CATATAN NGAJI AHADAN DI BALONGSARI GEDEK

Sekitar pukul 08.00 jamaah Nahdliyin dari berbagai daerah sudah mulai berbondong-bondong menuju Masjid Al-hidayah Balongsari. Panitia dari unsur pengurus ranting, Fatayat, Muslimat, juga pemuda desa sigap mempersiapkan tempat untuk seluruh jamaah. Tepat pukul 09.00 wib acara dimulai dengan pembacaan tawassul oleh KH Sholihin. Dilanjutkan dengan pembacaan diba' dan diiringi dengan tabuhan terbang dari remaja Masjid Al Hidayah. Usai pembacaan shalawat, Takmir Masjid Al-hidayah, H. Yahya memberikan sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pengurus LDNU.

Acara selanjutnya pembacaan kitab oleh beberapa Kiai. KH. Dzamjuri membacakan kitab Riyadus Sholihin yang mengupas tentang kewajiban menghormati tamu. Saking pentingnya menghormati tamu, sampai sampai apabila perlu, tuan rumah kalau meminum air setelah tamu minum hingga selesai. Hal itu diperingatkan sebagai bentuk pentingnya memuliakan tamu.

Dalam Islam urusan makan dan minum ada tata caranya. Efek orang yang kebanyakan makan menjadikan fitnahnya anggota badan. Bahkan Imam Ghazali menyebutkan bahwa efek dari kebanyakan makan akan membuat pemahaman kita tentang keilmuan menjadi pendek, dan juga menghilangkan kecerdasan. Ketika seseorang makan makanan yang berlebihan, maka akan berefek kelebihan berat badan, anggota tubuh semisal mata menjadi ngantuk, dan ibadahnya menjadi lemah. Karenanya ketika kita mempunyai hajat tertentu, semisal mau menjalankan sholat, sebaiknya hindari untuk makan terlebih dahulu.

Setelah usai KH. Dzamjuri menerangkan kita Riyadus Sholihin, acara berikutnya yakni pembacaan Kitab Bidayatul Hidayah  oleh Gus Mubin. Beliau menerangkan tentang tata cara untuk memperbaiki syariat dan tasawuf dalam diri kita. Gus Mubin menerangkan, “Sering-seringlah membaca surat Al Ikhlas, untuk menjadikan diri kita menjadi ikhlas dalam melaksanakan berbagai hal.Dalam Al-Quran sering ada ungkapan samawat wal Ardi. Kenapa sering ungkapan samawat (jama') wal Ardi (tunggal)? Karena langit itu 7 berlapis dan berjarak, sedang bumi, berlapis tapi melekat.”

K.H Mashul Ismail menambahkan pengajian Ahadan LDNU ini sambil mengutip Kitab Hikam yang ditulis oleh Ibnu Athoillah As Sakandari, "Ya Allah, berilah pakaian kebesaran-Mu (haibah).” Siapa yang diberi pakaian oleh Allah maka orang  tersebut akan disegani, dikagumi, diagungkan oleh orang lain baik kawan maupun lawan. Ibarat singa disebuah hutan yang disegani oleh hewan-hewan yang lain.

“Dengan umur kita yg semakin berkurang, mari kita selalu menambah kualitas hidup kita kepada Allah. Kalau memandang diri sendiri, pandanglah dengan kacamata syariat, tetapi kalau melihat orang lain, pandanglah dengan kacamata hakikat. Para hadirin sekalian, mari kita semua rukun.  Allah itu pangeran kita semua. Jangan sampai beda pilihan membuat jamiyah NU terpecah. Bijak dalam memilih dan bersikap. Kerukunan jamaat lebih penting dari hanya sekedar pilihan politik” terang KH. Mashul, Rois Syuriah NU Mojokerto.

Kyai berikutnya yang menjadi penutup pada ngaji Ahadan ini adalah KH. Masrikan. Beliau menuturkan, “Allah itu ingat kepada ummatnya sebelum ummatnya ingat kepada Allah. Jadi ketika kita ingat kepada Allah itu, itu karena kita diingatkan oleh Allah. Allah menyuruh hambanya untuk berdoa, karena Allah memberi sinyal akan memberi sesuatu. Ada sebuah kisah , ada seorang Bupati ingin memberi bantuan kepada Kepala Desa. “Pak Lurah ini akan ada bantuan buat desa, tetapi untuk pengajuannya silahkan mengajukan proposal.” Bantuan tersebut ada bukan karena adanya proposal, tetapi sudah ada sinyal sebelumnya untuk mendapat bantuan. Hal  tersebut sama dengan logika doa di atas.” (Mirojul Huda)

BERITA LAINNYA