NU HARAKAH ; Rame ing gawe, sepi ing pamrih

Perjuangan adalah salah satu term pokok dalam ber-NU. Perjuangan harus disertai nilai, daya juang, sangu dan mentalitas pejuang sejati. KH. Hasyim Asy'ari menggunakan keuntungan beliau jual beli kuda di pasar cukir, untuk membantu pergerakan Nahdlatul Ulama. Sedang KH. Wahab Hasbullah, diceritakan sampai menjual 2 bagian sawah ladangnya, demi untuk memperjuangkan NU agar tersebar hingga ke seluruh pelosok negeri.

KH. Syaifuddin Zuhri -Ayahanda Mentri Agama-,  menyampaikan dalam bukunya “Guruku orang-orang pesantren”,  bahwa untuk membentuk Kepengurusan di tingkat ranting, para Kyai dan pengurus NU yang ditunjuk sampai rela menginap di suatu desa bahkan hampir sebulan lamanya untuk menyiapkan, mengkonsolidasi, dan membuat masyarakat bisa menerima keberadaan NU di daerah tersebut.

KH. Muchit Muzadi, meriwayatkan bahwa pada tahun 1955, jika ingin menjadi anggota NU harus mendaftar dan membayar i'anah syahriyah. Biaya pendaftaran saat itu setara dengan harga dua setengah kilogram gula. Sementara untuk biaya i'anah syahriah nilainya sama dengan dua kilogram gula.

Anak-anak muda NU pada era tahun 80-an, yang di pimpin oleh Gus Dur, memberikan tauladan pada kita semua, betapa perjuangan adalah hal pokok dalam ber-NU. Seperti yang pernah di kisahkan oleh KH. Marzuki Mustamar, riwayat dari KH. Hasyim Muzadi; suatu ketika, Gus Dur mendapatkan undangan untuk mengisi sebuah acara di Malang. Saat itu Gus Dur berangkat dari Jakarta dengan naik bus ekonomi, karena uang beliau saat itu pas-pasan dan hanya cukup untuk berangkat saja. Pasca mengisi acara tersebut, Gus Dur langsung ingin kembali pulang ke Jakarta. Yang mengejutkan adalah, beliau tidak mempunyai uang untuk membeli karcis bus karena saat itu panitia lupa belum memberikan uang transport pada Gus Dur. Maka Kyai Hasyim Muzadi yang mengetahui hal tersebut, akhirnya meminjami Gus Dur sejumlah uang untuk ongkos Gus Dur kembali ke Jakarta.

Beliau-beliau ini memberikan uswah, bahwa untuk membuat NU bergerak harus siap dengan rame ing gawe, sepi ing pamrih.

* Zamroni A. Umar, Khadim Langgar Ledok / Wk. Sekretaris 1 PCNU Kab. Mojokerto.

BERITA LAINNYA