Diskusi Ilmiah Lakpesdam tentang NU dalam Demokrasi di Mojokerto

Mojokerto- Sekitar 100 orang memenuhi aula gedung al Muawanah RS. Sakinah pada sabtu (30/2) pukul 09.00 wib. Mereka adalah peserta Diskusi Ilmiah yang diselenggarakan oleh Lakpesdam NU Mojokerto dalam rangkaian harlah NU ke 96.

Dalam sambutannya, Mirojul Huda, Ketua Lakpesdam NU, menyatakan bahwa  Diskusi Ilmiah ini dilaksanakan selain sebagai program menyambut harlah NU, juga merupakan  program awal Lakpesdam.

“Kami diberi amanah oleh PCNU untuk, selain mengkader kader kader NU, juga mengawal mengawal kebijakan kebijakan yang ada di Mojokerto. Karenanya diskusi ini diselenggarakan” tutur alumnus Universitas Airlangga itu.

 KH. Abdul Adzim Alwy, ketua PCNU Kab. Mojokerto, menyatakan rasa bangganya atas terselenggaranya diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh Lakpesdam. Sebab diskusi ilmiah tentang demokrasi serta mempertemukan seluruh kader NU yang maju menjadi calon legislative merupakan hasil diskusinya dengan Rois Syuriah, KH. Ismail Mashul dapat terlaksana.

KH. Adzim Alwy berpesan kepada seluruh kader NU yang hadir sebagai peserta diskusi, agar diskusi ilmiah itu menjadi sarana NU untuk melek politik.  

“NU tidak boleh buta politik. Tetapi NU harus melek Politik. Tidak boleh NU dibohongi terus menerus. Karenanya NU mendorong kader kadernya untuk berjuang menjadi caleg. Dan para caleg inilah ke depan yang diharapkan bisa mengawal program program keumatan NU” tutur alumnus Pondok Ploso tersebut.

Sedang Fahrul Muzaki, pembicara dalam diskusi ilmiah itu menyatakan,

“Khitah NU menjadi perdebatan di lingkuan elit NU. Apakah NU harus terlibat politik ataukah ia hanya menyemai keumatan tanpa terlibat sama sekali dalam politik. Tetapi pasca reformasi, pergerakan NU tidak cukup hanya dengan posisi berada diluar negara, hanya mengurus program program keumatan saja, tetapi juga harus terlibat dalam mengurus Politik. Tetapi tentunya dengan cara elegan. Ia tidak serta merta menjadi partai politik tetapi cukup mendorong kader kadernya masuk dalam kancah pertarungan politik. Dan politikus politkus NU, harusnya tidak menggunakan symbol symbol NU. Tentu itu menyalahi aturan” tutur Dosen Universitas Airlangga itu.

Meskipun demikian, kata Fahrul Muzaqqi, dia merasa bahagia, sebab banyaknya caleg dari NU yang maju ke kancah pertarungan politik. Ini tentu sangat menggembirakan. Sebab merekalah ke depan yang akan mengawal kepentingan kepentingan NU. Tetapi ia berpesan, agar para calon legislative, memiliki kompetensi yang mumpuni,  

“Caleg dari kader NU harus melek terhadap telaah anggaran, program, dan juga menemukan jejaring antar kader NU. Caleg NU ketika berbicara tentang keumatan, harusnya titik temunya ya di NU. Sebab goal dari mereka berkancah adalah kesejahteraan dan keadilan. Dan kesejahteraan yang diutamakan adalah kesejahteraannya warga Nahdliyin” imbuh Dosen Fisip itu. (Isno)

BERITA LAINNYA