Pesantren Nurul Falah Ambruk, Santri Tetap Membaca Alquran

MOJOKERTO – Hujan deras disertai angin kencang yang melanda kawasan Mojokerto tidak hanya menyebabkan banjir di desa/kelurahan kabupaten/kota. Terjangan banjir susulan Senin malam (20/2) juga mengakibatkan lembaga pendidikan formal dan non-formal tergenang.

Di beberapa tempat, angin kencang bahkan menghempaskan bangunan pondok pesantren (ponpes). Salah satunya di Ponpes Nurul Falah Dusun Jetak, Desa Balongmojo, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Atap bangunan pesantren yang menaungi puluhan santri ini ambruk pada Senin malam, tak lama setelah hujan deras disertai angin kencang datang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ambruknya salah satu ruangan sekaligus berfungsi sebagai kamar santri pada pukul 23.00 itu.

Hanya saja, para santri kini dibayangi kondisi tak nyaman untuk melakukan aktivitas pendidikan dan kepesantrenan.  ”Biasanya memang ditempati para santri istirahat dan belajar. Alhamdulillah, pas terjadi (ambruk, Red) para santri sedang berada di masjid,” ujar pengasuh Ponpes Nurul Falah, KH Abdul Adzim kepada Online NU Mojokerto, Selasa sore (20/2).

Ruangan ambruk ini merupakan salah satu di antara lima ruangan dalam satu atap. Diduga, selain tak mampu menahan terjangan angin dan hujan deras, usia bangunan yang berdekatan dengan masjid setempat ini mulai menua. Yakni, dibangun pada tahun 2004 silam.

Disamping kayu penyangga, bambu berfungsi sebagai reng genting terlihat mulai rapuh. Sehingga, tidak mampu lagi menahan beban berat. ”Untuk sementara belum kami lakukan perbaikan dulu. Nanti, menunggu waktu yang tepat, apalagi cuacanya saat ini masih sangat ekstrem,” imbuh kiai merangkap sebagai ketua LD NU Kabupaten Mojokerto tersebut.

Agar aktivitas pendidikan dan kepesantrenan tidak terganggu, pengasuh memutuskan untuk memindah kegiatan belajar ke ruangan yang lebih aman. Menyusul, selain santri, sore harinya, ruangan tersebut dimanfaatkan mengaji oleh 200 an santri TPQ (Taman Pendidikan Alquran).

”Sementara mereka kami pindahkan ke teras masjid dan rumah saya. Yang penting, kegiatan belajar dan mengaji anak-anak tetap jalan. Tidak terganggu,” imbuhnya. Pantauan Online NU Mojokerto di lokasi, pengurus pesantren sejauh ini belum membersihkan puing-puing atap ambruk.

Di dalam ruangan, masih tampak pecahan genting dan kayu berserakan. Sementara, kondisi atap yang jebol lubangnya diperkirakan mencapai diameter 2 meter. Untuk sementara, para santri pesantren dan TPQ tidak diperkenankan menempati terlebih dahulu sebelum dilakukan perbaikan kembali.

Demi kenyamanan dan menjaga keselamatan para santri juga bagi ustaz dan ustaza. ”Belum berpikir untuk merehabilitasi secara total. Sementara, rencananya atap yang ambrol itu, kerangkanya kita ganti dengan galvalum agar lebih kuat. Mohon doanya, supaya bisa lekas diperbaiki,” pungkas Kiai Adzim sapaan KH Abdul Adzim. (aka)

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

  

 

 

BERITA LAINNYA