Saat Dawuh Kiai Achyat Tidak Dijalankan

Oleh Ayyuhanafiq

SEBAGAI 'juru masak', Kiai Achyat Chalimy berupaya membagi peran secara adil kepada para pengurus dan kader Nahdlatul Ulama (NU), baik di internal maupun di wilayah politik dan pemerintahan.

baca: Memilih Menepi dari Jabatan

Orang yang diberi peran oleh Kiai Achyat selalu diberi pesan agar berlaku jujur dan amanah. Bila ada yang tidak sesuai harapan, tidak segan beliau mengingatkan agar kembali menjalankan perannya dengan baik. Bagaimana jika yang diingatkan ternyata tak mau menjalankan alias mbalelo?

Pada waktu pemilu 1955 diumumkan, diketahui Partai NU menjadi pemenang di Mojokerto. Kemenangan itu pun menaikkan jumlah kursi yang didapatkan partai pimpinan Abah Yat ini. Para kader NU selanjutnya ditempatkan sebagai anggota legislatif di Mojokerto, baik di wilayah Kabupaten maupun Kota Mojokerto.

Sebagai ketua partai, Kiai Achyat memiliki otoritas membagi kursi hasil pemilu itu. Tentu banyak orang yang ingin menduduki posisi sebagai wakil rakyat tersebut. Tetapi semua harus melalui restu Kiai Achyat sendiri. Dalam memberi jabatan, Kiai Achyat tidak jarang malah mengesampingkan orang yang dekat dengannya.

Tersebutlah seorang pria warga Kauman Kota Mojokerto. Oleh Kiai Achyat, dia diminta duduk dalam lembaga perwakilan di Kabupaten Mojokerto. Pada suatu hari, sang anggota dewan tersebut dipanggil ke langgar (musala) Mentikan. Langgar yang nantinya menjadi Pesantren Sabilul Muttaqin.

Sang anggota dewan pun segera menghadap Kiai Achyat. Setelah menanyakan tentang situasi dan kondisi kerjanya sebagai legislator, perbincangan kemudian mengarah kepada hal-hal yang lebih pribadi. Menurut pandangan Kiai Achyat, sang legislator dianggap telah melakukan perbuatan yang melanggar etika Partai NU.

Kiai Achyat sengaja memanggil agar sang legislator bisa mengklarifikasi sendiri apa yang telah dilakukannya. Jawaban dari pertanyaan yang disampaikan ternyata tidak cukup menjelaskan atas isu yang menerpanya. Tindakan sang legislator pada akhirnya dinilai bisa memberi efek buruk terhadap NU secara keseluruhan. Karena itu, Kiai Achyat dawuh (menyarankan) agar dia mengundurkan diri secara sukarela.

Atas saran tersebut, sang legislator meminta waktu untuk berpikir. Nantinya, setelah cukup menyiapkan diri maka akan menyerahkan pengunduran dirinya. Kiai Achyat pun menyepakati permintaan tersebut.

Setelah beberapa waktu berjalan, Kiai Achyat menunggu kehadiran sang legislator sesuai janji yang telah diucapkannya. Namun, pria asal Kauman tersebut tak kunjung datang kembali ke Langgar Mentikan. Kiai Achyat pun kembali mengirim utusan untuk menemui sang legislator. Pada utusan itu, sang legislator menyatakan tidak bersedia datang menghadap sekaligus menolak mundur dari jabatannya.

Menerima jawaban seperti itu, Kiai Achyat tidak bereaksi. Sesungguhnya beliau bisa saja menurunkan surat resmi partai untuk mengganti sang legislator dari jabatannya. Tetapi Kiai Achyat mengambil pilihan untuk membiarkan saja penolakan tersebut.

Akhirnya, pada suatu sore sang legislator mendapatkan musibah. Ketika membersihkan tanaman bunga di depan rumahnya, mata sebelah kanannya tertusuk duri bunga mawar. Segera dia dilarikan ke Surabaya untuk mendapatkan pengobatan. Usaha medis diupayakan sedemikian rupa agar matanya segera sembuh.

Namun yang terjadi justru lain. Mata sebelahnya justru ikut-ikutan tidak bisa melihat. Praktis, kedua mata anggota dewan ini tidak berfungsi alias buta. Setelah kejadian itu, sang legislator dengan terpaksa mengundurkan diri. Dia tidak bisa lagi menjalankan fungsi sebagai wakil rakyat.

Demikianlah, Kiai Achyat tidak pernah memberikan hukuman pada kawannya yang dianggap melanggar aturan. Beliau percaya bila nasehat atau saran itu diberikan demi kebaikan bersama. Bila tidak diindahkan tentu akan ada tangan lain yang mengingatkannya.

*)Ketua KPU Kabupaten Mojokerto dan Sejarawan

 

BERITA LAINNYA