Kemenag: Warga Nahdliyin selalu Dominasi Keberangkatan Haji

MOJOKERTO – Peluang warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Mojokerto tahun ini berniat melaksanakan ibadah haji cukup tinggi.

Kementerian Agama (Kemenag) setempat menyatakan, kuota keberangkatan bagi calon jamaah haji (CJH) yang menunaikan rukun Islam ke lima di tahun 2017 atau 1438 Hijriah itu dipastikan bertambah.

Dari sebelumnya rata-rata 1.579 CJH, sekarang bertambah menjadi 1.796 orang. Hal ini, menyusul adanya penambahan kuota nasional yang diberikan pemerintah Arab Saudi kepada pemerintah Indonesia.

”Artinya, ada tambahan sekitar 217 orang atau sekitar 8 persen,” ujar Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Kemenag Kabupaten Mojokerto, H. Mukti Ali kepada Online NU Mojokerto.

Sebagai salah satu daerah basis nahdliyin, memang, setiap tahun Kabupaten Mojokerto memberangkat calon tamu Allah ini di atas seribu lebih. Keberangkatan mereka tergabung dalam gelombang pertama setiap tahunnya itu melalui Embarkasi Surabaya (SUB), Jawa Timur.

”Sebagian besar jamaah kita ini memang warga nahdliyin,” imbuh Mukti Ali. Mereka yang sudah dapat dipastikan menunaikan ibadah ke Tanah Suci ini telah tercatat dalam daftar keberangkatan haji nasional tahun 2017, atau rata-rata telah menunggu selama hampir 5 sampai 7 tahun.

Baik yang mendaftarkan diri secara mandiri maupun melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) resmi sebanyak 10 lembaga. Di mana, CJH tersebut tersebar di 18 kecamatan di seluruh Kabupaten Mojokerto.

”Hanya, memang dari tahun ke tahun, kuota keberangkatan ini selalu tidak terpenuhi. Ya, rata-rata di kisaran 1.300 an jamaah. Selebihnya tidak bisa berangkat karena beberapa alasan,” tandasnya. Jumlah keberangkatan itu saat Kemenag setempat mendapat kuota di kisaran 1.579 jamaah.

Mukti menjelaskan, CJH gagal berangkat  jumlahnya di atas 250 an orang lebih ini memiliki beberapa alasan. Seperti, meninggal dunia, sakit keras, menunda keberangkatan, pindah alamat atau mutasi, dan tidak bisa Biaya Penyelenggaraan Ibadah haji (BPIH).

”Ini persoalan klasik, setiap tahun selalu begitu. Biasanya, mereka tidak bisa melunasi BPIH sampai tahap dua. Selebihnya sakit, menunda keberangkatan, dan meninggal dunia,” paparnya. Dengan demikian, setiap tahun kuota haji Kabupaten Mojokerto tidak dapat terpenuhi utuh.

Sehingga, Kemenag hanya bisa memberangkatkan CJH yang melunasi BPIH. Atau jika digabung dalam kelompok terbang (kloter), jumlahnya ada sekitar 3 kloter. Satu kloter ditetapkan sekitar 450 jamaah.

Selama perjalanan, di setiap kloter ini jamaah didampingi oleh 5 orang petugas haji, dari Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI), Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI), dan Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Meliputi, ketua kloter, kiai kloter, satu dokter, dan dua tenaga medis.

”Setelah ada tambahan kuota, tahun ini jumlah kloternya akan bertambah. Sehingga, kalau terisi penuh, bisa sampai 5 kloter,” urainya. Lantas, berapa nilai BPIH tahun 2017 ini? Mukti menyatakan, pemerintah pusat sejauh ini belum menetapkan.

Akan tetapi, Kemenag Pusat telah mengusulkan nilai BPIH nasional sebesar Rp 35,7 juta atau naik dari tahun lalu Rp 34,7 juta. Usulan itu, lanjut Mukti, telah disampaikan kepada DPR RI untuk dibahas, dievaluasi, dan disetujui.

”Intinya, Kemenag masih menunggu persetujuan dari DPR. Saat ini, kabarnya sedang dilakukan pembahasan. Untuk lebih jelasnya, kita (Kemenag daerah, Red) akan melaksanakan apa yang ditetapkan,” pungkas Mukti.

Sekadar diketahui, sesuai rencana perjalanan haji (RPH) tahun 2017/1438 H, jadwal penerbangan pertama gelombang pertama sudah harus masuk asrama haji pada 27 Juli.

Lalu, keesokan harinya (28/8), jamaah diterbangkan dari Tanah Air menuju Madinah, Arab Saudi. Sementara, puncak wukuf haji dijadwalkan jatuh pada Kamis (31/8) atau 9 Zulhijah 1438 H. (aka)

BERITA LAINNYA