Mengenal Lebih Jauh  KH. Mashul Ismail, Rois Syuriah PCNU Kab. Mojokerto

Sebagai orang baru dilingkungan NU Struktural, saya belum mengenal satu persatu diantara Kiai yang menjadi pengurus NU. Hatta itu KH. Mashul Ismail, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Mojokerto. Karenanya saya sudah lama punya keinginan untuk sowan dan mewancarai beliau. Namun dengan banyaknya pekerjaan, niatan yang baik itu urung. Tetapi Allah kemudian menakdirkan saya untuk berjumpa dengan beliau dikala hendak memulai acara Musker yang dilaksanakan di Wisata Desa Randugeneng Kecamatan Dlanggu-Mojokerto.

Saya bertemu dengan beliau usai sholat maghrib. Beliau masih berbincang bincang dengan para peserta yang mengerumuninya. Curhatan curhatan jamaah didengarkannya. Sekali kali beliau memberi nasehat. Setelah satu persatu terselesaikan. Beliau hendak beranjak menuju kamar penginapan yang telah disediakan oleh panitia. Saya langsung sungkem, dan memperkenalkan diri serta mengutarakan maksud untuk mewancarai beliau. Karena saya mengaku sebagai ketua LTN, beliau langsung bersedia. KH. Mashul Ismail mengajakku memasuki kamarnya. Rasa sungkan menjalari hatiku. Tetapi beliau enjoy enjoy saja.

Dikamar beliau, saya dipersilahkan duduk. Segera saya duduk dan mempersiapkan rekamannya. Setelah persiapan selesai, baru kemudian saya mulai dari pertanyaan tentang sejarah kehidupannya. KH. Mashul bercerita, ia lahir pada tahun 1953, di Desa Karangminggah Kecamatan Wonorejo Kabupaten Pasuruan. Di desa itu, berdiri empat pondok. Dilihat dari lingkungan yang sangat agamis itu, menjadikan pilihan pendidikannya, tidak jauh jauh dari pondok. Meskipun ia masuk SD, tetapi belum lengkap kalau ia juga tidak masuk di MI. Yang unik, saat ia telah menamatkan pendidikan SD-nya, ia masih duduk di kelas V MI.

Tahun 1965, KH. Mashul Ismail melanjutkan pendidikannya ke SMP di Kecamatan Purwosari. Di Purwosari inilah, KH. Mashul Ismail mengukir prestasi. Ia pernah menjadi anggota grup drumb band terbaik tingkat nasional. Karena prestasi itu, beliau pernah bersamalaman dengan Presiden Sukarno.

Namun perjalanan pendidikannya sempat terganggu sebab tragedy tahun 1965. Banyak gurunya yang terlibat PKI. Sehingga sekolah sempat terhenti. Dan setelah aman, KH. Mashul Ismail melanjutkan pendidikannya hingga pada tahun 1968, bisa tamat pendidikan SMP-nya. Di sela sela ketidakjelasan pendidikan SMP-nya itu, ia melanjutkan pendidikan MI-nya yang terhenti. Dan pada tahun 1967, KH. Mashul resmi mendapat gelar ijazah lulus MI. Jadi, selain mendapat ijazah SD, juga memperoleh ijazah MI.

Menjelang tahun 1969, KH. Mashul Ismail sempat hendak melanjutkan mondok ke Pesantren Sidogiri. Ia mendapat tiket VIP bisa masuk ke Pondok tanpa tes. Sebab kakaknya, KH. Ahmad adalah teman sekelas KH. Ismail Nawawi, pengasuh pesantren Sidogiri sekarang. Namun ia tidak mendapat restu dari guru ngajinya, KH. Yusuf Cholil. KH. Mashul Ismail selama di Purwosari ngaji kitab ke KH. Syaroni (Syuriah NU), dan KH. Yusuf Cholil (Ayahnya Gus Ipul). Kebetulan KH. Yusuf Ismail adalah sepupu dari Ibunya KH. Mashul Ismail. Dan yang momong KH. Yusuf Cholil waktu kecil juga adalah ibunda dari KH. Mashul Ismail.

KH. Yusuf Cholil memerintahkan kepada KH. Mashul Ismail untuk melanjutkan belajarnya ke Pesantren Denanyar. Pondok Pesantren yang jauh dari desanya. Ada keengganan dan kekhawatiran. Tetapi doktrin untuk manut kepada guru lebih diugemi dari sekadar pertimbangan pertimbangan nafsu, maka KH. Mashul Ismail, pada tahun 1969, berangkat ke Pondok Pesantren Denanyar.

Di Pesantren Denanyar, ia di tes dengan tes tulis serta mengirob tulisan Arab oleh KH. Iskandar (Ayahnya Muhaimin Iskandar). Karena sudah terbiasa dengan teks teks arab, maka KH. Mashul Ismail lulus dengan sempurna, sampai sampai KH. Iskandar sendiri heran dengan tulisan KH. Mashul Ismail yang sangat bagus. Hingga bertanya kepada KH. Mashul Ismail, “Kamu mondok dimana?”

“Saya tidak mondok kemana mana Kiai?” jawab KH. Mashul kala itu.

Di Denanyar, KH. Mashul Ismail melanjutkan ke MTS hingga MA. Selain itu, KH. Mashul Ismail juga sekolah di SMA Jombang. Pada tahun 1973, ia tamat menyelesaikan sekolahnya. Dan pada tahun 1974, KH. Mashul Ismail melanjutkan kuliah di IKAHA (Institute Kyai Hasyim Asyari) Tebu Ireng Fakultas Ushuludin. Kalau itu yang menjadi Dekannya adalah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). KH. Mashul Ismail menyelesaikan kuliahnya selama lima tahun. Namun kurang lima bulan dari wisudanya, ia diperintahkan KH. Iskandar untuk menikah. KH. Mashul Ismail dinikahkan dengan putri dari Pak Khusnan Kecamatan Gondang Kabupaten Mojokerto. Pak Khusnan sendiri adalah guru MI dari KH. Iskandar. Dan akhirnya KH. Mashul Ismail pada tahun 1976 resmi memiliki istri.

Setelah punya istri, KH. Mashul Ismail tidak langsung berdomisili ke Gondang, tetapi masih tetap melanjutkan ngajinya di Pondok Denanyar. Apalagi setelah melihat kealiman dari Pak Khusnan, KH. Mashul Ismail melanjutkan pendalaman kitabnya langsung ke KH. Bisri Syansuri. Ia merasa punya beban moral bila keilmuan tidak mumpuni. Dari berguru langsung ke KH. Bisri Syansuri inilah, ia merasakan pendidikan yang luar biasa. Ke-NU-nya semakin terasah. Tidak dari pendidikan organisasi, tetapi langsung dari tauladan yang diberikan oleh KH. Bisri Syansuri.

KH. Bisri Syansuri tidak pernah absen jamaah sholat wajib. Bacaan bacaan surat pada sholat wajib dihafal oleh KH. Mashul Ismail. Pun juga wirid wirid yang diajarkan. Dari kedekatan dengan KH. Bisri Syansuri inilah, KH. Mashul diberi wasiat, “Aku NU sepanjang hidup, kalau aku mati lanjutkan perjuangan NU”

Dari pesan inilah kemudian KH. Mashul Ismail Ngugemi untuk berjuang di NU. Waktu telah tinggal di Gondang, KH. Mashul Ismail aktif di MWC Gondang. Kemudian ditarik oleh KH. Masrikan menjadi pengurus PCNU Mojokerto. Pun dikala kepemimpinan KH. Dimyati, beliau juga diminta menjadi pengurus PCNU. Pernah menjadi khatib. Pernah juga menjawi wakil Syuriah. Hingga sekarang, menduduki kepemimpinan tertinggi dalam struktur PCNU Kabupaten Mojokerto, Rois Syuriah NU.

 

ISNO

Ketua LTN Nu

       

BERITA LAINNYA