Peringatan Maulid Nabi: Antara Syariat dan Tradisi

Oleh: Zainul Arifin 

KATA Maulid terambil dari perpindahan kata walada, yuladu, maulidan, yang arti kata Maulidan adalah kelahiran. Maulid Nabi Muhammad SAW berarti kelahiran Nabi Muhammad SAW. Secara praktis bukan hanya memperingati hari kelahiran Rasulullah, melainkan juga berbagai hal yang berkenaan dengan eksistensi Nabi Muhammad SAW sejak dari peristiwa-peristiwa sebelum maupun saat-saat kelahirannya hingga pengaruhnya dalam peradaban dunia setelah beliau wafat.

Pribadi Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling berpengaruh di dunia hingga sekarang. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berarti peringatan kelahiran Nabi, tentu saja tidak sebatas memperingati kelahiran harinya saja. Makna yang lebih luas adalah kelahiran misinya sebagai rahmatan lil alamin.

Karenanya, pengertian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah untuk mengingat perjuangan nabi dalam mengemban misinya. Mengingat, sejarah perjuangan nabi, mengingat akhlak nabi. Tentu saja agar kita termotivasi untuk mencontohnya bukan?

Terus, bolehkah merayakan Maulid Nabi? Apa hukumnya merayakan atau menghadiri Maulid? Sering kali hal yang di anggap bid'ah oleh sebagian saudara sesama muslim kita menjadi topik hangat, dan bahkan menjadi kontroversi dalam pengambilan hukum. Apa pun itu, sekiranya jangan sampai memecah belah persatuan umat ini.

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah dan rahmat bagi sekalian alam. Nabi Muhammad SAW adalah nikmat terbesar dan anugerah teragung yang Allah berikan kepada alam semesta.

Ketika manusia saat itu berada dalam kegelapan syirik, kufur, dan tidak mengenal Rabb pencipta mereka. Manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa. Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik. Penyembahan terhadap berhala-berhala suatu kehormatan, perzinaan suatu kebanggaan, mabuk dan berjudi adalah kejantanan, dan merampok, serta membunuh adalah suatu keberanian.

Di saat seperti ini rahmat ilahi memancar dari jazirah Arab. Dunia ini melahirkan seorang Rasul yang ditunggu oleh alam semesta untuk menghentikan semua kerusakan ini dan membawanya  cahaya ilahi. Kelahiran makhluk mulia yang ditunggu jagad raya membuat alam tersenyum, gembira dan memancarkan cahaya. 

"Jazakallah ya Rasulallah an ummatika afdhala ma jazallah nabiyyan an ummatih" 

Tidak layak seorang muslim yang berakal bertanya: "Mengapa kalian memperingatinya?". Karena, seolah-olah ia bertanya,"Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi SAW?". Apakah sah bila pertanyaan ini timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah?. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang tidak pantas dan tidak membutuhkan jawaban. 

Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW, mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Ketika acara maulid seperti demikian diadakan adakah alasan masih disebut dengan bid’ah? dan setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti masuk neraka, tidak semuanya benar! 

Maulid Nabi Muhammad SAW telah membudaya bagi umat Islam di Indonesia untuk semua golongan sehingga peringatan ini dilaksanakan sejak dari tingkat komunitas kecil (kelompok pengajian/jamiyyah pengajian) hingga tingkat nasional oleh pemerintah sebagai hari libur nasional. Umat Islam yang benar-benar menyatakan bid’ah dan sama sekali tidak mau memperingatinya hanya bersifat kasus sangat langka dan individual. Sudah barang tentu karena umat Islam terpecah menjadi berbagai kelompok sosial keagamaan. maka dalam mengapresiasi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pun juga bervariatif. 

Apa saja yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang dituntut oleh syara’, berarti hal itu juga dituntut oleh syara’. Berapa banyak manfaat dan anugerah yang diperoleh dengan membacakan salam kepadanya. Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadits nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari at Islam. 
Rasulullah bersabda:?

"Barang siapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun." (HR.Muslim dalam kitab Shahihnya)

Sudah jelas bahwasanya tradisi tradisi ritual memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang baik dan banyak manfaatnya bagi umat. Selain merupakan salah satu pemersatu umat yang dikumpulkan menjadi satu wadah dalam suka cita, juga merupakan sarana berbagi suka cita kepada sesama ikhwanul muslimim. 

Seperti tradisi ”Keresan” yang diadakan di Dusun Mangelo, Desa/Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang sudah turun temurun dari masa generasi para ulama ulama daerah setempat dulu. Para ulama menggagas ide bagaimana caranya agar masyarakat Mengelo bisa berkumpul dalam satu wadah yang disitu mereka bisa saling berbagi kebahaagian kepada ikhwanul muslimin. 

Tradisi Keresen, yaitu merebut berbagai hasil bumi dan pakaian yang digantung pada pohon keres. Tradisi ini dilakukan oleh sejumlah warga di Dusun Mengelo. Berbagai hadiah tersebut melambangkan bahwa semua pohon di muka bumi sedang berbuah menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi Keresan ini digelar setiap tahun untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pohon Keres berbuah lebat oleh aneka hasil bumi sebagai simbol kelahiran Muhammad membawa berkah bagi umat Islam di seluruh dunia. Tradisi keresen juga dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas lahirnya Nabi Muhammad yang memberikan petunjuk ke jalan yang benar, yakni ajaran Islam.

Melihat rentetan seremoni perayaan Maulid Nabi yang unik dan beragam di setiap wilayah di dunia, tentu tidak salah jika ada orang yang menilai bahwa peringatan Maulid Nabi lebih cenderung pada tradisi masyarakat muslim jika dibandingkan dengan substansi keagamaan yang ingin dicapai.  Sehingga sangat mungkin jika dikatakan bahwa perayaan maulid dengan konsep acara seperti itu sangat minim dengan pengamalan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang seharusnya menjadi prioritas utama bagi setiap umat dalam mengarungi aktivitas hidup dan kehidupannya.

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Banyak pihak menilai peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad, namun di pihak lain menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi tidak harus dilakukan, bahkan tidak jarang menimbulkan kontroversi yang tak berujung.

Dalam realita yang sesungguhnya, jika kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah dari kehidupan Rasulullah, maka tidak akan dijumpai ada satu riwayat pun yang menyebutkan, bahwa beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para sahabat beliau pun tidak pernah mengadakan ihtifal (perayaan) secara khusus setiap tahun untuk mengekspresikan kegembiraan atas hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ritual perayaan Maulid Nabi juga tidak pernah ada pada generasi tabiin atau pun setelahnya.

Dengan demikian secara khusus, Rasulullah memang tidak pernah memerintahkan hal tersebut. Oleh karena tidak adanya anjuran dari beliau, maka secara spesial pula Maulid Nabi bisa dikatakan hal yang tidak disyariatkan. Apalagi mayoritas masyarakat saat ini memandang perayaan Maulid Nabi termasuk ibadah formal. Di mana hukum asal ibadah yang berlaku bahwa segala sesuatu asalnya haram, kecuali bila ada dalil yang secara langsung memerintahkannya secara eksplisit.

Semua orang tentu meyakini bahwa orang yang paling mencintai Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam adalah keluarga beliau dan para sahabatnya. Abu Bakar, Umar, Utsman atau pun Ali bin Abi Thalib tidak pernah merayakan Maulid Nabi. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan para ulama pelopor Islam lainnya, tidak tercatat dalam sejarah bahwa mereka pernah merayakan maulid. Apakah kita mau mengatakan bahwa orang-orang yang berpegang teguh di atas sunah beliau tersebut tidak mencintai Nabi karena tidak merayakan maulid? 

Sementara kita menggembar-gemborkan slogan Cinta Rasul, tapi hanya sebatas mampu mendandani telur warna-warni kemudian memperebutkan dalam sebuah selebrasi maulid. Sejatinya, cinta kepada Nabi Muhammad adalah dengan berpegang teguh di atas sunahnya, mengikuti segala sesuatu yang datang darinya dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan sunahnya. 

Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran: ”Dan apa pun yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasy: 7). Mudah-mudahan  kita semua mndapatkann syafaat dr beliau. Amin 
Allahua’lam bisshawaab.

*)Penulis adalah Anggota JHQ Mojokerto

 

BERITA LAINNYA