Melacak Sejarah Masjid Agung Al – Fattah Mojokerto

Hampir setiap alun-alun di pusat pemerintahan, akan selalu ada tiga symbol yang selalu hadir disana yakni Masjid, Pendopo dan Pasar. Masjid sebagai symbol kekuasaan agama, Pendopo sebagai symbol kekuasaan politik, dan pasar sebagai symbol kekuasaan ekonomi. Tiga kekuasaan inilah yang selalu dijaga oleh pusat pusat pemerintahan Islam.

Masjid menjadi sesuatu yang sangat penting. Karena ia menjadi symbol eksistensi Islam di pusat pusat pemerintahan. Tak terkecuali di Kabupaten Mojokerto. Masjid Agung al Fattah memiliki makna symbol itu. Lalu bagaimanakah sejarah keberadaan Masjid Agung al Fattah Mojokerto?

Mungkin sedikit orang yang tahu jika Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua di Kota Mojokerto. Masjid yang terletak persis didepan sisi  barat Alun – alun Kota Mojokerto dan berseberangan sengan Kantor Dewan Perwakilan Rakyar Daerah (DPRD) Kota Mojokerto.

Merujuk pada kutipan surat almarhum Mohammad Thohar, panitia PN yang juga merupakan pengurus kas Masjid,  ia menyatakan bahwa,

“Sebagaimana Masjid Jami’ di Desa Gemekan Kecamatan Sooko, Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro beserta bawahanya yang meliputi Asisten Wedono, camat – camat dan lainya. Peletakan batu pertama dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena baru bisa dipakai pertama kali shalat pada 12 April 1878 M/1295H”

Dari tinjauan arsitektur, pada bagian dalam interior Masjid terdapat empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter yang sampai sekarang masih kokoh berdiri sebagai saksi bisu sejarah, ternyata kayunya hanya bisa didapatkan dari Hutan Jabung. Soko Guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis, seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Pada tampilan eksterior, disimbolkan dengan betuk kubah stupa limasan yang merupakan warisan ide dari Raden Aresedan putra dari Raden Bagus Anom Kromojoyo Adinegoro II dalam melakukan syi’ar agama Islam. Beliau pada saat itu memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Mojokerto dan Jombang serta masuk dalam jajaran Imam Besar Masijd Ampel Surabaya. Dan jika melihat penenggalan bentuk atapnya  stupa limasan tersebut, Masjid di tiga wilayah diatas memiliki bentuk kubah yang serupa. Adapun peninggalan bukti prasasti yang bertahan, terdapat di Masjid Baitul Amin yang berada di Perak Jombang, serta Masjid Gemekan Sooko Mojokerto berupa papan dengan aksara jawa, arab dan latin. Dan juga ada di Masid Al-Mustofa terletak di Losari Terusan Mojokerto, dan Kubah Masjid Agung Kota Lamongan yang saat ini masih dipertahankan.

Selanjutnya pada 1 Mei 1932 M, Masjid ini mengalami renovasi untuk pertama kalinya oleh Pendiri Comite Lit atau Panitia Pemugaran yang terdiri dari Bupaiti Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan oleh M.Ng Reksoamiprojo pada masa Bupati IV – V pada 7 Oktober 1934 M. Renovasi berikutnya pada 11 Oktober 1966, Masjid ini diperluas lagi oleh R Sudibyo dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Perluasan ini dilakukan terus–menerus di karenakan Masjid tidak bisa menampung kapasitas jumlah jama’ah yang semakin meluber.

Hingga saat setahun kemudian tepatnya 15 Juni 1969 Bupati Mojokerto RA Basuni juga melakukan perluasan lagi, dikarenakan membludknya jama’ah Masjid tersebut. Dan peresmian juga dilakukan  pada tahun yang sama bertepatan dengan momen peringatan 17 Agustus 1989 M.

Perjalanan sejarah berdirinya Masjid telah hampir mencapai 100 tahun berdiri, namun Masjid ini belum mempunyai nama. Kemudian seorang Ulama’ terkenal ialah KH. Achyat Chalimy Pengsuh Pondok Pesantren Sabilul Mittaqin memberi nama Masjid Jami’ Al-Fattah.

Keterangan bangunan religius ini terus bertahan hingga pada 4 April 1986 M, bangunan Masjid Jami’ Al-Fattah dipugar kembali oleh Wali Kota Mojokerto Moh. Samiuddin sebagai pembangunan tahap satu. Serta dilanjutkan dengan pemugaran tahap dua yakni di lokasi sebelah timur  atau depan Masjid. Selanjutnya pada masa pemerintahan Wali Kota ini istilah Masjid Jami’ Al-Fattah diganti dengan Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto.

Saat ini Masjid Agung Al-Fattah yang merupakan Masjid Wakaf di Pusat Kota Mojokerto tersebut dituangkan dalam awal Surat Sertifikat Waqaf No. 559 diserahkan waqaf dari H. Achmad Rifa’i kepada Nadzir dengan susunan kepengurusan H. Achmad Rifa’i sebagai Ketua Nadzir, Moh. Soeparlin sebagai Sekertaris, H. Mas’ud sebagai Bendahara yang diterbitkan pada 10 Juni 1994 selanjutkan Nadzir menunjuk Ta’mir Masjid Agung Al-Fattah sebagai pelaksana kegiatan dan untuk selanjutnya akan diperbarui sesuai masa kepengurusan organisasi Ta’mir Masjid Agung Al-Fattah selanjutnaya.

 

Sumber majalah Reboan Edisi I (Mojokerto: CV. Al-Fajar 2015). hlm. 21  

BERITA LAINNYA