Sarirejo, Pengasuh TPQ, Hidup Tanpa Dua Kaki

MOJOKERTO - Manfaat marang liyan (memberi manfaat kepada sesama). Setidaknya ungkapan itu yang tertanam dalam hati Sarirejo. Penyandang difabel tanpa dua kaki asal Desa Pekuwon, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto.

Di mata sebagian orang, derita yang dialami Sarirejo ini memang cukup pahit. Namun, berkat semangat hidup dan ketulusan hatinya, ia kini mampu bertahan. Bahkan, berhasil mendirikan Taman Pendidikan Alquran (TPQ). Meski secara fisik hidupnya jauh dari kesempurnaan.

Dari keterbatasan ini, sekitar bulan September 2008, Cak Jo begitu Sarirejo karib disapa, memilih mengajarkan ilmu agama di rumahnya. ’’Sekarang, santri saya sudah lebih dari 60 anak,’’ katanya.

Semua ia jalani dengan niat agar ilmunya manfaat dan berguna bagi anak-anak dan masyarakat sekitar. Santrinya pun datang dari berbagai usia. Mulai tingkat PAUD hingga pelajar SMA. ”Mereka semua ikut belajar mengaji Alquran,” tambahnya.

Memang, mendirikan sekaligus menjadi pengasuh TPQ dengan keterbatasan fisik tidaklah mudah. Apalagi, bisa menaruh kepercayaan masyarakat. Namun, berkat ketulusan dan ketelatenannya mengajarkan ilmu Alquran, kini masyarakat setempat sangat menaruh harapan kepada Cak Jo dan istrinya, Umi Muzaroh.

Umi Muzaroh juga sebagai penyandang difabel. ’’Hidup itu sebuah perjuangan. Tinggal dari mana sisi kita memandangnya,” imbuhnya.  Sekarang, tak jarang ia diundang sebagai motivator di lembaga-lembaga pendidikan.

Baik di kalangan kelompok difable maupun sekolah-sekolah formal. ’’Dalam hati, saya tanamkan, tidak ada hidup itu susah. Semuanya adalah anugerah,” terangnya. Hal yang dimaksudkan adalah sosok dirinya sendiri yang saat ini hidup tanpa dua kaki.

”Buktinya, saya sendiri,’’ tegas pria kelahiran 21 Desember 1979 itu. Dia menceritakan, peristiwa 10 tahun silam rasanya tak mau diingatnya kembali. Tepat 19 Desember 2006, Cak Jo sebelumnya memiliki fisik normal menjadi security di salah satu pabrik di kawasan NIP (Ngoro Indutri Persada) menjadi korban kecelakaan.

Kecelakaan itu harus ia kehilangan kedua kakinya, setelah tim medis memutuskan mengharuskan untuk mengamputasi. Kala itu, motor yang dikendarainya terlibat kecelakaan dengan truk, dan diperparah truk kontainer.

’’Saya baru tahu kalau tidak punya kaki, setelah tiga bulan di rawat di rumah sakit,’’ katanya. Memang, hidup tanpa kedua kaki tak pernah diharapkan oleh siapapun. Apalagi, sebelumnya, secara fisik semua organ tubuhnya utuh.

’’Rasanya, memori terasa hilang. Bisa dibayangkan, setelah hidup normal, lalu tidak punya kaki,’’ tandasnya. Pahitnya lagi, tak lama Cak Jo juga kehilangan pekerjaannya. Bahkan, ia harus berpisah dengan sang istri yang dicintainya, Yanti Anisa Putri.

Tepat pada Agustus tahun 2007 keduanya pun resmi bercerai. Namun, peristiwa kelam ini tak lantas membuatnya putus asa. Berkat dorongan semangat dari keluarga, orang dekat, dan teman, ia berhasil bangkit kembali dan menata hidup baru.

’’Rizki, hidup, dan mati sudah ada yang mengatur. Sekarang, saya hidup tinggal jalani saja tidak mau,’’ sebutnya. Aktivitas di rumah pun berubah drastis, setelah Cak Jo mulai membuka lembaran anyar. Kendati hari-harinya berjalan menggunakan kursi roda, tapi rutinitasnya cukup bermanfaat bagi warga sekitar.

’’Intinya, hidup ini adalah sebuah anugerah bukan musibah. Kalau kita menganggap suatu anugerah berarti kita bisa terus bersyukur,’’ paparnya ditemani Umi Muzaroh, istri barunya.

Umi Muzaroh juga diketahui sebagai penyandang difabel. Dari raut wajah dan matanya, Umi sangat yakin menerima Cak Jo sebagai kepala rumah tangga untuk selamanya meski dalam keadaan apa adanya. (rm/aka/num)

BERITA LAINNYA