Siswa tak beretika, tanggungjawab siapa?

Beberapa hari ini, laman-laman berita diviralkan oleh suatu kejadian, seorang pelajar berani menantang gurunya sebab diperingatkan oleh gurunya agar berlaku sopan di dalam kelas. Kejadian di sebuah sekolah Kabupaten Gresik itu sungguh membuat miris semua orang. Sebab seorang guru yang seharusnya dihormati, bisa dilecehkan oleh siswanya. Apakah sudah sebegitu parahnya degradasi moral di kalangan pelajar? Apakah sebegitu burukkah pendidikan kita sehingga out put dari prosesnya tidak menyentuh perbaikan moral anak didiknya?

Apabila kita menengok teori teori pendidikan, seperti dalam Teori Brofenbrenner (1980) yang menyatakan bahwa perilaku orang itu tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan dampak dari interaksi orang yang bersangkutan dengan lingkungan luarnya. Dan lingkungan lapis pertama yang paling dekat untuk anak usia sekolah adalah lingkungan yang sehari-hari ditemui oleh anak. Dalam hal ini, keluarga dan guru serta sekolah termasuk diantaranya.

Syaikh al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim wal Mutaállim, menjelaskan : “Dalam menuntut ilmu (agar sukses) dibutuhkan kesungguhan hati tiga pihak, yaitu pelajar, guru dan ayah orang tua”. Ketiganya merupakan penyusun utama dalam kesuksesan pendidikan yang dilaksanakan.

Adab seorang Pelajar  

Syaikh al-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’alim menekankan 4 hal penting dalam menuntut ilmu.  1) Niat Lurus. Pelajar haruslah mendasari pencarian ilmu dengan niat yang lurus. Karena mencari ilmu yang tampaknya adalah amal akhirat bisa saja tidak berpahala karena niat yang salah. Niat dalam menuntut ilmu antara lain mencari rida Allah, menghilangkan kebodohan atau ketidaktahuan dari diri sendiri dan orang lain (ketika nanti telah mengajarkan kepada orang), menghidupkan agama dan menjaga kelestarian Islam. Menuntut ilmu juga sebagai ekspresi syukur atas nikmat akal dan kesehatan. 2) Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya. Doktrin terkuat dalam tradisi pesantren yang berlandaskan kitab Ta’lim adalah hormat atau takzim guru, bahkan keluarga dan kerabatnya. Penghormatan terhadap seorang pengajar demikian ditekankan. Bahkan, Syekh al-Zarnuji menandaskan; “Siapa yang menyakiti gurunya, maka ia pasti terhalang keberkahan ilmunya, dan hanya sedikit saja ilmunya bermanfaat.” Salah seorang ulama’ berpendapat : “Orang yang ingin mencapai sesuatu tidak akan berhasil kecuali dengan menghargai dan orang tidak akan jatuh dalam kegagalan kecuali dengan meninggalkan respek (rasa hormat) dan mengagungkan”. Seorang ulama yang lain berkata : “Rasa hormat lebih baik daripada kepatuhan. Ingat, bahwa manusia tidak menjadi kafir (kepada Allah) karena berbuat maksiat, tetapi ia kafir karena meninggalkan rasa hormat (kepada-Nya).” Pelajar juga dianjurkan menjaga dan memuliakan buku atau kitab yang dipelajarinya. Misalnya, meletakkan kitab-kitab berkaitan tafsir paling atas, lalu kitab yang berkaitan dengan hadis, kemudian kitab fikih dan seterusnya. Tidak boleh meletakkan sembarangan kitab, menjaga kesucian saat belajar dan membaca kitab. 3) Belajar Tekun dan Musyawarah. Kesungguhan dalam belajar adalah hal yang sangat ditekankan, bukan semata-mata untuk mencapai nilai yang baik, tapi lebih ditekankan bahwa Proses adalah hal yang paling utama untuk mendapatkan ilmu. Banyak kisah santri yang di pesantrennya sangat terbelakang dalam keilmuan, kurang pandai, namun tetap tekun belajar, mengabdi kepada guru, ketika pulang dan terjun di tengah masyarakat justru menjadi orang yang berhasil. 4) Belajar di Perantauan dan Menanggung Kesusahan yang Dialami. Merantau dari tempat asal berimplikasi untuk melatih kemandirian. Membentuk Kemandirian inilah  yang menjadi stressing point (titik tekan) nya, bahwa kemandirian seorang pelajar sangat dibutuhkan untuk menjadikannya sebagai orang yang kuat dan tangguh dalam kehidupan yang di jalaninya.

Adab seorang Guru

Guru adalah seorang teladan. Sebab apa yang dilakukan akan diperhatikan dan ditiru oleh murid muridnya. Terkait dengan ini, KH. Hasyim Asyari dalam kitab adab al alim wal mutaalim menjelaskan bahwa seorang guru wajib memiliki kriteria; 1) Tujuan Mengajar adalah Mendapatkan Ridlo Allah, 2) Sabar Terhadap Murid yang Niatnya Tidak Lurus 3) Mendekatkan Murid pada Hal-hal Terpuji, 4) Menggunakan Bahasa yang Mudah Dipahami Saat Mengajar, 5) Semangat dalam Mengajar 6) Meminta Murid untuk Mudzakarah dan Takrar (belajar kelompok), 7) Menasihati Murid Agar Tidak Terlalu Keras (memforsir diri secara berlebihan) dalam Belajar

Adab orang tua

Rasulullah Saw dalam sebuah hadistnya bersabda, “Tidak  ada seorang anak Bani Adam, kecuali dilahirkan di atas firtahnya, (jika demikian) maka kedua orangtuanya itulah orang mengyahudikan, atau menasranikan atau memajusikannya, ...” (Muttafaqun ‘alaih). 

Dalam hadist yang lain Rasulullah Saw bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu bershalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau bershalat ketika berusia sepuluh tahun,” (HR. Abu Daud, Al Turmuzi, Ahmad dan Al Hakim).

Dikutip pada laman BKKBN, bahwa keluarga memiliki sejumlah fungsi yaitu agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Pada kenyataannya, banyak orang tua yang tidak dapat berperan sebagai orang tua yang seharusnya. Mereka hanya menyediakan materi dan sarana serta fasilitas bagi si anak tanpa memikirkan kebutuhan batinnya. Orang tua juga sering menuntut banyak hal tetapi lupa untuk memberikan contoh yang baik bagi si anak.

Anak-anak adalah peniru yang paling baik, karenanya contoh yang diberikan dan yang dilihat mereka hendaknya yang baik sehingga memberikan bekas yang positif terhadap anak. Keteladanan jauh lebih unggul daripada sekedar pemberian pesan secara lisan. Anak  cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan orang tua baik pada ibu maupun ayahnya. Orang tua yang terbiasa bicara dengan bahasa yang santun, akan mudah mengajak anaknya untuk bicara hormat dan santun pula. Keteladanan merupakan hal yang penting dalam menginternalisasikan nilai-nilai pada anak. 

Dalam kaitan dengan moralitas anak, ternyata peran keluarga sangatlah besar, merujuk pada hasil penelitian Fakhruddin, bahwa kebiasaan/perilaku anak dipengaruhi oleh kesibukan orang tua sehari-hari. Dari 100 persen responden diperoleh kedua orangtua yang bekerja, 60 % anak cenderung memiliki moral dan kepribadian sedang, 30 % memiliki kepribadian buruk dan hanya 10 % yang memiliki kepribadian baik. Bagi orang tua yang ibunya tidak bekerja cenderung memiliki moral kepribadian baik dan mendekati sangat baik.

Zamroni Umar

Pengurus LBM NU Kab. Mojokerto

BERITA LAINNYA