Tontonan Yang Menjadi Tuntunan

Pelawak kondang dari Mojokerto yang sedang naik daun saat ini, Cak Memet, pada masa khidmat NU tahun 2018-2022, ikut bergabung dengan Lesbumi Kabupaten Mojokerto. Ditengah kesibukannya menghibur acara “Doa dan Santunan 1000 anak Yatim” menyempatkan diri untuk diwawancari oleh tim LTN NU.

Menurut Cak Memet, tantangan Lesbumi saat ini untuk mengembangkan kebudayaan itu seperti apa?

Lesbumi mempunyai tujuan utama melestarian seni budaya yang tumbuh dan berkembang khususnya yang ada di Mojokerto.  Seperti seni jaranan, bagaimana membuat seni jaranan yang lebih kental dengan klenik ini bisa diarahkan menjadi seni yang lebih bernuansa Islami. Dengan cara kegiatan jaranan yang biasanya diiisi dengan acara yang kurang mendidik diganti dengan atraksi yang bis mendidik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kalau dunia lawak seperti Cak Memet jalani itu, bagaimana Lesbumi bisa mewarnai?

Dunia lawak sebagai salah satu seni yang ada di Mojokerto, perlu adanya kaderisasi untuk terus mengembangkan kesenian tersebuat, dan bagaimana dengan adanya seni ini, sebuah tontonan menjadi sebuah tuntunan.

Menurut Cak Memet, Stand up Commedy itu menjadi tantangan bagi pelawak seperti cak memet atau tidak?

Menurut saya tidak. Sebab kita ini memiliki kapling-kapling sendiri.

Menurut Cak Memet, Stand up comedy itu seperti apa?

Bagus. Cuma ada beberapa hal yang harus diluruskan. Misalnya membully orang lain. Ajaran Islam merlarang membully orang lain. Kedepan kita harus melahirkan pelawak pelawak yang tidak membully orang lain. Bolah membully tetapi membully dirinya sendiri.

Apakah Cak Memet dan Lesbumi juga akan mengkader anak anak muda agar kelak lahir pelawak yang bernilai Aswaja?

Ya kedepan kita akan melakukan kaderisasi dengan masuk ke sekolah sekolah melalui ekstrakurikuler. Kita akan bentuk teater teater. Disana akan kita jawab bahwa melawak itu tidak sekedar tontonan, tetapi juga bisa menjadi tontonan sekaligus tuntunan. (Isno, Taufik)

BERITA LAINNYA