Debat Panas Sidang Pleno Musker PCNU Mojokerto

Salah satu hasil dari sidang komisi pada komisi B4 Musker PCNU Kabupaten Mojokerto adalah bersepakat untuk mendukung produk minuman Nutrisi sebagai produk unggulan untuk memajukan ekonomi warga Nahdliyin. Bahkan pengurus PCNU secara resmi telah membeli saham dari perusahaan itu.

Namun dalam sidang pleno, salah seorang anggota Aswaja Center, Ustad Zainul, mempersoalkan logo NU yang tercantum dalam botol kemasannya. Sebab ia berpedoman, logo NU tidak sembarang boleh digunakan. Logo itu sendiri, hasil dari istikhoroh Kiai yang berat. Tidak selayaknya sebagai warga nahdliyin merendahkannya. Misalnya kalau botol itu dibuang ditempat sampah, akan menyebabkan ternodainya logo NU yang mulia itu. Karenanya ia menguskan agar logo NU yang ada pada kemasan, dihapus.

Mendapat pertanyaan itu, beberapa peserta saling berargumen. Akhirnya disepakati untuk meminta pendapat dari ketua LBM. Menurut Ketua LBM, ditimbang dari sisi hukum, bahwa logo NU itu bukan termasuk ismul a'dom, nama yang agung. Karenanya tidak apa apa bila digunakan. Akan tetapi secara etika kurang etis. 

Pendapat dari ketua LBM mendapat penguatan dari KH. Djamzuri, bahwa logo NU digunakan tidak apa apa. Hanya saja yang menggunakannya wajib memberi kontribusi kepada NU. 

Meskipun sudah mendapat jawaban demikian, tetap saja ada yang mendebat soal etikanya. Ada peserta lain menawarkan agar persoalan itu di mauqufkan saja, agar sidang pleno tetap bisa berjalan sesuai waktunya. 

Namun sebelum dimauqufkan, Dr. Purwanto maju ke depan. Ia membacakan AD ART tentang aturan memakai logo. Bahwa memakai logo itu bukan merupakan pelanggaran. Senada dengan Dr. Purwanto, Gus Sa'dolloh Syarofi menyatakan, bahwa persoalan logo secara AD ART tidak ada permasalahan. Hanya saja ini persoalan, perusahaan. Kita hanya bersepakat mau menghilangkan atau tetap. Tidak perlu harus sampai di bahtsaul masailkan. 

Menghadapi polemik demikian, ketua Ansor, M. Nasih, selaku pencetus Nutrisi, tidak keberatan apabila logo NU dibuang. Tetapi ia meminta izin untuk menghabiskan stok dulu. Dan bila memang sepakat dihilangkan, hak PCNU tetap tidak akan hilang.

Mendapati statemen M. Nasih tersebut, ketua sidang memtuskan untuk mengambil voting. Dari hasil voting disepakati bahwa logo NU tetap dicantumkan dalam kemasan. (LUTVI)

BERITA LAINNYA