Melawan Hoax, LTN NU Mengadakan Ngaji Jurnalistik

Tidak bisa dipungkiri kompetensi dalam tulis menulis merupakan sesuatu yang penting dalam era medsos saat ini. Sebab dengan kemampuan tersebut, seseorang akan mampu mendeskripsikan pemikiran pemikirannya ke khalayak umum. Apabila ia memiliki suatu lembaga atau instansi, maka ia akan mampu mengenalkan visi misi, kegiatan, serta berbagai kiprahnya ditengah masyarakat. Sehingga masyarakat akan mengenal organisasi itu dengan baik. Didasari hal demikian, LTN NU MOJOKERTO mengadakan ngaji jurnalistik. 

Bertempat di wisma NU Mojokerto, peserta sebanyak 71 dari berbagai lembaga, banom dan MWC PCNU Mojokerto pada sabtu (23/3) mengikuti ngaji jurnalistik. Ngaji jurnalistik ini menurut Isno, Ketua LTN NU, sebagai gerakan literasi di lingkungan NU sekaligus membekali para peserta untuk mampu menulis berita berbagai kegiatan di lembaga, banom dan mwc.

"Kita ini organisasi besar, dengan seabrek kegiatan. Namun tidak terekspos ke masyarakat dengan baik. Orang mengenal NU hanya identik dengan tahlilan dan ziarah. Padahal kita juga hadir disetiap kegiatan. Misalnya saja LPBI itu selalu hadir disetiap bencana alam, tapi masyarakat tak pernah tahu. Mereka hanya mengetahui organisasi lain yang selalu hadir. Pun kita punya organisasi JRA yang meruqyah banyak masyarakat. Tetapi masih banyak masyarakat yang lebih mengenal organisasi diluar kita ketika membincang ruqyah. Tugas peserta jurnalistik ini, adalah mampu menjadi kontributor website NU untuk memberitakan rangkaian kegiatan organisasinya. Mungkin juga rubrik rubrik lainnya" tutur laki laki yang beralamatkan di dusun Jogodayoh, desa Jabon Mojoanyar itu.

Antusias peserta menghadiri ngaji jurnalistik itu membuat senang KH. Abdul Adzim Alawy. Ia berharap calon calon kontributor website NU Mojokerto itu nanti benar benar siap mengemban amanah yang diberikan, 

"Saya bahagia melihat orang antusias menambah ilmu khususnya ngaji jurnalistik. Di era sekarang ini, pemuda pemuda Nahdliyin harus siap mengisi medsos dengan kebaikan. Saat ini NU banyak diserang dengan hoax. Sudah saatnya NU melawan dengan berita berita yang benar" terang Kyai Alumnus Ploso tersebut. 

Ngaji jurnalistik tersebut menghadirkan dua narasumber yang kompeten dibidang jurnalistik yaitu M. Syafiudin dari kompas, dan M. Chariris dari radar Mojokerto. Dalam pelatihan M. Syafiudin menyatakan bahwa tidak semua kejadian bisa bernilai berita. Suatu kejadian dianggap memiliki nilai berita, bila kejadian tersebut memenuhi prasyarat prasyarat. Salah satunya adalah berita tersebut memiliki unsur kedekatan. 

"Salah satu unsur berita adalah berita tersebut memiliki kedekatakan. Maksudnya apa? Maksudnya bila kita memberitakan tentang Kyai Adzim, misalnya saja Kyai Adzim kecekluk saat turun tangga dari mengisi acara ngaji jurnalistik. Maka segenap warga Nahdliyin akan membaca berita tersebut. Sebab warga Nahdliyin mengenal beliau dan beliau adalah Ketua PCNU Mojokerto. Disini ada unsur kedekatan disamping ketokahannya" tutur pria asal Jombang tersebut.

M. Chariris, pembicara kedua, menekankan untuk bisa menulis, selain mengetahui teknik penulisan juga memerlukan kompetensi menguasai teknik penggalian berita. Salah satu teknik penggalian berita itu yaitu dengan wawancara. 
M. Chariris hampir selama tiga jam sesinya, menekankan untuk praktik selain membuat outline wawancara juga praktik menulis berita. Peserta pun antusias mengikuti semua arahannya. 

Usai acara, para peserta merasa senang dengan pelatihan ngaji jurnalistik yang diadakan LTN NU ini. Sebagaimana diungkapkan salah satu peserta dari WA grup yang dibentuk, 

"Saya mewakili teman-teman MI Padangasri mengucapkan terima kasih untuk ngaji jurnalistik hari ini. Banyak ilmu yg kami dapatkan.Sebelumnya tidak faham jurnalistik, alhamdulillah hari ini sampun faham dengan pelatihan seharian ini. Semoga kedepannya bermanfaat untuk lembaga dan peserta didik" terang peserta atas nama Miss Choir.

BERITA LAINNYA