Kesederhanaan dan Wafatnya Kiai Subhan, Imam Langgar Suronatan
BERITA TERKAIT

Oleh Ayyuhanafiq

Kiai Subhan adalah warga Suronatan, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Kiai Subhan merupakan warga pendatang yang berasal dari Sidayu, Gresik. Beliau kemudian menetap di Kota Mojokerto setelah menikahi Amniyah. Diperkirakan Kiai Subhan lahir pada sekitar tahun 1900.

Di Kampung Suronatan, Kiai Subhan bergaul erat dengan Kiai Zainal Alim, Rais Syuriah Nahdlatul Ulama Mojokerto. Kedekatan yang bukan saja karena berdekatan rumah, tetapi lebih karena sama-sama berasal dari Gresik. Karena itu Kiai Subhan juga ikut aktif di jam'iyah yang baru berdiri itu. Bahkan karena kedekatan dua orang ini akhirnya memaksa Kiai Subhan meneruskan tugas mengajar dan menjadi imam di langgar/ musholla Suronatan saat Kiai Zainal Alim meninggal. Kiai Zainal Alim yang menjadi Rais Syuriah NU pertama itu tidak memiliki keturunan hingga akhir hayat.

Kedekatannya dengan Kiai Zainal Alim, selanjutnya mendekatkan Kiai Subhan dengan tokoh-tokoh NU lainnya, diantaranya adalah Kiai Nawawi yang menjadi Wakil Rais Syuriah NU serta Kiai Achyat Chalimy. Setelah mengenal lebih dekat sosok Abat Yat, panggilan akrab Kiai Achyat Chalimy, timbul keinginan Kiai Subhan untuk ditunggui Kiai Achyat ketika malaikat maut menjemput. Keinginan itu akhirnya terwujud karena Kiai Achyat berada tepat disisinya pada malam beliau wafat. Untuk urusan kesederhanaan dan kezuhudan, Kiai Achyat kerap menjadikan Kiai Subhan sebagai contoh.

Kiai Subhan dalam masa hidupnya bukanlah sosok yang berada. Bahkan nyaris hidup pada garis kemiskinan yang susah mencari makan. Dalam setiap harinya nasi yang dikonsumsi terpaksa ditakar agar cukup untuk makan sebulan. Namun demikian imam langgar Suronatan tersebut jarang mengeluh.

Memang beliau mendapatkan gaji selaku Pegawai Negeri di Departemen Agama karena jabatannya sebagai imam rawatib di Masjid Jami' Kauman. Semua petugas masjid besar pada awal kemerdekaan ditawari untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, termasuk Kiai Subhan. Hal itu tidak lepas dari keberadaan kantor Depag yang menggunakan salah satu ruang dalam masjid jami'. Honor pegawai kelas rendahan yang tentu tidak bisa mengatasi kebutuhan hidup.

Untuk mencukupi kebutuhan hidup dan rumah tangganya, Kiai Subhan berdagang tembakau kecil-kecilan di Pasar Terusan, Gedeg.  Aktivitas ini dilakoninya dari pagi hingga siang. Sebelum Dhuhur beliau pulang untuk mengimami sholat rawatib yang menjadi tugasnya. Dilanjutkan dengan mengajar ngaji di musholla Suronatan tinggalan Kiai Zainal Alim. Dengan tugas itu tentu Kiai Subhan tidak bisa mengembangkan usahanya.

Situasi ekonomi dibawah kepemimpinan Soekarno terhitung sulit. Politik konfrontatif yang dilakukan menyebabkan perdagangan luar negeri melemah. Kurs rupiah terus tertekan dan inflasi membubung tinggi.

Ditengah mahalnya bahan pangan, Kiai Subhan mendapat kiriman setengah ton beras. Bahan pangan yang dikenal dengan sebutan beras siyem itu dikemas dalam karung goni berisi 50 kilo. Kesepuluh beras impor asal Thailand tersebut dikirimkan anaknya yang berdinas di RPKAD Malang.

Mendapati karung-karung beras di ruang tamu, Kiai Subhan pun heran. Pada istrinya dia bertanya dari mana asal barang tersebut. “Beras kiriman dari Anam,” jawab istrinya.

Mendapat jawaban semacam itu, Kiai Subhan kemudian memerintahkan agar semua karung beras dikeluarkan. Bahan pangan kelas premium itu dimintanya ditempatkan di tepi jalan raya Kapten Soemardjo. Tidak lama kemudian Anam, anaknya yang jadi tentara, datang. Ia heran saat masuk ruang tamu. Sepuluh karung beras yang baru saja diturunkan dari truk yang dikendarainya tidak dilihatnya. Sebagai anak yang berbakti, Anam ingin memberi makan orang tua dan adik-adiknya di tengah zaman sulit makan tersebut. Tetapi niat baik itu ditolak oleh bapaknya.

Kiai Subhan terhitung hati-hati dengan rezeki yang didapat. Bila dia tidak mendapatkan dari keringatnya sendiri maka dia akan menanyakan asalnya. Bila sedikit saja beliau anggap mengandung hal yang tidak jelas atau subha,  pasti ditolaknya. Termasuk pemberian dari anaknya sendiri sekalipun.

Pada suatu malam di awal tahun 1960-an, Kiai Achyat datang ke rumah Kiai Subhan. Kedatangan yang tidak direncanakan karena kebetulan Kiai Achyat sedang bertandang ke rumah Ibrahim Alamudi, seorang anggota DPRD Kabupaten Mojokerto dari partai NU. Perjumpaan mereka ternyata menjadi pertemuan terakhir.  Sepertinya Sang Khaliq meluluskan keinginan Kiai Subhan. Kiai  Subhan wafat dengan ditunggui Kiai Achyat sendiri.

Malam itu Kiai Achyat memimpin sendiri perawatan jenazah Kiai Subhan. Mulai dari memandikan, mengkafani dan menyalatkan. Kiai Achyat menaruh hormat atas kesahajaan hidup Kiai Subhan. Lahumul Fatihah.

Penulis adalah Ketua KPU Kabupaten Mojokerto dan Sejarawan

BERITA LAINNYA