KH. Mudzakir Ma’ruf dan Ngaji Reboan

Pada tahun 1990-an siapa yang tidak pernah mendengar suara KH. Mudzakir Ma’ruf di radio yang mengaji kitab Nashoihul Ibad? Saya sendiri setiap subuh senantiasa aktif mendengarkan pengajian itu. Suaranya khas. Penjelasannya pun jelas dan terang. Joke-jokenya pun sangat sesuai dengan telinga orang kebanyakan.

KH. Mudzakir Maruf pun sering diundang pengajian ke berbagai daerah. Hingga sampai ke beberapa tempat sekitar Jawa Timur. Memang kala itu, KH. Mudzakir memang fenomenal. Tetapi tidak banyak orang tahu, bagaimana prosesnya beliau menjadi fenomenal di zamannya.

KH. Mudzakir Ma’ruf mengawali dakwahnya dengan membentuk pengajian reboan di Masjid Agung Al Fattah. Pengajian ini bermula pada tahun 1993 saat KH. Mudzakkir Makruf kebetulan singgah dan lewat di Pasuruan. Beliau mendengar pengajian yang diadakan di lingkungan Masjid Agung Pasuruan. Betapa terkejutnya beliau ketika menyaksikan langsung pengajian tersebut. Dihadiri oleh ribuan masyarakat dari berbagai macam golongan. Karena memang bersifat pengajian umum. Pengajian itu sendiri dirintis oleh KH. Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar Basyiban Ba’alawi dari Pasuruan, yang pada saat itu kepengurusan pengajian umum di Masjid Agung Pasuruan di pegang oleh Mas Subadar. Pengajian itu diadakan setiap minggunya untuk mengkaji kitap kuning, sebuah format pengajian yang masih jarang dipakai para kiyai di masa itu, namun pengajian tersebut banyak diminati oleh masyarakat Pasuruan. Dari melihat dan menyaksikan pengajian inilah KH. Mudzakkir Makruf merasa tergugah dan mempunyai cita – cita untuk melaksanakan juga di Masjid Agung Mojokerto.

Pada tahun yang sama KH. Mudzakkir Ma’ruf mempunyai kesempatan untuk berangkat ke tanah suci guna melaksanakan rukun Islam yang ke-5 yaitu menunaikan ibadah Haji. Disitu beliau bertemu beberapa Kyai yang berasal dari daerah Mojokerto. Diantaranya KH. Moh. Shodiq. Disaat itu beliau menyamaikan gagasan untuk melaksanakan pengajian rutin yang akan ditetapkan di Masjid Agung Al-Fattah Mojokerto. Karena mendapat tanggapan yang luar biasa, membuat ia terpacu semangat untuk segera merealisasikan pengajian rutin yang akan diadakan di Masjid Agung Al-Fattah Mojokerto.

Sepulang dari tanah suci Makkah, guna merealisasikan cita – cita yang ada, beliau mengunjungi dan sowan kepada beberapa Kyai sepuh yang ada di Mojokerto utntuk meminta pendapat, saran dan kritikan. Ternyata tangapan yang ada semuanya positif dan menganjurkan untuk segera mewujutkanya. Dari acara berkunjung dan sowan itulah beliau  mendapatkan hari Rabu Malam untuk melaksanakan pengajian tersebut. Kenapa Hari Rabu Malam? karena pada Hari Rabu Malam banyak orang berkumpul di Alun – alun Mojokerto. Tidak hanya itu, pada tahun 1985 masa pemerintahan Presiden Suharto dikeluarkan UU No. 22 Tahun 1954 tentang undian, yang dijadikan dasar untuk melegalkan dan mengadakan undian Forecast atau (masyarakat biasa menyebutnya Porkas), untuk diadakan diseluruh Indonesia. Dan kebetula hasil dari undian Porkas itu diumumkan lewat televisi dan radio pada hari Rabu Malam. Sehinga banyak masyarakat Mojokerto bekumpul di Alun – alun untuk bersama – sama mendengarkan hasil undian yang akan keluar. Dan letak Masjid Agung Al-Fattah yang cukup setrategis yaitu tepat di sebelah Alun – Alun Mojokerto, dan sambil menunggu diumumkannya hasil undian, para kyai berharap masyarakat untuk mendengarkan pengajian juga, sehingga secara tidak langsung pengajian tersebut mengalihkan minat masyarakt yang sudah melekat pada judi Porkas kepada sesuatu yang sifatnya lebih positif yaitu Ngaji Reboan. Hal ini juga merupakan senuah dakwah yang dilakukan oleh para kyai sepuh yang ada di Mojokrto untuk menarik minat masyarakat pada agama Islam tanpa adanya unsir kekerasan dan pemaksaan. Tidak lama setelah itu judi porkas sudah di bubarkan oleh pemerintah namun pengajian rutinan pada Rabu Malam terus berjalan hingga saat ini.

Hingga pada awal tahun 1994 bersama dengan beberapa Kiyai yang ada di Mojokerto, mengadakan pengajian rutin pada hari Rabu malam di Masjid Agung Al-Fattah Mojokerto. Namun pada awal mula pelaksanaan masih sedikit masyarakat yang tertarik untuk mengikutinya. KH. Mudzakkir Makruf berfikir dan mencari cara agar masyarakat tahu dan tertarik untuk mengikuti pengajian rutinan itu. Mungkin alasan karena lebih sedikitnya masyarakat yang hadir, karena ketidaktahuan masyarakat tentang acara tersebut. Ada sebuah cara yang dilakukan beliau dengan mengedarkan selebaran pengumuman pada masyarakat. Namun karena keterbatasan kertas yang ada, akhirnya berinisiatif untuk mengajukan permohonan kepada sekolahan–sekolahan yang ada di sekitar Mojokerto. Beliau meminta kertas buram bekas ujian yang ada untuk tidak dibuang, tapi di kumpulkan dan diberikan kepada beliau. Setelah terkumpul kertas buram dalam jumlah yang cukup banyak, beliau membuat pengumuman tentang pengajian rutin pada Rabu malam pada bagian yang tidak terpakai dan beliau foto copy. Setelah jadi beliau nyuwun barokah do’a (suwuk) kepada para ulama’dan kyai sepuh Mojokerto. Dengan harapan bagi masyarakat yang membaca selebaran, bisa terketuk hatinya untuk mengikuti ngaji reboan. Dan beliau sebarkan sendiri selebaran pengumuman itu di tempat – tempat umum seperti terminal, sekolahan, alun – alun, pasar, warung dan tempat ramai lainya. Juga di sebarkan lewat pemberitahuan lewat saudara dekat, jauh, para santri dan juga orang di kenal oleh beliau. Hasil kerja keras beliau mulai terlihat, dengan berjalannya waktu terbukti masyarakat yang hadir pada acara tersebut terus bertambah hingga mencapai ribuan. Bahkan sampai sekarang di kenal dengan Pengajian Reboan.

Pada awal pelaksanaan ngaji, kitab kuning yang di kaji beliau adalah kitab Nashoihul Ibad di dampingi oleh KH. Masrihan Asy’ari. Dalam pengajian itu sendiri beliau tidak memakai bahasa Indonesia dalam pembahasana, namun memakai bahasa Jawa. Hal ini untuk membuat ciri khas dari pengajian itu sendiri. Agar bisa lebih mengena pada kondisi masyarakat Mojokerto sekaligus mempopulerkan Kitab Kuning pada masyarakat luas karena kitab kuning hanya populer dan diketahui oleh kaum santri saja. Setelah kitab Nashoihul Ibad khatam pembahasannya, dilanjutkan dengan kitab Qomiut Tughyan, lalu kitab Tambihul Gofilin dan kitab Wasoya hingga beliau wafat pada bulan Februari tahun 2000. Selanjutnya ngaji rutin reboan dilanjutkan oleh KH. Masrihan Asy’ari, KH. Ibnu Amiruddin Ismail (Gus Ib), KH. Chuseini Ilyas, Gus Asaduddin Mudzakkir sampai pada tahun 2010. Dan saat ini ada tiga kitab yang dikaji yaitu; Kitab Syarah Al-Hikam Ibnu Athaillah yang di asuh oleh KH. Masrihan Asy’ari lalu Kitab Risalatul Muawanah yang di asuh oleh KH. Imam Sampurno Ismail, lalu Kitab Tanqihul Qoul diasuh oleh Gus Asaduddin Mudzakkir juga sering kali di isi atau di rawuhi KH. Chuseini Ilyas.

Begitulah sekilas tentang pengajian Reboan. Guna meneruskan cita – cita dari para sesepuh untuk terus istiqomah melaksanakan pengajian Reboan ini. Dengan maksud dari pengajian ini dapat membentengi seluruh lapisan masyarakat dari pengaruh paham yang sesat juga menyesatkan dan paham radikalisme. Juga dalam rangka mengenalkan wajah Islam yang Rahmatan Lil Alamin yaitu Islam yang memberi rahmat pada semuanya tanpa kecuali.

 

Disadur dari majalah Reboan Edisi I (Mojokerto: CV. Al-Fajar 2015). hlm. 26 

 

BERITA LAINNYA