Bung Tomo Penggila NU

 

Mojokerto - Gus Dur pernah mengungkapkan kriteria orang NU itu ada tiga, “Kalau dari pukul 06.00 pagi hingga pukul 16.00 ada orang mengurus NU, maka orang itu dinamakan orang yang senang atau cinta dengan NU. Apabila dari jam 06.00 hingga pukul 00.00 masih juga mengurus NU maka orang itu disebut orang gila NU. Tapi kalau ada orang sudah lebih dari pukul 00.00 masih tetap mengurus NU maka berarti  ia itu NU gila,”

Sosok pengurus NU Mojokerto yang gila NU bahkan mendekati NU gila itu bisa disematkan kepada sosok satu ini. Terlahir dengan nama Oetomo Sapto Amien, biasa dipanggil Bung Tomo. Ia bergabung menjadi anggota Ansor sejak tahun 2000.  Kemudian ia ditugaskan menjadi pengurus LP. Maarif bidang perekonomian dan kemandirian. Dan kini, dimasa ketua Tanfidziyah Kyai Adzim, ia menjabat sebagai ketua Lembaga Perekonomian NU.

Hampir semua pengurus NU mengenalnya. Ia sering terlihat di kantor PCNU, juga sering terlihat diberbagai kegiatan NU. Lebih-lebih di grup WA PCNU. Kalimat dan foto-foto narsisnya selalu terpampang. Dilihat dari aktivitasnya di WA PCNU itu, bisa disimpulkan bahwa Bung Tomo benar benar NU gila. Pukul 03.00 statusnya di grup WA masih terus terlihat aktif memberi komentar.

Tetapi Bung Tomo bukanlah sekadar penggila NU begitu saja tanpa ilmu dan strategi. Ia telah malang melintang di dalam dunia aktivis maupun kerja-kerja professional. Tercatat ia pernah mengikuti The Winning team certification Implementation quality system ISO ; tutorial technologi agency and management company di grup PT. Telkom Indonesia, inisator Forum kemitraan Polisi kerjasama Indonesia-Jepang, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Kemendagri di Kabupaten Mojokerto dan lain lain.

Karena berbagai pengalaman itulah, menjabat sebagai ketua perekonomian dengan berbagai tugas pemberdayaan bukanlah hal baru. Ia ingin selama menjabat sebagai ketua lembaga perekonomian, mampu mengantarkan perekonomian warga NU lebih sejahtera. Selain itu, bagi organisasi, Bung Tomo ingin NU memiliki kemandirian dalam finansial sehingga tidak mengandalkan proposal belaka.

“Banyak program yang saya persiapkan untuk melayani warga NU. Tetapi saya akan memetakan terlebih dahulu potensi potensi ekonomi warga NU. Sehingga dengan mengetahui potensi ekonomi itu, kita bisa tahu dan mengembangkan ke arah mana untuk diberdayakan” ucap Bung Tomo berapi api.

Lebih jauh, pria yang beralamatkan di Desa Lengkong-Mojoanyar itu  menjelaskan, “Warga NU itu secara global bisa dilihat bahwa kebanyakan diantara mereka adalah buruh tani. Karenanya kita berupaya untuk membuat formula agar bagaimana para buruh petani itu berdaya”

Laki-laki berusia 47 tahun itu ketika diminta untuk menjelaskan lebih detail tentang formula program pemberdayaan secara detail, ia tidak mau melanjutkan. Sebab ia merasa programnya belum sah dikarenakan belum mendapat restu dalam Musker. Tetapi dia mengamini sebagaimana ditekankan oleh KH. Mashul Ismail dan KH. Abdul Adzim Alwy, bahwa sudah saatnya NU tidak menjadi penonton dalam arus perekonomian. (ISNO)

BERITA LAINNYA