Ada Pengajian Servis Moral dan Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, Seperti Apa?

JOMBANG - Merasa prihatin dengan kondisi perpolitikan bangsa, warga nahdliyin sebagai arus bawah turut mendoakan agar Tanah Air tetap utuh dalam kesatuan NKRI.

Uniknya, kali ini, warga Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, menggemasnya dalam bentuk kegiatan keagamaan berupa Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani. Manaqib ini tergabung dalam Forum Silahturahmi Lintas Dusun (FORSILAD) bersama jamaah pengajian Servis Moral.

”Melihat situasi negara yang sudah kian mengkhawatirkan seperti sekarang ini, kita sebagai kalangan bawah perlu mengambil sikap bijak agar tidak ikut terpancing. Sebaliknya, harus mendinginkan dan menenangkan suasana kebatinan kita.

Tidak lah salah, kalau kembali pada ajaran serta tradisi para waliyullah. Salah satunya melalui manaqiban,” ujar M. Diak Eko Purwoto penggagas pengajian istighotsah rutin bertajuk Servis Moral.

Kegiatan Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani ini diyakini sebagai sarana untuk menolak balak. Sebab, isi dari manaqib tersebut mengkisahkan tentang biografi serta kewalian Syekh Abdul Qadir Jailani.

Dalam kesempatan itu, Diak Eko Purwoto berharap situasi politik bisa kembali normal, dan semua pihak, terutama para elit politik bisa menahan diri dengan memposisikan sebagai seorang negarawan.

Manaqib dikuti puluhan anggota Forsilad dan jamaah pengajian Servis Moral di pusatkan di aula pertemuan sekretariat Forsilad di lingkungan Karang Moncol, Dusun Blimbing, Desa Blimbing ini dihelat secara sederhana.

Pengasuh manaqib, Ustaz Kholili Hasan menjelaskan, membaca manaqib dipercaya sebagai jalinan untuk terus-menerus menyambung tali silaturahmi dengan Syekh Abdul Qadir Jailani yang dikenal dengan sultanul aulia.

”Bagaimana dan apa sebenarnya maqiban tersebut. Ayat di bawah ini bisa dijadikan landasan mengapa kita harus berada di belakang orang-orang yang selalu berada dalam jalan kembali kepada Allah SWT,” terang alumni Ponpes Lirboyo, Kediri ini.

"Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu. Maka, Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS Luqman: 15) 

Menurutnya, bersyukur kepada Allah atas nikmat besar, di mana kita masih bisa mendengar tausiah atau nasehat para ulama mendorong manusia meningkatan kualitas keimanan dan keruhanin. 

”Salah satu tradisi yang dilakukan oleh dunia pesantren  adalah mengamalkan manaqib. Manaqib yang dibaca adalah seputar prikehidupan Syekh Abdul Qodir Jailani. Karenanya, manaqib yang dibaca adalah Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani,” tambahnya. (aka)

 

 

 

BERITA LAINNYA