Peran Santri dan Kiai sebagai Benteng Penyelamat Bangsa

MOJOKERTO – Pondok pesantren (ponpes) memiliki peran sentral dalam menjaga keutuhan NKRI. Bangsa akan menjadi kuat dan bermartabat berkat kiai, ulama dan santri. Terlebih, saat negara dalam guncangan isu kebangsaan dalam bentuk intoleransi yang dapat mengancam kebhinnekaan. 

Demikian ini tertuang dalam Seminar Nasional dan Silaturahmi Ulama Jawa Timur di Masjid Abdul Chalim, lingkungan Ponpes Amanatul Ummah, Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Selasa (21/2).

Dalam acara yang dihadiri kurang lebih 50 kiai dan pengasuh pesantren di Jawa Timur ini juga hadir Aster Panglima TNI, Mayjen TNI Wiyarto mewakili Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.

Dalam sambutannya sebagai narasumber, Wiyarto mengungkapkan, isu intoleransi yang berhembus kencang belakangan ini memang patut diwaspadai oleh semua elemen negara. Tidak terkecuali, peran kiai, ulama dan santri. Salah satunya dengan membentengi diri dari terpaan arus globalisasi negatif.

Baik di dalam keluarga, lingkungan, maupun dalam kehidupan sosial bernegara. Sehingga, negara kesatuan yang kemerdekaannya tidak lepas dari kiai dan santri tetap terjaga dengan baik. Sesuai ideologi Pancasila dan UUD 1945 yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. ’’Apalagi dalam kehidupan bernegara,’’ ujar Wiyarto.

Seminar nasional ini mengangkat tema: Eksistensi Santri Dalam Membangun Peradaban Bangsa di Era Globalisasi. Menurutnya, bangsa Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, tentu berpotensi menjadi rebutan negara-negara internasional.

Di mana, orang-orang asing berpeluang untuk menguasi sumber daya alam (SDA) yang diprediksi telah berlangsung sejak lama.  Untuk itu, melalui seminar nasional ini, Wiyarto berharap, para santri melek akan ancaman globalisasi.

Dengan membentengi diri demi menjaga kedaulatan dan kesatuan bangsa, melalui pembelajaran pendidikan agama di pesantren. Dari situ, diharapkan tidak hanya dapat menyelamatkan SDA-nya, namun juga menyelamatkan agama dan umatnya.

’’Selamatkan negara dan budaya, selamatkan ke-bihinnekaan-nya. Serta selamatkan bangsa dan negaranya,’’ tambahnya. Dia menegaskan, peran pesantren yang di dalamnya ada santri, kiai dan ulama, memiliki andil besar dalam membentuk karakter bangsa yang bermartabat dan bermoral.

Yakni, membangun karakter melalui pendidikan akidah, ilmu agama, dan perilaku. ”Semua ada di sini (pesantren, Red). Kita semua yang hidup bersosial, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dimulai dari moral,’’ imbuh Wiyarto.

Dia juga menyinggung, kiai dan santri memang tidak bisa lepas dari sejarah perjuangan bangsa di era kolonial Belanda. Keduanya, banyak memainkan peran penting dalam merebut kemerdekaan.

Di antaranya, saat perang Diponegoro, perang Padre, perang Aceh, dan peran melawan penjajah Belanda di Jawa Timur. Sehingga, hampir semua perang merebut kemerdekaan 1945 ini dimotori kiai dan santri. ’’Ini membuktikan, bahwa kiai dan santri merupakan unsur penting dalam pertahanan bangsa,’’ tambahnya.

Dalam perkembangan ekonomi di masa pergerakan pun, kaum santri terlibat. Salah satunya, melalui organisasi Serikat Dagang Islam (SDI, Serikat Islam (SI), Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama (NU). ’’Semua organisasi ini dibuat oleh kaum terpelajar, yaitu para santri,’’ papar Wiyarto.

Hadir pula Pangdam V Brawijaya, I Made Sukadana; Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Mahfud Arifin; Danrem 082/CPYJ, Gathut Setyo Utomo; Bupati Mojokerto, H. Mustofa Kamal Pasa (MKP), dan Ketua MUI Jawa Timur, Abdusshomad Bukhori.

Bupati Mojokerto menyatakan, kondisi tanah air akhir-akhir ini memang sedang memanas karena suhu politik. Ditambah lagi, gempuran aksi kriminalitas, seperti terorisme dan kejahatan narkoba.

’’Kami berharap, kegiatan ini adalah perwujudan kesadaran kita, terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Toleransi adalah ciri Indonesia. Sehingga, karakter dan jati diri tersebut harus diperkuat,” katanya. (zan/aka)

BERITA LAINNYA