DAI Dengan Seribu Mualaf

Pada acara haul (24/2) Hadratus Syeikh KH. Ahmad Sholeh yang ke-120 di Pondok Pesantren Darul Hikam Tambak Suruh, tahun ini menghadirkan penceramah kondang yakni Jose Andreas Damsyik, atau nama Islamnya Muhammad Damanhuri. Ia Lahir pada tanggal 14 Desember 1984 di Pontianak Kalimantan Barat. Ia adalah mantan misionaris yang kemudian menjadi mualaf pada tahun 1999. Sekarang ini beliau menjadi Ketua umum muallaf Kalimantan Barat.

Sebelum Ustad Jose Andreas Damsyik ini berceramah dihadapan santri dan wali santri Pondok Pesantren asuhan KH. Masruhan Chotieb, MA, Isno ketua LTN NU, melakukan wawancara.

Saya mendengar Ustad berhasil dakwah di Kalimantan ditandai dengan banyaknya orang yang masuk Islam, benarkah itu Ustad?

Benar. Alhamdulillah hingga saat ini, saya berhasil memualafkan orang sekitar 13.664. Itu pun data pada tahun 2017. Hingga sekarang belum kami data ulang. Saya masih sibuk dakwah ke berbagai daerah hingga mancanegara.

Bagaimanakah model dakwah dari Ustad, hingga bisa berhasil memasukkan banyak orang ke dalam Islam?

Yah..saya hanya meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Melakukan dakwah dengan teladan yang terbaik sehingga orang diluar Islam simpatik kepada Islam. 

Selama ini yang paling banyak masuk Islam dari suku mana saja yang ada di Kalimantan? 
Suku dayak, suku china dan suku batak. Untuk suku dayak, sekitar 7000 orang alhamdulillah telah mengikrarkan syahadat. 

Pembinaan selama ini kepada para mualaf itu seperti apa?

Yang pertama tama kita ajarkan cinta dulu kepada Islam, kemudian diajarkan aqidah kemudian akhlak, setelah itu baru iqro. Masing masing daerah kita juga petakan untuk pembinaannya. Setiap bulan kita adakan pertemuan rutin. Kecuali ramadhan, saya mengkhususkan tidak kemana mana. Saya konsentrasikan untuk ibadah.

Selama berdakwah disana itu, adakah tantangannya?

Wah...tantangannya sangat banyak sekali. Saya pernah dicegat ditengah jalan hendak dibunuh. Tetapi yang paling berat itu dari keluarga. Saya dulu itu missionaris. Jadi sangat besar upaya mereka mencegah saya masuk Islam.

Suku dayak itu kan terkenal dengan hal hal mistisnya. Apakah ustad juga pernah diganggu denga hal hal yang mistis?

Ayah saya itu tumenggung disana. Kepala suku. Yang bisa mengobati berbagai hal penyakit. Dan itu menurun ke saya. Jadi menghadapi hal itu, sudah bukan hal asing bagi saya. Hingga saat ini pun saya masih memegang benda pusaka untuk saya bawa kemana mana. Bukan untuk apa apa. Tapi benda ini dulu yang menghantarkan saya  masuk Islam.

Ceritanya bagaimana sih, kok ustad bisa masuk Islam?

Panjang sekali. Tapi seperti yang sudah saya katakan, saya ini mantan misionaris. Jadi saya diajarkan perbandingan antara Islam dan agama saya dulu. Tetapi semakin saya bandingkan semakin saya menemukan kebenaran dalam Islam. Dan akhirnya saya mengikrarkan syahadat. (Isno/Aqim)

BERITA LAINNYA