanfaatkan untuk kampanyenya" tutur Kiai Alumnus Denanyar tersebut kepada para caleg yang disambut dengan galak tawa semua yang hadir dalam dialog gayeng tersebut.

KH. Mashul Ismail berharap agar Kader NU setelah menjadi pemimpin bisa memberi kontribusi kepada NU. Tidak harus berupa uang. Tetapi kebijakan kebijakan yang berpihak untuk memajukan NU.

"Politik NU itu politik kebangsaan. Yang menyangkut upaya upaya mensejahterakan rakyat. Jadi tidak bisa kalau NU masuk ke wilayah praktis" imbuh Kiai yang kini berdomisili di Kecamatan Gondang tersebut.

KH. Mashul Ismail menegaskan tentang pentingnya keberpihakan kader NU yang duduk di bangku bangku kepemimpinan di eksekutif maupun legislatif. Beliau menceritakan pengalaman pahitnya melakukan advokasi korban galian sirtu. Akibat galian itu, lama lama akan mengakibatkan kemiskinan pelan pelan para petani. Sebab irigasi tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya hasil pertanian berkurang. KH. Mashul Ismail mengadukan hal ini kepada Bupati Mojokerto saat itu. Tetapi tidak digubris. Kemudian beliau pergi menemui DPRD yang kebetulan juga banyak kader NU-nya. Tetapi beliau mendapatkan perlakuan yang sama. Beliau tidak digubris. Maka mendapati kadernya yang tidak peka dengan suara wong cilik tersebut, membuat KH. Mashul Ismail marah. 

Bersamaan dengan itu pula sejumlah warga disekitar proyek sirtu melakukan pengrusakan bego bego yang beroperasi. Dan KH. Mashul Ismail menjadi objek sasaran fitnah sebagai provokatornya. KH. Mashul sampai sampai ditelpon oleh seorang pimpinan polisi dan mengancam akan menyeretnya ke persidangan sebagai provokator warga. Namun KH. Mashul bukannya takut malah menantang Polisi itu untuk bisa membuktikannya.

Tetapi pada akhirnya, beliau dimediasi oleh beberapa tokoh, sehingga kemudian berdamai dengan Polisi tersebut.

Acara kemudian mencapai intinya yakni dialog bersama dengan para calon legislatif. Beberapa ide segar untuk pemberdayaan umat dilontarkan para calon wakil wakil rakyat tersebut.(iSNO)

BERITA LAINNYA