Tekan Angka Perceraian, LKKNU Usul Pembekalan Calon Pengantin

Angka perceraian di Kabupaten Mojokerto yang terus meningkat dari tahun ke tahun, mendapat perhatian serius dari Lembaga Kemaslahatan Keluarga  Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Mojokerto. Dari data yang diperoleh dari Pengadilan Agama Mojokerto, tercatat lebih dari 3300 pasangan suami istri resmi berpisah pada tahun 2018 lalu. Angka pasangan yang berpisah di Pengadilan Agama ini meningkat 10 persen lebih dari tahun sebelumnya. Padahal, sesuai doktrin agama, bercerai merupakan perbuatan halal yang dibenci.

Dari data itulah, pimpinan LKKNU Kabupaten Mojokerto mengusulkan untuk mengadakan pembekalan bagi calon yang hendak menikah. Agar, para pasangan muda-mudi yang hendak memasuki jenjang pernikahan lebih siap secara lahir maupun batin.

“Selama ini, mungkin sudah ada proses pembekalan yang biasa dinamakan rapak. Akan tetapi, menurut kami pembekalan itu masih belum maksimal. Sekedar formalitas,” kata Ketua LKKNU Kabupaten Mojokerto, Muhammad Asy’ari yang ditemui di sela-sela kegiatan santunan seribu yatim di PCNU Kabupaten Mojokerto, Minggu (17/02).

Pembekalan bagi calon pengantin ini, lanjut Asy’ari, diharapkan menjadi syarat wajib bagi pasangan yang hendak membangun mahligai rumah tangga. Teknisnya bisa berbentuk kursus sehari atau bentuk lain yang simple dan bisa memberikan dampak meningkatnya kesiapan mental calon suami-istri. Dengan meningkatnya kesiapan mental pasangan pengantin, diharapkan angka perceraian ini bisa ditekan di tahun-tahun mendatang.

“Dengan adanya mental kuat, diharapkan pasangan suami istri tidak mudah menjatuhkan talak atau menggugat cerai. Karena dari awal sudah mempunyai keyakinan kuat untuk mempertahankan bahtera rumah tangga,” tambah pria kelahiran 17 Juli 1973 tersebut.

Selain mendorong program pembekalan calon pengantin, program andalan lain dari lembaga yang dipimpin Dra. Hj. Ida Fauziyah di tingkat pusat ini, adalah parenting atau pola pengasuhan anak kepada para orang tua. Dengan adanya program parenting ini, orang tua bisa mendapatkan pemahaman yang tepat tentang proses tumbuh kembang anak, perkembangan psikologis anak, serta bagaimana cara pengasuhan yang tepat bagi anak-anak.

“Terutama saat ini, perkembangan teknologi, serta modernisasi membawa perubahan besar pola pengasuhan anak dibandingkan dengan saat kita masih kecil dulu. Perkembangan gadget, internet, menjadi tantangan bagi orang tua untuk bisa mengimbangi pengetahuan dan memberikan pola pendampingan tepat bagi anak” pungkas warga Desa Padangasri, Kecamatan Jatirejo ini. (Inani dan Syafek)

BERITA LAINNYA