Lantunan Salawat Menggema di Peringatan Hari Air Sedunia

MOJOKERTO – Di bawah terik sang surya, tetesan air mata tiada hentinya menyelimuti mereka yang kini beranjak usia. Tanpa hentinya paro baya itu terus menyuarakan begitu pentingnya berkah sumber mata air yang telah dikaruniakan Allah SWT.

Di sisi lain, mereka tampak membawa gayung dan handuk sebagai gambaran seakan-akan berpindah mandi di bangunan mewah. Ya, aksi pada Rabu siang (22/3) itu menggambarkan kondisi warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto saat ini.  

Bagi mereka, alam yang indah dan air melimpah ini hanya sebuah impian. Setelah bangunan beton berdiri kokoh di antara tanah warga. Memperingati Hari Air Sedunia ini, 432 warga Desa Lakardowo menuntut sekaligus mengadukan nasib atas hilangnya kejernihan dan segarnya air kepada Pemkab Mojokerto.

Lantunan salawat pun menggema dalam aksi itu. ”Sebelumnya kami menikmati air yang jernih, segar jika kami minum. Sekarang air yang kami telan rasanya tak lagi segar,” ucap Kastini, salah satu warga.

Mengenakan topi caping, dalam aksinya, warga juga membawa beberapa atribut. Seperti, bendera merah putih, gayung, ember, berpakaian manusia pocong, dan mengolesi tubuh dengan warna hitam.

Bahkan, di antara mereka tak henti-hentinya meneteskan air mata, sembari berharap agar pemerintah mengembalikan hak atas hidup mendapatkan air bersih. ”Kami mau menumpang mandi di kantor Pemkab Mojokerto. Karena, air sumur di tempat kami sudah tak bisa lagi dimanfaatkan,” pungkas Rini. (zan/run)

BERITA LAINNYA